MDGs Indonesia Menuju Masyarakat Sehat Sejahtera

Posted on Updated on

Masyarakat merupakan aset bagi suatu negara. Sebuah negara akan kuat dan maju bila dihuni dan didukung oleh masyarakat yang sehat dan produktif. Status kesehatan masyarakat sangat menentukan kemajuan dan perkembangan bangsa dan negara apapun itu tanpa ada tawar menawar. Kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan dalam membangun unsur manusia agar memiliki kualitas seperti yang diharapkan, mampu bersaing diera globalisasi ini yang penuh dengan tantangan saat ini maupun masa yang akan datang.
Menurut Menteri Kesehatan dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH Kesehatan merupakan unsur dominan dalam Millenium Development Goals(MDGs) dan Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani persetujuan tersebut harus konsisten tetap mencapai tujuan dari MDGs tersebut. Adapun Kesehatan menjadi dominan disebabkan karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan. Adapun kelima agenda tersebut adalah:
1. Agenda ke – 1 memberantas kemiskinan dan kelaparan.
2. Agenda ke – 4 menurunkan angka kematian anak.
3. Agenda ke – 5 meningkatkan kesehatan ibu
4. Agenda ke – 6 memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lainnya.
5. Agenda ke – 7 melestarikan lingkungan hidup
Sejalan dengan bergulirnya gerakan pencapaian tujuan MDGs tersebut ada berbagai strategi yang dijalankan oleh kementrian kesehatan dan sehubungan dengan pelaksanaan Agenda ke – 4 dan ke – 5 maka pada tahun 2011 mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) yaitu pemberian jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapatkan jaminan kesehatn untuk persalianan. Jaminan pelayanan yang diberikan mencakup: pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan KB, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

LIMA STRATEGI OPERASIONAL TURUNKAN AKI
Kebijakan dan strategi pembangunan kesehatn dalam rangka penurunan AKI yang saat ini sedang dijalankan oleh kementrian kesehatan adalah: strategi untuk ” penguatan puskesmas dan jaringannya, penguatan manajemen program dan sistem rujukannya, meningkatkan peran serta masyarakat, kerjasama dan kemitraan, kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011 dan penelitian dan pengenbangan inovasi yang terkoordinir.

Untuk mendukung pelaksanaan lima strategi yang telah dicanangkan oleh kementrian kesehatan ini maka kita sebagai institusi yang terkait langsung dalam hal ini Bidan maupun institusi pendidikan yang akan melahirkan para Bidan yang di harapkan berperan langsung tersebut harus dengan sungguh sungguh menjunjung tinggi tugas dan tanggung jawab tersebut dengan meletakkan landasan yang ikhlas dalam setiap tindakan.
Bagi para mahasiswa Kesehatan, perawat, bidan, dan dokter yang sedang menuntut ilmu dan sedang berjuang untuk menjadi profesional maka langkah sebaik-baiknya adalah dengan selalu berpegang teguh terhadap Niatan Hati yang baik dan positif agar dapat menjadi tenaga profesional pelaksana pelayanan kesehatan .
Bagi institusi pendidikan yang terkait dengan tenaga profesional pelaksana pelayanan kesehatan untuk mendukung pelaksanaan MDGs tersebut maka sudah menjadi tugas dan selayaknya dalam mengelola pendidikan hendaknya dapat memberikan pengalaman nyata dan sebaik-baiknya dengan pendekatan edukasi yang menerapkan praktek langsung…khususnya dibidang kemasyarakatan karena ujung dari pelayanan kesehatan tersebut muaranya adalah masyarakat itu sendiri.

Penatalaksanaan Hemodialisa

Gambar Posted on Updated on

Penatalaksanaan Hemodilisa
Fungsi utama dari ginjal adalah sebagai organ pembersih hemodialisadarah. Darah yang mengalir ke ginjal mengangkut bahan-bahan buangan/limbah hasil dari pembakaran dalam tubuh. Bahan ini dikeluarkan dari ginjal melalui proses filtrasi/penyaringan. Ginjal yang sehat akan mempunyai daya filtrasi 120 cc/menit.

Beberapa jenis penyakit dapat menurunkan fungsi ginjal, baik yang bersifat sementara maupun tetap. Penurunan fungsi ginjal hanya dapat ditolerir oleh tubuh sampai batas tertentu. Bila mana fungsi ginjal telah menurun sedemikian buruknya, maka disebut Gagal Ginjal Terminal (GGT).Gambaran proses bayi kuning

Apa yang akan terjadi jika fungsi ginjal telah mengalami gangguan? Kegagalan fungsi pembersihan akan mengakibatkan menumpuknya bahan-bahan buangan di dalam tubuh. Bahan ini sebagian besar berupa sampah nitrogen yang disebut toksin uremik. Menumpuknya toksin uremik mengakibatkan gejala keracunan yang disebut uremia. Gejala uremia ditandai dengan dengan mual, muntah, nafsu makan menurun, cegukan, gatal, lemas, gerakan tanpa disadari pada tungkai dan lengan serta bau nafas yang khas. Pada kasus-kasus yang berat dapat terjadi koma/penurunan kesadaran.

Menumpuknya air dalam tubuh akibat kegagalan dalam mengeluarkan cairan dari badan akan menyebabkan bengkak (edema) di seluruh badan, sesak nafas, tekanan darah tinggi dan gangguan fungsi jantung. Kondisi ini tidak bisa lagi diatasi dengan obat-obatan melainkan harus sudah menjalani cuci darah (hemodialisa) secara teratur atau menjalani tranplantasi ginjal/cangkok ginjal.

Cuci darah adalah proses pemisahan darah dari unsur-unsur yang tidak normal (racun) di dalam darah akibat terganggunya fungsi ginjal. Prinsip daripada cuci darah adalah penyeimbangan komposisi darah sehingga menjadi normal.

Hemodialisa mulai dilakukan bila kondisi yang disebabkan oleh tidak berfungsinya ginjal telah berada pada tingkat yang mengancam jiwa. Ancaman tersebut dapat berupa kelebihan air (edema) yang tidak bisa dikeluarkan tubuh oleh karena fungsi ginjal rusak. Sebagai akibatnya fungsi jantung dan paru akan menjadi terganggu. Tertimbunnya toksin/racun akan dapat mengganggu fungsi semua organ tubuh terutama otak. Sebagai akibatnya penderita mengalami mual-mual, muntah, koma dan kejang-kejang.
Beberapa parameter laboratorik yang sering digunakan sebagai patokan untuk dilakukan hemodialisa adalah kadar ureum >= 20 mg/dl atau kadar kreatinin >= 8 mg/dl atau kalium >7 meq/l yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Pada penderita gagal ginjal akibat penyakit kencing manis sebaiknya hemodialisa dilakukan lebih dini.

Pertanyaan yang seringkali muncul adalah berapa kali dan berapa lama saya sebaiknya menjalani hemodialisa? Pada prinsipnya, ginjal adalah bekerja terus menerus selama 24 jam sehingga semakin sering hemodialisa dilakukan pada dasarnya semakin baik. Namun, teknik hemodialisa membatasi orang untuk menjalani hemodialisa sepanjang hari. Pada GGT umumnya menjalani hemodialisa sebanyak 2-3 kali seminggu.

Diet
Diet pada gagal ginjal berguna untuk mengurangi gejala uremia, mencegah kurang gizi, dan menghambat pemburukan fungsi ginjal. Konsumsi protein harus dikurangi sekitar 2/3 dari normal, yakni 0,55 – 0,69 g/kgbb/hari, oleh karena pemecahan protein akan membebani ginjal. Protein lebih diutamakan adalah yang bersumbaer dari protein hewani.
Kebutuhan cairan (minum) disesuaikan dengan banyaknya air badan yang keluar. Secara praktis, jumlah cairan yang diminum (selama 24 jam) = jumlah air kencing (selama 24 jam) + 500 cc.

Penderita yang menjalani hemodialisa, umumnya dapat makan dengan bebas. Bila hemodialisa dilakukan dengan adekuat, akan menjamin nafsu makan yang optimal dari penderita, dan bebas dari rasa mual. Bila penderita tidak bisa buang air kencing atau buang air kencing sedikit sekali, minum penderita harus dibatasi. Penderita dianjurkan untuk tidak minum lebih dari 1 liter sehari.

Bila hemodialisa dilakukan dengan tidak adekuat (frekuensi hemodialisa kurang dari yang dianjurkan), penderita hendaknya mengatur makanannya dengan mengurangi protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe. Hendakya lebih mengutamakan protein hewani seperti daging, telur, susu. Makanan yang banyak mengandung kalium seperti pisang ambon atau air kelapa muda sedapat mungkin dihindari. Kadar Kalium yang tinggi dalam darah akan membahayakan jantung.

Keluhan menjalani hemodialisa
Seringkali penderita yang menjalani hemodialisa mengeluhkan rasa gatal. Sekitar 85% penderita mengeluh rasa gatal ringan sampai berat. Rasa gatal tersebut bisa disebabkan oleh penyakit ginjal itu sendiri, dapat pula oleh karena proses hemodialisa. Menumpuknya bahan buangan seperti nitrogen/mineral tertentu di kulit diyakini sebagai penyebab rasa gatal. Reaksi alergi terhadap benda asing selama proses hemodialisa dapat pula mengakibatkan rasa gatal.

Dengan cara berjemur di bawah sinar matahari pagi yang kaya akan sinar ultra violet dapat menurunkan keluhan rasa gatal. Untuk yang keluhan yang parah dapat dibantu dengan obat golongan anti histamin.

oleh :Sehat Cantik dan Bugar

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

Posted on Updated on

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

PENDAHULUAN
Istilah epidemiologi pada penyakit tidak menular(PTM) mempunyai kesamaan arti dengan:
1. Penyakit Kronik
Penyakit kronik dapat dipakai untuk PTM karena kelangsungan PTM biasanya bersifat kronik/menahun/lama namun ada juga yang sifatnya berlangsung mendandak/akut misalnya keracunan masyarakat jadi disebutkan Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :
* Akut
* Kronis
2. Penyaki Non Infeksi
Sebutan penyakit non infeksi dipakai karena penyebabnya PTM biasanya bukan mikro-organisme, namun bukan berarti tidak ada peranan mikro-organisme dalam terjadinya PTM, untuk itu dapat dilihat. Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
* Menular
* Tidak Menular
3. New Communicable Disease
Hal ini disebabkan PTM dianggap dapat menularka, yaitu melalui gaya hidup (life style). Gaya hidup dalam dunia moderen dapat menular dengan caranya sendiri, Gaya hidup di dalamnya dapat menyangkut pola makan, kehidupan sosial, kehidupan seksual dan komunikasi global
4. Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya.
* Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
* Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
5. Penyakit Degeneratif
Disebut juga sebagai penyakit degeneratif karena kejadiannya berkaitan dengan proses degenerasi/ketuaan sehingga PTM banyak ditemukan pada usia lanjut
6. Kepentingan :
* Penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat kronis sebagai penyebab kematian mulai menggeser kedudukan dari penyakit-penyakit infeksi
* Penyakit tidak menular mulai meningkat bersama dengan life-span (pola hidup) pada masyarakat.
* Life – span meningkat karena adanya perubahan-perubahan didalam : kondisi sosial ekonomi, kondisi hygiene sanitasi, meningkatnya ilmu pengetahuan, perubahan perilaku

PENYAKIT – PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
1. Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
* Ischaemic Heart Disease
* Cancer
* Cerebrovasculer Disease
* Chronic Obstructive Pulmonary
Disease
* Cirrhosis Hepatis
* Diabetes Melitus
2. Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah kesehatan tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu :
* Osteoporosis
* Penyakit Ginjal kronis
* Mental retardasi
* Epilepsi
* Lupus Erithematosus
* Collitis ulcerative
3. Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
* Defisiensi nutrisi
* Akloholisme
* Ketagihan obat
* Penyakit-penyakit mental
* Penyakit yang berhubungan
dengan lingkungan pekerjaan.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis belum ditemukan secara keseluruhan,
* Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
* Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
* Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti belum diketahui

2. Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan penyakit tidak menular yang bersifat kronis antara lain :
* Tembakau
* Alkohol
* Kolesterol
* Hipertensi
* Diet
* Obesitas
* Aktivitas
* Stress
* Pekerjaan
* Lingkungan masyarakat sekitar
* life style
* Sexual Behavior
* Obat-obatan

KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR
Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
1. Agent
a. Agent dapat berupa (non living agent) :
1) Kimiawi
2) Fisik
3) Mekanik
4) Psikis
b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui spesifikasi dari agent tersebut
d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda (dinyatakan dalam skala pathogenitas)
Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host
e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
2) Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
3) Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif

2. Reservoir
a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.

3. Relasi Agent – Host
a. Fase Kontak
Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
1) Lamanya kontak
2) Dosis
3) Patogenitas
b. Fase Akumulasi pada jaringan
Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus
c. Fase Subklinis
Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
1) Jaringan yang terkena
2) Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
3) Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)
d. Fase Klinis
Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala dan tanda).

4. Karakteristik penyakit tidak menular :
a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.

5. Rute dari keterpaparan
Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

KEGUNAAN IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO
Dengan mengetahui faktor resiko dalam terjadinya penyakit maka dapat digunakan untuk:
1. Prediksi
untuk meramalkan kejadian penyakit misalnya perokok berat mempunyai resiko 10 kali lebih besar untuk terserang Ca Paru dari pada bukan perokok
2. Penyebab
Kejelasan dan beratnya suatu faktor resiko dapat ditetapkan sebagai penyebab suatu penyakit dengan syarat telah menghapuskan faktor-faktor pengganggu (Confounding Factors)
3. Diagnosos
Dapat membantu dalam menegagkan diagnosa
4. Prevensi
Jika suatu faktor resiko merupakan penyebab suatu penyakit tertentu, maka dapat diambil tindakan untuk pencegahan terjadinya penyakit tersebut.

USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
1. Usaha Preventif Primer
2. Usaha Preventif Sekunder
3. Usaha Preventif Tertier

PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)
Epidemiologi berusaha untuk mempelajari distribusi dan faktor-fotor yang mempengaruhi terjadinya PTM dalam masyarakat. Untuk itu diperlukan pendekatan metodologik, yaitu dengan melakukan berbagai penelitian.
Sebagaimana umumnya penelitian epidemiologi untuk PTM dikenal juga adanya penelitian observasional dan eksperimental. Hanya saja karena berlangsung lama, maka umumnya penelitian PTM merupakan penelitian observasional dengan jenis :
A. Penelitian Cross-Sectional
B. Penelitian Kasus Kontrol
C. Penelitian Kohort

PERHITUNGAN FREKUENSI PTM

Secara umum, dikenal 3 macam perhitungan frekuensi penyakit , yaitu:
1. Ratio
rumus jumlah orang sakit
—————–
jumlah orang sehat
2. Rate
rumus jlh org sakit ttt pd waktu ttt
—————————-
jlh pndd beresiko pd waktu tt
3. Proporsi
rumus jlh penderita penyakit ttt (X)
—————————
jlh pend peny tsb(X) + jlh
semua penderita (y)

Oleh: ElviZ@Sehati

lihat sehubungan dengan Artikel pada

Bayi Yang Me-Kuning (Ikterus Pada Bayi)

Posted on Updated on

Kondisi kuning pada bayi baru lahir, bisa mengenai mata, wajah atau bahkan sekujur tubuh. Hal ini dikenal dengan istilah bayi kuning atau ikterus neunatorum

Ikterus: (jaundice) adalah warna kekuningan pada kulit dan selaput mata.
Neonatorum: adalah bayi baru lahir.

Pada hari-hari pertama kerhidupannya , tidak sedikit bayi mengalami kuning (ikterus). Menurut penelitian , sekitar 70% bayi lahir mengalami kuning.

Anda mungkin pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri seorang bayi baru lahir berwarna kuning di sekujur kulit dan selaput matanya. Warna kuning dapat terlihat beberapa jam hingga beberapa hari setelah lahir. Kemunculannya tak jarang mengundang tanya, mengapa kulit si bayi berwarna kekuningan sementara bayi yang lain tidak? Apa penyebabnya ? Adakah yang salah ? Dan mungkin berbagai pertanyaan mengiringi kemunculan warna kuning pada kulit bayi baru lahir.

PENGERTIAN
Ikterus neonatorum (bayi baru lahir berwarna kuning) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karena adanya bilirubin (pigmen empedu) pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia).

ANGKA KEJADIAN
Warna kekuningan pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis).
Bayi berwarna kekuningan yang alamiah (fisiologis) atau bukan karena penyakit tertentu dapat terjadi pada 25% hingga 50% bayi baru lahir cukup bulan (masa kehamilan yang cukup), dan persentasenya lebih tinggi pada bayi prematur.Gambaran proses bayi kuning

Disebut alamiah (fisiologis) jika warna kekuningan muncul pada hari kedua atau keempat setelah kelahiran, dan berangsur menghilang (paling lama) setelah 10 hingga 14 hari.Ini terjadi karena fungsi hati belum sempurna (matang) dalam memproses sel darah merah.
Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah tidak melebihi batas yang membahayakan (ditetapkan).

PARAMATER
Ada beberapa batasan warna kekuningan pada bayi baru lahir untuk menilai proses alamiah (fisiologis), maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit (patologis), agar kita lebih mudah mengenalinya.

Secara garis besar, batasan kekuningan bayi baru kahir karena proses alamiah (fisiologis) adalah sebagai berikut:

Warna kekuningan nampak pada hari kedua sampai hari keempat.
Secara kasat mata, bayi nampak sehat
Warna kuning berangsur hilang setelah 10-14 hari.
Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah kurang dari 12 mg%.

Adapun warna kekuningan pada bayi baru lahir yang menggambarkan suatu penyakit (patologis), antara lain:

Warna kekuningan nampak pada bayi sebelum umur 36 jam.
Warna kekuningan cepat menyebar kesekujur tubuh bayi.
Warna kekuningan lebih lama menghilang, biasanya lebih dari 2 minggu.
Adakalanya disertai dengan kulit memucat (anemia).
Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah lebih dari 12 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada bayi prematur.

Jika ada tanda-tanda seperti di atas (patologis), bayi kurang aktif, misalnya kurang menyusu, maka sebaiknya segera periksa ke dokter terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Disamping itu, beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi, antara lain:

Infeksi yang berat.
Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase(G 6 PD).
Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin
Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan).

APA PENYEBAB BAYI KUNING?
Pada saat di dalam rahim, bayi membutuhkan ekstra sel darah merah yang diproses oleh hati. Tetapi hati bayi baru lahir biasanya belum mencapai maturasi, sehingga kapasitas pengolahannya belum efisien. karena, terjadinya peningkatan kadar bilirubin, sehingga bayi tampak kuning

Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana warna kekuningan dapat terjadi, baik pada proses alamiah (fisiologis) maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit?
Pada dasarnya warna kekuningan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:
Proses pemecahan sel darah merah (eritrosit) yang berlebihan.
Gangguan proses transportasi pigmen empedu (bilirubin).
Gangguan proses penggabungan (konjugasi) pigmen empedu (bilirubin) dengan protein.
Gangguan proses pengeluaran pigmen empedu (bilirubin) bersama air.

Gangguan pada proses di atas (dan proses lain yang lebih rumit) menyebabkan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah meningkat, akibatnya kulit bayi nampak kekuningan.

PENGOBATAN
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan karena proses alami (fisiologis), tidak berbahaya dan tidak diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.
Cara lain adalah upaya mencegah peningkatan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah. Hal ini dapat dilakukan dengan:

Meningkatkan kemampuan kinerja enzim yang terlibat dalam pengolahan pigmen empedu (bilirubin).
Mengupayakan perubahan pigmen empedu (bilirubin) tidak larut dalam air menjadi larut dalam air, agar memudahkan proses pengeluaran (ekskresi), dengan cara pengobatan sinar (foto terapi).
Membuang pigmen empedu (bilirubin) dengan cara transfusi tukar.
Perlu diketahui, Jika anda memberikan ASI ekslusif, maka kuning pada bayi akan berlangsung lebih lama. Meski demikian ibu tidak perlu cemas dan tetap meneruskan pemberian ASI pada bayi:

Ada beberapa Tip yang harus menjadi pusat perhatian ibu yang baru memeiliki bayi dalam menghindari bayi kuning yaitu:
1. Patuhi jadwal untuk berkunjung ke dokter atau bidan. Bila kadar bilirubin tidk terlalu tinggi (<10mg%), umumnya bayi diperkenankan untuk pulang kerumah. Bila 3 hari setelah kepulangan kerumah, bayi diminta kembali ke dokter atau rumah bersalin untuk kontrol kadar bilirubin. Maksudnya bila terjadi peningkatan bilirubin yang tinggi dapat segera dilakukan tindakan.
2. Cermati kondisi bayi. Jika ada tanda-tanda bayi tidak aktif seperti tidur terus dan malas menyusu segeralah kerumah sakit. Hal ini dapat dijadikan indikator bahwa telah terjadi peningkatan kadar bilirubin yang beresiko memicu kejang pada bayi. Cara lainnya yang termudah untuk mengamati peningkatan bilirubin adalah melalui bola mata dan kulit bayi yang terlihat kuning
3. Berikan ASI sebanyak mungkin. Banyak minum ASI dapat membantu menurunkan kadar bilirubin, karena bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine dan kotoran bayi
4. Jemur bayi di matahari pagi. Menjemur bayi tanpa busana dibawah sinar matahari pagi antara pukul 07.30 – 08.30 dapat membantu memecahkan bilirubin dalam darah. Lindungi mata bayi dari sorotan sinar matahari secara langsung.

ANJURAN
Apapun jenisya, jika pembaca mendapati bayi kuning, sebaiknya konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak.
Meski disebutkan bahwa bayi kuning sebagian besar diantaranya karena proses alami (fisiologis) dan tidak perlu pengobatan, seyogyanya para orang tua tetap waspada, mengingat bayi masih dalam proses tumbuh kembang. Karenanya, konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak adalah langkah bijaksana.

DETEKSI DINI KANKER PAYU DARA

Sampingan Posted on Updated on

Kanker payudara saat ini menduduki peringkat kedua terbanyak pada wanita setelah kanker leher rahim. Namun, diproyeksikan bahwa kanker payudara ini akan menempati tempat teratas di masa mendatang jika tidak segera dilakukan langkah-langkah antisipasi.
Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor diduga sebagai penyebabnya seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak hewani, virus, serta pemakaian hormon estrogen dosis tinggi. Namun yang jelas, setiap wanita memiliki gen yang bisa mempengaruhi atau membawa penyakit ini (genetic susceptibility). Kalau gen ini terangsang, maka bisa bermutasi dan menyimpang, kemudian jadilah kanker.
Siapa yang beresiko terkena kanker payudara?
Bila dulu kanker payudara hanya dialami ibu-ibu usia diatas 40 tahun, maka kini telah terjadi pergeseran. Dari hasil penelitian, wanita berusia dibawah 40 tahun pun dikatakan mulai beresiko terkena. Selain itu yang mempunyai resiko tinggi adalah yang mempunyai riwayat keluarga penderita kanker payudara. Wanita yang tidak mempunyai anak atau yang mepunyai anak pertama setelah berusia diatas 40 tahun potensial untuk menderita kanker payudara. Ibu-ibu yang tidak menyusui anaknya atau yang masa menyusuinya sangat singkat rentan terhadap kanker ini.

Bagaimana tanda-tanda kanker payudara?
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti benjolan yang tidak terasa sakit di payudara. Puting susu yang berdarah atau pengeluaran cairan yang tidak wajar. Kulit payudara berubah menjadi bengkak, berkerut seperti kulit jeruk.

Deteksi dini
Termografi payudara, adalah metode deteksi kanker payudara yang sudah ada sejak sekitar 1960-an, menggunakan scanner pemantau panas untuk mendeteksi variasi panas badan dijaringan payudara. Namun, scanner infra merah di tahun-tahun tersebut kurang begitu sensitif. Hari ini, termografi payudara yang lebih modern telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan sebelumnya.

Kanker payudara merupakan kanker paling ganas kedua bagi kaum wanita di Amerika Serikat. Berdasarkan laporan terbaru Cancer.org , Data Kanker Payudara 2007-2008, di tahun 2007 telah ada 178.000 kasus kanker payudara baru dan lebih dari 40.000 wanita meninggal oleh karenanya.

Tapi yang perlu diwaspadai adalah pria tidaklah kebal terhadap kanker payudara. Telah didapati lebih dari 2.000 pria terdiagnosa kanker payudara di tahun 2007 dan kira-kira 450 pria meninggal dunia karenanya. Oleh karena deteksi kanker payudara bagi pria hampir tidak pernah dilakukan, sepertinya ini membuat pria terdiagnosa dengan stadium yang lebih berat dan dengan demikian tingkat selamatnya kecil.

Sungguh disayangkan, dalam hal ini medis konvensional tetap saja memakai metode lama dalam mendeteksi dan merawat kanker, tidak peduli betapa kurang efektifnya metode tersebut.
Skrining termografi sangatlah sederhana. Ia mengukur panas radiasi infra merah dari tubuh Anda dan menerjemahkan informasi ini ke dalam bentuk gambar. Sirkulasi darah Anda yang normal berada dalam kendali sistem syaraf autonomik yang mengatur fungsi tubuh Anda.

Termografi tidak memakai peralatan mekanik yang menekan atau radiasi ionisasi, dan dapat mendeteksi tanda-tanda kanker payudara sebelum ia berkembang 10 tahun lebih awal dibandingkan mammografi atau pemeriksaan fisik!
Ia bahkan bisa mendeteksi potensi adanya kanker sebelum satu pun tumor terbentuk karena ia dapat menggambarkan tahapan awal angiogenesis, yaitu formasi suatu penyaluran langsung darah ke sel kanker, yang merupakan langkah penting sebelum formasi tersebut berkembang tumbuh menjadi seukuran tumor.

Banyak pria akan diselamatkan nyawanya dengan metode ini karena mamografi tidak secara teratur diterapkan atas pria.

Faktor Resiko Lainnya yang Biasanya Diabaikan dan Bagaimana Anda Menghindarinya

Kepadatan payudara dan tingkat sirkulasi hormon seks yang tinggi adalah dua faktor resiko kanker payudara yang umum ditemukan pada wanita dalam tahap pasca menopause. Suatu penelitian di tahun 2007 yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute mengkonfirmasikan bahwa walaupun kedua faktor tersebut biasanya muncul bersamaan, mereka juga faktor resiko yang independen.

Para peneliti menemukan bahwa (sesudah mengendalikan faktor lainnya) ketika kepadatan payudara tidak diperhitungkan, para wanita dengan jumlah sirkulasi hormon seks yang tinggi, memiliki resiko berkembangnya kanker payudara dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang sirkulasi hormon seksnya rendah. Dan para wanita yang memiliki kepadatan payudara seperempat lebih tinggi, memiliki resiko empat kali lebih besar dibandingkan yang rendah, tanpa memperhitungkan tingkat hormon seks.

Para wanita dengan kedua faktor yaitu hormon seks yang tinggi dan payudara yang paling padat memiliki resiko enam kali lebih besar terkena kanker payudara.

Para pengemuka dalam penelitian ini menekankan akan pentingnya skrining dan mungkin, yang terpenting adalah mempertahankan berat badan seimbang untuk menjaga tingkat hormon tetap baik. American Cancer Society mengakui bahwa obesitas sangat berpengaruh terhadap beberapa kematian akibat kanker.

Untuk saat ini deteksi dini kanker payudara yang banyak digunakan adalah dengan mammografi. Mammografi adalah pemeriksaan radiodiagnostik khusus dengan mempergunakan tehnik foto jaringan lunak pada payudara karena memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi yaitu sekitar 80-90%.
Rekomendasi dari American Cancer Society bahwa wanita umur 20 tahun keatas harus sudah melakukan


SADARI (pemeriksaan payudara oleh wanita itu sendiri) secara teratur dan benar. Meski penggunaan SADARI dalam program deteksi dini masih belum efektif, namun cara ini murah, aman, sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit serta dapat diulang. Dari pemeriksaan tersebut harus diwaspadai bila ditemukan benjolan di payudara. Sebaiknya SADARI dilakukan secara rutin sebulan sekali seminggu setelah menstruasi. Toh pemeriksaan ini paling banyak menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Dengan SADARI yang rutin diharapkan kelainan segera ditemukan oleh bersangkutan. Segera periksakan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan kelainan.

SADARI
Berikut langkah-langkah untuk melakukan Sadari.

Langkah 1.
Berdiri bertelanjang dada di depan cermin. Mula-mula berdiri tegak dengan kedua lengan santai disamping badan. Perhatikan perubahan bentuk dan besarnya payudara, puting susu serta kulit payudara. Kulit payudara yang berubah bentuk menjadi bengkak, berkerut serta ada lekukan seperti kulit jeruk ataupun puting susu yang tertarik ke dalam payudara merupakan tanda dari kanker. Setelah itu ganti posisi berturut-turut posisi bertolak pinggang dengan kedua tangan ditekan kuat diatas pinggul, posisi dengan mengangkat tangan lurus ke atas kepala dan posisi membungkukkan badan. Lakukan hal yang sama seperti diatas.

Langkah 2.
Dengan posisi berbaring terlentang, letakkan bantal kecil dibawah bahu kanan. Letakkan lengan kanan atas disamping kepala. Gunakan tangan kiri untuk melakukan perabaan payudara sebelah kanan. Dengan meratakan jari-jari, mula-mula periksa lipatan lengan. Kemudian mulai dari batas luar payudara rasakan seluruh payudara dengan lingkaran-lingkaran kecil. Diibaratkan payudara sebagai permukaan jam dinding, lakukan perabaan secara melingkar jam demi jam searah dengan jarum jam sampai berakhir pada puting susu. Kurang lebih diperlukan 8-10 putaran untuk mendapatkan perabaan yang lengkap. Saat perabaan perhatikan benjolan atau penebalan. Umumnya benjolan kanker payudara tidak terasa sakit.

Langkah 3.
Setelah melakukan perabaan perlahan-lahan puting susu diperas dan perhatikan apakah ada darah atau cairan yang keluar. Puting susu yang berdarah atau mengeluarkan cairan yang tidak wajar kemungkinan karena kanker. Ulangi hal yang sama untuk payudara sebelah kiri.
Bila terdapat satu tanda seperti diterangkan diatas, segera periksa ke dokter. Jangan panik, sebagian besar benjolan di payudara adalah bukan kanker. Umumnya benjolan bersifat jinak seperti lipoma, fibro adenoma mamma. Tetapi bila ternyata kanker, temukan sedini mungkin dan dengan mengobati seawal mungkin maka kemungkinan besar bisa sembuh totaL
Dikutif dari Info Kesehatan http://infosehatbugar.blogspot.com

PENATALAKSANAAN PENYAKIT DBD

Posted on Updated on

1. Penatalaksanaan Demam Berdarah (DBD) Pada Beberapa Derajat
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan yang terjadi. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan baik, diperlukan dokter dan perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Diagnosis dini dan memberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal yang penting untuk mengurangi angka kematian. Di pihak lain, perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong. Kunci keberhasilan tatalaksana DBD/SSD terletak pada ketrampilan para dokter untuk dapat mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase kritis, fase syok) dengan baik.

A. Demam Dengue (DD)

Pasien DD dapat berobat jalan dan tidak perlu dirawat. Pada fase demam pasien dianjurkan :
1. Tirah baring, selama masih demam.
2. Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan. Untuk menurunkan suhu menjadi 38,5oC.
3. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-manarus, sebaiknya berikan infus NaCl 0,9 % : Dekstrosa 5 % (1:3). Pasang tetesan rumatan sesuai dengan berat badan.
4. Periksa Hb, Ht dan trombosit tiap 6-12 jam. Apabila telah terjadi perbaikan klinis dan laboratoris, pasien dapat dipulangkan, namun bila kadar Ht meningkat dan trombosit cendrung menurun maka infus cairan ditukar dengan Ringer Laktat (RL) dan lanjutkan dengan penetalaksanaan DBD Derajat II dengan peningkatan hemokonsentrasi > 20%.
makalah demam berdarah

b. DBD Derajat II dengan Peningkatan Hemokonsentrasi > 20% :
1. Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid Ringer Laktat/Ringer Asetat/NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5% dalam RL/NaCl 0,9% 6-7ml/KgBB/jam. Monitor tanda vital, kadar Ht dan trombosit tiap 6 jam.
2. Apabila selama observasi keadaan umum membaik, tekanan darah dan nadi stabil, diuresis cukup, Ht cendrung menurun minimal dalam 2X pemeriksaan berturut-turut maka tetesan dukurangi mejadi 5ml/KgBB/jam. Bila dalam observasi selanjutnya tetap stabil kurangi tetesan menjadi 3ml/KgBB/jam, kemudian evaluasi 12-24 jam bila stabil dalam 24-48 jam cairan dihentikan.
3. Sepertiga kasus jatuh dalam keadaan syok, bila keadaan klinis tidak ada perbaikan, gelisah, nafas dan nadi cepat, diuresis kurang dan Ht meningkat maka naikkan tetes menjadi 10ml/kgBB/jam. Bila dalam 12 jam belum ada perbaikan klinis naikkan menjadi 15ml/KgBB/jam dan evaluasi 12jam lagi. Apabila nafas lebih cepat, Ht naik dan tekanan nadi 20mmHg, nadi kuat, kurangi tetesan jadi 10ml/KgBB/jam. Pertahankan sampai 24 jam atau klinis membaik dan Ht turun 1ml/KgBB/jam dan pemeriksaan Ht dan trombosit 4-6 jam sampai keadaan membaik.

* Bila syok belum teratasi dan Ht belum turun (Ht>40%), berikan darah dalam volume kecil 10ml/KgBB. Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah segar 20ml/KgBB dan lanjutkan cairan kristaloid 10ml/KgBB/jam.

Kreteria Memulangkan Pasien Pasien, dapat dipulang apabila memenuhi semua keadaan dibawah ini :

* Tampak perbaikan secara klinis
* Tidak demam selaina 24 jam tanpa antipiretik
* Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis)
* Hematokrit stabil
* Jumlah trombosit cenderung naik > 50.000/pl
* Tiga hari setelah syok teratasi
* Nafsu makan membaik

2. PROGNOSIS DBD
Prognosis DBD berdasarkan kesuksesan dalam tetapi dan penetalaksanaan yang dilakukan. Terapi yang tepat dan cepat akan memberikan hasil yang optimal. Penatalaksanaan yang terlambat akan menyebabkan komplikasi dan penatalaksanaan yang tidak tapat dan adekuat akan memperburuk keadaan.

Kematian karena demam dengue hampir tidak ada. Pada DBD/SSD mortalitasnya cukup tinggi. Penelitian pada orang dewasa di Surabaya, Semarang, dan Jakarta menunjukkan bahwa prognosis dan perjalanan penyakit umumnya lebih ringan pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak.

DBD Derajat I dan II akan memberikan prognosis yang baik, penatalaksanaan yang cepat, tepat akan menentukan prognosis. Umumnya DBD Derajat I dan II tidak menyebabkan komplikasi sehingga dapat sembuh sempurna.

DBD derajat III dan IV merupakan derajat sindrom syok dengue dimana pasien jatuh kedalam keadaan syok dengan atau tanpa penurunan kesadaran. Prognosis sesuai penetalaksanaan yang diberikan Dubia at bonam.

3. RUJUKAN PENYAKIT DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
Peraturan dan Perundangan yang tercantum dalam buku “Good Medical Practice” yang diterbitkan oleh “Medical Practisioner Board of Victoria”

Perawatan Klinik yang Baik
Penatalaksanaan dalam kegawatdaruratan
Dalam keadaan gawat darurat, dimanapun terjadi, seorang dokter harus mencari orang yang dapat membantunya dalam memberikan pertolongan sesuai dengan prosedur.

Delegasi dan Rujukan
Delegasi meliputi permintaan kepada perawat, dokter, dokter muda atau praktisi kesehatan lainnya untuk memberikan penatalaksanaan atas perkenan dokter. Saat mendelegasikan penanganan/ penatalaksanaan, dokter harus memastikan bahwa orang yang menerima delegasi tersebut memiliki kompetensi untuk menjalankan prosedur/ memberikan terapi. Dokter harus selalu memantau informasi terbaru mengenai pasien dan penatalaksanaan yang diberikan. Apapun yang terjadi, dokter tersebut harus bertanggung jawab akan keseluruhan penatalaksanaan yang diberikan.

Rujukan meliputi transfer sebagian atau seluruh tanggung jawab penanganan pasien, biasanya bersifat sementara atau untuk tujuan tertentu misalnya pemeriksaan tambahan, penanganan atau penatalaksanaan yang berada diluar kompetensinya. Biasanya seorang dokter akan merujuk pada dokter lainnya yang lebih berkompetensi.

Kerjasama Dokter dengan Sejawat
Merujuk pasien. Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harus me¬rujuk pasien pada sejawat lain untuk mendapatkan saran, pemerik¬saan atau tindakan lanjutan. Bagi dokter yang menerima rujukan, sesuai dengan etika profesi, wajib menjawab/memberikan advis tindakan akan terapi dan mengembalikannya kepada dokter yang merujuk. Dalam keadaan tertentu dokter penerima rujukan dapat melakukan tindakan atau perawatan lanjutan dengan persetujuan dokter yang merujuk dan pasien. Setelah selesai perawatan dokter rujukan mengirim kembali kepada dokter yang merujuk.

Pada pasien rawat inap, sejak awal pengambilan kesimpulan sementara, dokter dapat menyampaikan kepada pasien kemungkinan untuk dirujuk kepada sejawat lain karena alasan kompetensi. Rujukan dimaksud dapat bersifat advis, rawat bersama atau alih rawat. Pada saat meminta persetujuan pasien untuk dirujuk, dokter harus memberi penjelasan tentang alasan, tujuan dan konsekuensi rujukan termasuk biaya, seluruh usaha ditujukan untuk kepentingan pasien. Pasien berhak memilih dokter rujukan, dan dalam rawat bersama harus ditetapkan dokter penanggung jawab utama. Dokter yang merujuk dan dokter penerima rujukan, harus mengungkapkan segala informasi tentang kondisi pasien yang relevan dan disampaikan secara tertulis serta bersifat rahasia.

Jika dokter memberi pengobatan dan nasihat kepada seorang pasien yang diketahui sedang dalam perawatan dokter lain, maka dokter yang memeriksa harus menginformasikan kepada dokter pasien tersebut tentang hasil pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan penting lainnya demi kepentingan pasien.

Pengamanan pasien dengan kegawatdaruratan apapun penyebabnya prinsipnya tetap sama bahwa pasien harus emdapat pertolongan dengan tepat dan segera. Bicara soal penanganan yang tepat dan segera hal ini sangat berhubungan dengan tim medis yang terampil dan terlatih dan sarana-prasarana yang mendukung. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan tim medis yang terampil serta saran dan prasarna yang memadai harus didukung penuh.

4. KEGAWATDARURATAN DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

* Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
* Gangguan keseimbangan asam basa
* Koma
* Syok
* Renjatan anafilaktik
* Sindroma termal dan sengatan listrik
* Sengatan binatang berbisa.
* Intiksikasi obat-obatan, bahan kimia dan makanan
* Perdarahan varises esofagus
* Sindrom syok dengue
* Kegawatan pada gagal ginjal
* Krisis hipertensi
* Krisis hipertiroid.

Kejadian Luar Biasa

Posted on Updated on

Pengertian Kejadian Luar Biasa
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit.

Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
* Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
* Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
* Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
* Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

Untuk membaca Artikel terkait dengan Kejadian Luar Biasa Lain yang saya tampilkan di Elvi Zuliani Sehati klik http:elvizulianisehati.blogspot.com