Uncategorized

Pendekatan Kesehatan Masyarakat

Taut Posted on Updated on

Pendekatan Kesehatan Masyarakat

• Peran serta masyarakat adalah suatu bentuk bantuan masyarakat dalam hal pelaksanaan upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitattif dalam bentuk bantuan tenaga, dana, sarana, prasarana serta bantuan moralitas sehingga tercapai tingkat kesehatan yang optimal.
• Peran serta masyarakat adalah proses untuk :
1. Menumbuhkan dan meningkatkan tanggung jawab individu, keluarga terhadap kesehatan / kesejahteraan dirinya, keluarganya dan masyarakat
2. Mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi dalam pembangunan kesehatan, sehingga individu / keluarga tumbuh menjadi perintis pembangunan (agent of development) yang dilandasi semangat gotong royong

Tinjauan Kegawatdaruratan Psikiatri

Gambar Posted on Updated on

TINJAUAN KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI
Oleh: Elvi Zuliani, SKM

logo-sehati-psd.jpg
PENDAHULUAN
Dewasa ini himpitan dan masalah sosial yang dihadapi masyarakat kian banyak dan berat, dalam menyikapi situasi dan kondisi ini berbagai pola dan prilaku yang ditunjukkan oleh masyarakat. Berbagai hal ini diketahui menimbulkan fenomena yang terkadang memerlukan perhatian dan bantuan pihak-pihak profesional dimana dapat dilihat diberbagai penayangan media akibat situasi dan masalah sosial tersebut banyak orang mengalami tekanan yang menimbulkan stress, depresi dan gangguan kejiwaan. Dalam hal ini yang perlu menjadi perhatian kita adalah gangguan kejiwaan yang membutuhkan penanganan segera yang kita golongkan keadaaan kegawatdaruratan psikiatri.
Kegawatdaruratan Psikiatrik merupakan aplikasi klinis dari psikiatrik pada kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatriks seperti percobaan bunuh diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada perilaku. Pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik dilakukan oleh para profesional di bidang kedokteran, ilmu perawatan, psikologi dan pekerja sosial. Permintaan untuk layanan kegawatdaruratan psikiatrik dengan cepat meningkat di seluruh dunia sejak tahun 1960-an, terutama di perkotaan.
Penatalaksanaan pada pasien kegawatdaruratan psikiatrik sangat kompleks. Para profesional yang bekerja pada pelayanan kegawatdaruratan psikiatrik umumnya beresiko tinggi mendapatkan kekerasan akibat keadaan mental pasien mereka. Pasien biasanya datang atas kemauan pribadi mereka, dianjurkan oleh petugas kesehatan lainnya, atau tanpa disengaja. Penatalaksanaan pasien yang menuntut intervensi psikiatrik pada umumnya meliputi stabilisasi krisis dari masalah hidup pasien yang bisa meliputi gejala atau kekacauan mental baik sifatnya kronis ataupun akut.

KEDARURATAN PSIKIATRI
Kedaruratan psikiatrik adalah suatu gangguan akut pada pikiran, perasaan, perilaku, atau hubungan sosial yang membutuhkan suatu intervensi segera (Allen, Forster, Zealberg, & Currier, 2002). Menurut Kaplan dan Sadock (1993) kedaruratan psikiatrik adalah gangguan alam pikiran, perasaan atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik segera. Dari pengertian tersebut, kedaruratan psikiatri adalah gangguan pikiran, perasaan, perilaku dan atau sosial yang membahayakan diri sendiri atau orang lain yang membutuhkan tindakan intensif yang segera. Sehingga prinsip dari kedaruratan psikiatri adalah kondisi darurat dan tindakan intensif yang segera. Berdasarkan prinsip tindakan intensif segera, maka penanganan kedaruratan dibagi dalam fase intensif I (24 jam pertama), fase intensif II (24-72 jam pertama), dan fase intensif III (72 jam-10 hari).
1.Fase intensif I
Fase intensif I adalah fase 24 jam pertama pasien dirawat dengan observasi, diagnosa, tritmen dan evaluasi yang ketat. Berdasarkan hasil evaluasi pasien maka pasien memiliki tiga kemungkinan yaitu dipulangkan, dilanjutkan ke fase intensif II, atau dirujuk ke rumah sakit jiwa.
2.Fase intensif II
Fase intensif II perawatan pasien dengan observasi kurang ketat sampai dengan 72 jam. Berdasarkan hasil evaluasi maka pasien pada fase ini memiliki empat kemungkinan yaitu dipulangkan, dipindahkan ke ruang fase intensif III, atau kembali ke ruang fase intensif I.
3.Fase intensif III
Fase intensif III pasien di kondisikan sudah mulai stabil, sehingga observasi menjadi lebih berkurang dan tindakan-tindakan keperawatan lebih diarahkan kepada tindakan rehabilitasi. Fase ini berlangsung sampai dengan maksimal 10 hari. Merujuk kepada hasil evaluasi maka pasien pada fase ini dapat dipulangkan, dirujuk ke rumah sakit jiwa atau unit psikiatri di rumah sakit umum, ataupun kembali ke ruang fase intensif I atau II.
Klasifikasi Kegawatdaruratan Psikiatri adalah:
1.Tidak berhubungan dengan kelainan organik:
Diantaranya gangguan emosional akut akibat dari antara lain; kematian, perceraian, perpisaan , bencana alam, pengasingan dan pemerkosaan.
2.Berhubungan dengan kelainan organik antara lain akibat dari; trauma kapitis, struk, ketergantungan obat, kelainan metabolik, kondisi sensitivitas karena obat
Penyebabnya Kegawatdaruratan Psikiatri:
1.Tindak kekerasan
2.Perubahan perilaku
3.Gangguan penggunaan zat
Kedaruratan Psikiatri à Adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera .
Diantaranya yang sering adalah
1.SUICIDE (BUNUH DIRI)
2.VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAVIOR (PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG).
Bunuh diri
Di Amerika tiap tahun kasus bunuh diri yang berhasil mencapai 30.000 orang per
tahun dimana dilaporkan bahwa angka yang mencoba bunuh diri sekitar 8 – 10x
lebih besar dari yang berhasil melakukannya
 Di Indonesia belum ada data yang tepat yang melaporkan jumlah kejadian kasus
bunuh diri.
Literatur menunjukkan à 95% kasus bunuh diri berkaitan dengan masalah kesehatan
jiwa diantaranya : 80% Depresi,10% Skizofrenia, 5% Dementia/Delirium, 5% diagnosa
ganda yang berkaitan dengan Ketergantungan Alkohol
 Menurut Adam.K mereka yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya bunuh diri adalah:
•Pria , usia diatas 45 tahun, tidak bekerja, bercerai atau ditinggal mati pasangan hidupnya
•mempunyai riwayat keluarga yang bermasalah, mempunyai penyakit fisik kronis
•mempunyai gangguan kesehatan jiwa ,Hubungan sosial yang buruk baik terhadap keluarga/lingkungan ,cenderung mengisolasi diri
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menduga adanya resiko bunuh diri:
Adanya ide bunuh diri/percobaan bunuh diri sebelumnya
Adanya kecemasan yang tinggi, depresi yang dalam & kelelahan
Adanya ide bunuh diri yang diucapkan
Ketersediaannya alat atau cara untuk bunuh diri
Mempersiapkan warisan terutama pada pasien depresi yang agitatif
Adanya krisis dalam kehidupan baik fisik maupun mental
Adanya riwayat keluarga yang melakukan bunuh diri
Adanya kecemasan terhadap keluarga jika terjadi bunuh diri
Adanya keputus-asaan yang mendalam
Tindakan awal:
DOKTER KELUARGA /UMUM àLakukan pertolongan pertama jika diperlukan Berikan penjelasan ke keluarga pasien tentang kondisinya
Rujuk pasien ke RS terdekat
Tatalaksana:
Pencegahan yang utama
Hospitalisasi tergantung :
Diagnosis, Beratnya Depresi, Kuatnya ide bunuh diri
Kemampuan pasien dan keluarga mengatasi masalahnya
Keadaan kehidupan pasien
Tersedianya support sosial bagi pasien
Ada tidaknya faktor resiko bunuh diri pada saat kejadian

Perilaku kekerasan & menyerang (mania)
Paling penting tentukan:
Gangguan Fisik? Gangguan Mental?
Mental
Gangguan proses pikir misal Skizofrenia, Waham paranoid, Halusinasi perintah membunuh / menyerang
Gangguan kepribadian : Ambang, Antisosial, Histrionik
Intoksikasi obat / alkohol, Gejala putus obat
Gangguan organik
Gangguan Manik/Episode Manik
Depresi Agitatif/Episode Depresi
Gangguan Cemas
Reaksi Ekstra Piramidal
Tanda-tanda adanya perilaku kekerasan yang mengancam:
Kata-kata keras/kasar atau ancaman akan kekerasan
Perilaku agitatif
Membawa benda-benda tajam atau senjata
Adanya pikiran dan perilaku paranoid
Adanya penyalah gunaan zat/intoksikasi alkohol
Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan tindak kekerasan
Kegelisahan katatonik
Episode Manik
Episode Depresi Agitatif
Gangguan Kepribadian tertentu
Adanya penyakit di Otak ( terutama di lobus frontal )
Hal yang perlu diperhatikan:
Adanya ide-ide kekerasan disertai rencana dan sarana yang tersedia
Adanya riwayat kekerasan sebelumnya
Adanya riwayat gangguan impuls termasuk penjudi, pemabuk, penyalahgunaan zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun melukai diri sendiri, Psikosis.
Adanya masalah dalam kehidupan pribadi yang nyata Dokter keluarga/dokter umum
Masalah fisik? à Rujuk RS yang lengkap fasilitasnya
Masalah mental? à Rujuk ke RS Jiwa/perawatan jiwa
Jika kondisi gaduh gelisah murni karena masalah mental tidak terlalu berat & cukup kooperatif dapat diberikan:
*Haloperidol 0,5 – 1,5mg 3x/h
*Chorpromazine 25 mg 3x/h
*Diazepam 2,5 – 5mg 3x/h atau lorazepam 0,5 – 1mg 3x/h
*Risperidone 0,5 – 1mg 2x/h
*Olanzepine 5mg 1x/h
*Quetiapin 25mg 2x/h
*Clozapin 25mg 2x/h
*Anipriparole 10mg 1x/h
*K.I: antipsikotik untuk pasien trauma kepala à rujuk RSU
pertologan gangguan jiwa
STRATEGI UMUM PEMERIKSAAN PASIEN KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI:
1.Perlindungan diri pemeriksa
2.Mencegah bahaya:
– Melukai diri sendiri dan bunuh diri
– Kekerasan terhadap orang
3.Adakah disebabkan kondisi medik?
4.Adakah kemungkinan psikosis fungsional?
INTERVENSI KEPERAWATAN:
Intervensi keperawatan pada klien kegawatdaruratan psikiatri difokuskan pada beberapa hal sesuai dengan tujuan dan diagnosa yang sudah ditetapkan. Pada dasarnya intervensi difokuskan pada :
1.Lingkungan
2.Hubungan perawat-klien
3.Afektif
4.Kognitif
5.Prilaku
6.Sosial
7.fisiologis
Intervensi Lingkungan: Dalam merawat klien depresi, prioritas utama ditujukan pada potensial bunuh diri. Klien yang mania juga merupakan ancaman terjadinya kecelakaan. Klien memiliki daya nilai yang rendah, senang tindakan yang risiko tinggi, tidak mampu menilai realitas yang berbahaya dan konsekuensi dari perilakunya. Keadaan ini berindikasi untuk menempatkan klien pada tempat yang aman, misalnya: dilantai dasar, perabotan yang sederhana, kurangi rangsangan, suasana yang tenang untuk mengurangi stres dan panik klien
Hubungan Perawat- Klien: Perawat perlu mempunyai kesadaran diri dan kontrol emosi serta pengertian yang luas tentang depresi dan mania. Bekerja dengan klien depresi pendekatan perawat adalah hangat, menerima, diam yang aktif, jujur, empati. Sering intervensi ini sukar dipertahankan karena klien tidak memberi respons. Hubungan saling percaya yang terapeutik perlu dibina dab dipertahankan. Bicara lembut, sederhana dan beri waktu pada klien untuk berpikir dan menjawab.Berbeda dengan klien mania yang sangat senang bicara, manipulatif, hiperaktif, konsentrasi rendah dan singkat, pikiran meloncat, penilaian miskin. Klien mungkin mendominasi dan memanipulasi klien dan kelompok. Batasan yang konstruktif diperlukan untuk mengontrol perilaku klien.
Intervensi Afektif: sangat penting karena klien sukar mengekspresikan perasaanya. Kesadaran dan kontrol diri perawat pada dirinya merupakan sarat utama. Pada klien depresi, perawa harus mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik. Sikap perawat yang menerima klien, hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada klien. Perawat bukan menggembirakan dan mengatakan tidak perlu khawatir, tetapi menenangkan dan menerima klien. Mendorong klien mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal akan mengurangi intensitas masalah yang dihadapinya danmetaskan kehidupan lebih berarti. Jadi, intervensi pertama adalah membantu pasien mengekspresikan perasaannya, kemudian dilanjutkan dengan intervensi yang berfokus pada kognitif, perilaku atau sosial. Klien depresi dan mania yang diizinkan mengekspresikan marah, ketidakpuasan, kecemasan merasakan pengalaman baru, dan kemudian perawat membantu untuk menganalisis dan menyadari perasaannya dan selanjutnya bersama-sam mencari alternatif pemecahan masalah sehat dan konstruktif.
Intervensi Kognitif: intervensi ini bertujuan untuk meningkatkan kontrol diri klien pada tujuan dan perilaku, meningkatkan harga diri dan membantu klien memodifikasi harapan yang negatifKlien depresi yang memandang dirinya negatif perlu dibantu untuk mengkaji perasaannya, dan identifikasi maslah yang berhubungan.
Pikiran negatif yang ada harus diubah melalui beberapa cara:
1.Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif
2.Identifikasi aspek positif dari dirinya( yang dimiliki, kemampuan, keberhasilan, kesempatan)
3.Dorong klien menilai kembali persepsi, logika, rasional
4.Bantu klien berubah dari tidak realitas kerealitas, dari persepsi yang salah atau negatif ke persepsi positif
5.Sertakan klien aktivitas yang memperlihatkan hasil. Beri penguatan dan pujian akan keberhasilannya.
Intervensi Perilaku: intervensi berfokus pada mengaktifkan klien yang diarahkan pada tujuan yang realistik. Memberi tanggung jawab secara bertahap dalam aktivitas di ruangan. Klien depresi berat dengan penurunan motivasi perlu dibuat aktivitas yang terstruktur. Beri penguatan pada aktivitas yang berhasil.
Intervensi Sosial: Masalah utama dalam intervensi ini adalah kurangnya keterampilan berinteraksi. Untuk itu diperlukan preses belajar membina hubungan yang terdiri dari:
1.Mengkaji kemampuan, dukungan dan minat klien
2.Mengobservasi dan mengkaji sumber dukungan yang ada pada klien
3.Membimbing klien melakukan hubungan interpersonal. Dapat dengan role model, role play, dengan mencoba pengalaman hubungan sosial yang lalu
4.Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif
5.Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas (keluarga, klien lain).
Intervensi Fisiologis: Tujuan intervensi ini adalah meningkatkan status kesehatan klien. Makanan, tidur, kebersihan diri, penampilan yang terganggu memerlukan perhatian perawat. Dalam hal istirahat, klien depresi takut sehingga memerlukan dukungan. Klien mania yang selalu segar dan tidak pernah ngantuk, perlu diberi suasana yang mendukung dengan peraturan yang konstruktif.
EVALUASI
Efektifitas asuhan keperawatan dapat dilihat dari perubahan respon maladptif. Klien akan dapat:
1.Menerima dan mengakui perasaannya dan perasaan orang lain.
2.Memulai kuminikasi
3.Mengontrol perilaku sesuai dengan keterbatasannya (tidak manipulatif)
4.Mempergunakan proses pemecahan masalah.

Kepustakaan;
Keliat Budi Anna,1992 Kedaruratan Pada Gangguan Alam Perasaan, Penerbit Arcan, Jakarta
Dr, NongLumingkewas, 1990 Text Book Psikiatri
Anira Forrever, Makalah PICU (Psychiatric Intensive Care Unit)

Seni Mendengar dengan Hati

Posted on Updated on

Mendengarkan merupakan bagian esensi
yang menentukan komunikasi efektif. Tanpa kemampuan mendengar yang bagus,
biasanya akan muncul banyak masalah.
Mendengar tidak selalu dengan tutup
mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukanberharap datangnya giliran berbicara.
Mendengarkan secara aktif memerlukan sejumlah tahapan, yakni :
• Mendorong mitra untuk berbicara dan mengungkapkan pemikiran, opini dan isi hatinya
• Menjelaskan mengenai informasi yang rekevan dengan topik pembicaraan Mendengar adalah komitmen untuk
memahami pembicaraan dan perasaan lawan bicara kita. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita.
Pada saat yang sama kita juga bisa
mengambil manfaat yang maksimal dari
pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship. Jika kita melakukannya dengan baik, orang-orang akan tertarik dengan kita dan interaksi kita akan
semakin harmonis.

Berikut teknik mudah yang dapat
dipraktekkan oleh setiap kita untuk menjadi seorang pendengar
yang baik :
1. Peliharalah kontak mata dengan baik.Ini menunjukkan kepada lawan bicara tentang keterbukaan dan kesungguhan kita dalam mendengarkannya
2. Condongkan tubuh ke depan.
Ini menunjukkan ketertarikan kita pada topik pembicaraan. Cara ini juga akan mengingatkan kita untuk memiliki sudat pandang yang lain, yaitu tidak hanya fokus pada diri kita sendiri tetapi memahami sipembicara
3. Buat pertanyaan ketika ada hal yang
butuh klarifikasi atau ada informasi baru yang perlu kita selidiki dari lawan bicara kita.
4. Buat selingan pembicaraan yang menarik. Hal ini bisa membuat percakapan lebih hidup dan tidak monoton.
5. Cuplik atau ulang beberapa kata yang diucapkan oleh lawan bicara kita. Ini menunjukkan bahwa kita memang mendengarkan dengan baik hingga hapal beberapa cuplikan kata.
6. Buatlah komitmen untuk memahami apa yang ia katakan, meskipun kita tidak suka atau marah. Dari sini kita akan mengetahui nilai-nilai yang diterapkan lawan bicara kita, yang mungkin berbeda dengan nilai yang kita terapkan.

Dengan berusaha untuk memahami, bisa
jadi kita akan menemukan sudut pandang,wawasan, persepsi atau kesadaran baru, yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya.

Jika kita selalu merasa bahwa diri kita benar, dan cara kitalah yang paling tepat, itu berarti kita tidak pernah mendengarkan.

Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar untuk jangka waktu tertentu,maka suatu saat kita akan merasakan. Untuk dapat mendengarkan dengan efektif sangat membutuhkan konsentrasi, pengalaman, pengetahuan dan keterampilan.
Dalam hal ini kita hanya perlu menerapkan beberapa prinsip yaitu:
Prinsip-prinsip untuk menjadi pendengar yang efektif adalah:
1. Tidak melakukan aktivitas mendengarkan dan berbicara pada saat yang bersamaan.
2. Mencoba memahami pokok pikiran atau ide utama pembicara
3. Hindari gangguan dari lingkungan sekitar
4. Mencoba untuk mengendalikan emosi
5. Membuat catatan yang singkat dan jelas
6. Mencoba untuk bersikap empati (perhatian dan senyuman)
7. Memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi non verbal
8. Bertanya pada tempatnya
9. Membuat kesimpulan tentang inti sari pembicaraan
10. Memberikan umpan balik

Selain itu, tekni mendengarkan secara aktif juga harus memperhatikan aspek berikut ini :
• Mengakui atau memberikan apresiasi terhadap isi pembicaraan dari mitra
• Berempati atau bersimpati dengan masalah yang tengah dihadapi oleh mitra bicara
• Merefleksikan kembali, atau merumuskan kembali isi pembicaraan
• Menyetujui, atau memberikan persetujuan jika memang pemikiran yang dilontarkan oleh lawan bicara mengandung hal positif
• Melengkapi, atau memberikan kelengkapan informasi yang dibutuhkan oleh lawan atau mitra bicara
• Meringkaskan kembali isi pembicaraan yang telah disepakati.
Dengan komunikasi yang didasari dengan mendengar yang baik akan meraih beberapa manfaat. Adapun manfaat menjadi pendengar yang baik adalah:
· Lawan bicara akan lebih mudah menyampaikan informasi atau pesan-pesannya.
· Hubungan kerjasama kelompok atau tim akan menjadi lebih baik dan harmonis
· Mendorong lawan bicara untuk tetap menjalin hubungan atau komunikasi yang baik
· Informasi dalam bentuk instruksi, umpan balik dan yang lainnya akan lebih jelas dapat diterima oleh lawan bicara.
Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita dikutib dari banyak sumber

Pelaksanaan IVA Dalam Screening Ca. Serviks

Posted on Updated on

Pelaksanaan IVA Dalam Screening Ca Serviks
Oleh: Elvi Zuliani

PENGERTIAN
IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) merupakan skrining yang masih bersifat Opurtunistik. Penggunaan Asam Asetat (Cuka) akan menjelaskan perbedaan struktur sel dan absorpsi sehingga bila terdapat sel prakanker akan berubah menjadi putih. Nilai sensitivitas IVA memang lebih baik meskipun sepesifitasnya lebih rendah (Emilia,2010)
Metode screening yang sudah diadaptasi oleh Kementrian Kesehatan selain metode lain yang sudah diterapkan oleh level rumah sakit—adalah metode IVA untuk level puskesmas. Meski lebih murah ketimbang pap smear yang bisa mencapai ratusan ribu, metode IVA memiliki sensitivitas cukup tinggi.
IVA merupakan cara yang relatif murah, mudah, dan dapat dilakukan oleh bidan atau tenaga medis puskesmas. Prinsif kerja pemeriksaan ini adalah dengan cara mengoles mulut rahim dengan asam asetat (Nurcahyo, 2010).
IVA adalah merupakan metode untuk mendeteksi dini kanker leher rahim yang murah meriah menggunakan asam asetat 3-5% dan tergolong sederhana dan memiliki keakuratan 90% (Fitramaya,2009)
Setiap warga negara berhak atas fasilitas kesehatan memadai dengan harga yang juga terjangkau. Untuk deteksi kanker serviks, metode IVA yang tergolong murah diharapkan dapat menyentuh banyak perempuan.

PELAKSANAAN PROGRAM IVA YANG ADA:

Skrining kanker serviks melalui metode IVA tengah digaungkan oleh sejumlah praktisi kesehatan,khususnya yang tergabung dalam organisasi yang bekerja untuk penanggulangan penyakit kanker, seperti Yayasan Kanker Indonesia, IPKASI, dan Female Cancer Program. Sejatinya, semua pihak harus ikut berperan dalam menanggulangi kanker.

Praktisi kesehatan,aktivis kanker,ataupun para survivor tak akan berhasil mencapai tujuan mereka bila tak didukung oleh pemerintah, begitu pula sebaliknya. Kementerian Kesehatan sendiri tidak menutup mata akan kondisi memprihatinkan yang disebabkan oleh kanker, terutama kanker serviks.Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih bersama jajarannya telah bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menanggulangi kanker yang masuk kategori penyakit tidak menular sejak 2005. Sejumlah program pencegahan sudah dibuat,baik yang primer, sekunder, maupun tersier. “Angka kematian kini sudah bergeser ke penyakit tidak menular, seperti kanker serviks ini.
Menurut data tahun 2007, kanker serviks diderita oleh 17,6% per 100.000 perempuan,” “Program pencegahan untuk kanker antara lain dengan deteksi dini.Khusus kanker serviks, bisa dengan IVA.Metode IVA kini sudah diterapkan di 14 provinsi dengan 48 kabupaten atau kota,” Program pencegahan yang disebut See & Treat itu sudah dijalankan di sejumlah wilayah seperti Jakarta,Tasikmalaya, dan Tabanan di Provinsi Bali.Di Tabanan misalnya, sejak 2009 sudah dilaksanakan layanan skrining lewat metode IVA di 114 puskesmas.

SYARAT MENGIKUTI IVA TEST ADALAH:
A. Sudah pernah melakukan hubungan seksual
B. Tidak sedang datang bulan/haid
C. Tidak sedang hamil
D. 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual

KLASIFIKASI IVA SESUAI TEMUAN KLINIS (SEE AND TRET,2007)
1. Hasil tes – Positif : DITEMUKAN Plak putih yang tebal atau epitel acetowhite, biasanya dekat SCJ
2. Hasil Tes Negatif : Ditemukan pertemuan polos dan halus, berwarna merah jambu: ectropion, polyp,cervicitis, inflammantion, Nabothian cysts
3. Kanker : DTEMUKAN KLinis Massa mirip kembang kol atau bisul
iva. ElviZ@sehati
Orang-Orang yang dirujuk untuk kelanjutan Tes IVA bila Ditemukan:
a. Diduga Kanker Cervix
b. Lesi > 75%
c. Lesi > 2 mm melebihi cryoprobe
d. Lesi meluas sampai dinding vagina
e. Hamil (> 20 minggu)

Untuk mensukseskan pendeteksian dini Ca. Cervix ini sudah seharusnya setiap orang ikut berpartisipasi dalam pensosialisasian pelaksanaan program IVA srining test ini, dengan harapan setiap wanita mewaspadai akan kesehatan diri sendiri. ” Mencegah adalah tidakan bijaksana untuk kelaksungan hidup sehat, ini lebih baik daripada mengobati”

Check out my Slide Show!

Posted on

MEMAHAMI BUTA WARNA

Posted on Updated on

Memahami Buta Warna

isi laman

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor genetis.

Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki-laki dan wanita. Seorang wanita terdapat istilah ‘pembawa sifat’ hal ini menujukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tsb menderita buta warna.

Saraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut.
Beberapa lapis dibelakang permukaan retina terdapat kombinasi sel-sel batang dan sel krucut yang sangat berperan dalam fungsi penglihatan mata. Sel kerucut (kone) bersifat fotopik dan berperan disiang hari dan peka terhadap warna, sedangkan sel batang (Rod) adalah skopik, dan peka terhadap cahara dan menjadi parameter kepekaan retina terhadap adaptasi gelap-terang.

Pembuktian

Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran – lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna.

A. Klasifikasi buta warna :

Trikromasi
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:

* Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah
* Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita
* Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.

Dikromasi
Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang

* Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau
* Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.

Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

B. Penyebab Buta Warna
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.

C. Fakta-fakta tentang Buta Warna

* Buta warna lebih sering terjadi pada seseorang berjenis kelamin lelaki dibandingkan perempuan.
* Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu.
* Belum dapat dipastikan berkaitan jumlah penderita, akan tetapi sebuah penelitian menyebutkan sebesar 8 -12% lelaki Eropa adalah pengidap buta warna. Sementara persentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5 -1%. Tingkat buta warna di benua lain tentu bervariasi.
* Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan cacat mata. Bisa jadi seorang buta warna akan merasa tersiksa dengan keadaan ini. Sebagian perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerjanya harus tidak buta warna.
* Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna, dilakukan tes dengan menggunakan plat bernama Ishihara.
* Sering kali orang awam menganggap penyandang buta warna hanya mampu melihat warna hitam dan putih, seperti menonton film bisu hitam putih. Anggapan ini sebenarnya salah besar.
* Banteng ternyata buta warna. Kesan yang ditimbulkan warna merah mengakibatkan binatang tersebut melonjak emosinya, bukan akibat warna merah itu sendiri.
* Pada Perang Dunia II, serdadu yang buta warna dikirim untuk melakukan misi tertentu. Ketidakmampuan mereka untuk melihat warna hijau dialihfungsikan untuk mendeteksi adanya kamuflase yang dilakukan pihak lawan.
* Artis terkenal yang buta warna diantaranya adalah Mark Twain, Paul Newman, Meat Loaf, Bing Cosby, Bob Dole.
* Setiap orang terlahir buta warna saat pertama kali lahir.
* Emerson Moser, pembuat krayon senior, mengaku bahwa dirinya buta warna hijau-biru dan tidak mampu melihat warna secara keseluruhan.
* Penyandang buta warna selalu dihantui oleh pertanyaan “Warna apakah ini?”

Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran – lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna.
Tes online… Dalam waktu 3 detik Gambar di bawah ada angka berapa?

wp-image-143″ />

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Jika kalian bisa membaca keseluruhan dari gambar diatas selamat anda tidak buta warna, tapi jika anda tidak dapat membaca salah satu atau semuanya, selamat bergabung dengan dunia Buta Warna

untuk mencoba dirumah dan mengetes keberadaan mata anda dari buta warna maka klik aja disini anda akan mendapatkan fasilitasuntuk test buta warna gatis ..okey selamat mencoba

Kesehatan Masyarakat

Posted on Updated on

Kesehatan merupakan aset berharga untuk dapat memiliki kesehatan kita harus berupaya dan dapat memiliki kebiasaan hidup yang teratur sesuai dengan sistem keseimbangan. Bila hidup tidak memiliki keseimbangan maka akan terjadi keadaan yang menyimpang dan menimbulkan penyakit
Sesuai dengan konsep Gordon penyebab penyakit adalah ketidak seimbangan antara Host, Agent dan Envirotment

Pengertian tentang Kesehatan Masyarakat adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang dari sekumpulan orang-orang yang merasa bersama karena di ikat oleh kesamaan-kesamaan dalam hidup sehari-hari untuk dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sebagai aset negara kesehatan masyarakat akan mendukung kemajuan dan produktifitas suatu bangsa. Bangsa yang maju dan terpandang bila memiliki SDM yang handal dan dapat dibanggakan. SDM itu bersumber dari kekuatan dan kemandirian rakyat. Rakyat mandiri berasal dari masyarakat yang sehat. Masyarakat sehat, negara kuat dan maju. mari kita ciptakan masyarakat sehat sejahtera.
Status Kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor utama yaitu:
1. Lingkungan
2. Prilaku Masyarakat
3. Pelayanan kesehatan Masyarakat
4. Herediter