Kesehatan Masyarakat

SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN JKN DI INDONESIA

Posted on Updated on

SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN JKN DI INDONESIA
Dasar Pemikiran
Sumber daya manusia (SDM) kesehatan dipandang sebagai komponen kunci untuk menggerakkan pembangunan kesehatan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Dalam hal pencapaian target pembangunan milenium bidang kesehatan, dapat dikatakan secara nasional sudah sejalan dengan target yang diharapkan, namun beberapa masalah kesehatan masih menuntut kerja keras semua pihak, antara lain penurunan angka kematian ibu, pencegahan penularan infeksi baru HIV, perluasan akses terhadap sarana air bersih dan air minum bagi masyarakat perkotaan dan perdesaan serta penurunan laju pertambahan penduduk.
Isu SDM kesehatan menjadi semakin strategis sejalan dengan berlakunya Sistem Jaminan Sosial Nasional dengan tujuan memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak, termasuk dengan penyediaan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk di Indonesia. Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional mulai 1 Januari 2014 membutuhkan ketersediaan SDM kesehatan dalam jumlah, jenis dan mutu yang memadai dan terdistribusi dengan baik.
Melalui berbagai kegiatan dan peristiwa sepanjang tahun 2013, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr Nafsiah Mboi, SpA, MPH kerap menggaris bawahi masalah terkait kualitas dan kuantitas sumber daya manusia kesehatan. Menurut beliau, meskipun secara nasional akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar sudah meningkat dengan ditandai meningkatnya jumlah pusat layanan seperti Puskesmas dan Poskesdes dimasing-masing desa serta mulai diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) per 1 Januari 2014, namun data statistik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukan adanya ketimpangan dalam penyebaran atau distribusi tenaga terampil kesehatan sesuai jenis dan sifat pekerjaan.

Permasalahan
Dari data yang ada, secara nasional, jumlah tenaga kesehatan belum memenuhi target per 100.000 penduduk. Jumlah dokter spesialis baru mencapai 7,73 dari target 9; Dokter umum tercatat baru mencapai 26,3 dari target 30. Sementara perawat baru mencapai 157,75 dari target 158 dan bidan 43,75 dari target 75 per 100.000 penduduk. Dengan kondisi seperti ini, tentunya bisa dibayangkan, ketersediaan tenaga kesehatan di kantong-kantong Daerah Tertinggal Terpencil Perbatasan (DTTPK) seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua. Namun demikian, persoalan ini tidaklah berdiri sendiri tetapi terkait erat dengan berbagai faktor seperti : kondisi geografis, transportasi, infrastruktur serta yang paling dasar adalah regulasi terkait kuantitas dan kualitas dan pemerataan distribusi tenaga kesehatan dimaksud.
Kurangnya minat tenaga kesehatan untuk bekerja di daerah terpencil mempunyai andil yang cukup besar terhadap semakin rumitnya permasalahan berkaitan dengan pemerataan tenaga kesehatan di Indonesia. Namun demikian hal tersebut tidak sepenuhnya dipersalahkan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus dapat melihat permasalahan tersebut secara komprehensif. Pemerintah harus dapat menjawab pertanyaan mengapa daerah terpencil tidak diminati oleh tenaga kesehatan? Seberapa besar usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan dalam upaya pemerataan tenaga kesehatan selama ini masih berorientasi kepada materi semata. Dengan beranggapan bahwa dengan gaji dan insentif yang tinggi permasalahan kekurangan tenaga kesehatan di daerah terpencil akan selesai.

Upaya Mengatasi Permasalahan SDM Kesehatan Dengan Keikut Sertaan Pemerintah Daerah

Upaya untuk mengatasi permasalahan pemerataan tenaga kesehatan di daerah terpencil tidak semata-mata terfokus kepada manusianya saja akan tetapi harus dibarengi dengan upaya untuk membangun sarana dan prasarana yang menunjang. Salah satu hal penting yang merupakan kendala di daerah terpencil adalah ‘akses’. Tanpa adanya akses tenaga kesehatan akan kesulitan mendapatkan informasi. Kebutuhan akan akses mutlak diperlukan. Akses dapat berupa akses fisik seperti transportasi, sarana jalan yang memadai yang berguna sebagai sarana yang membantu pada saat akan merujuk pasien ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Akses lain yang tidak kalah pentingnya adalah kebutuhan akses akan informasi terbaru baik tentang perkembangan ilmu pengetahuan maupun tentang perkembangan informasi global.
Kebutuhan akan sarana dan prasarana ini tidak akan mampu ditanggani sendiri oleh Kementerian Kesehatan. Pemerintah pusat perlu mendorong pembangunan di daerah agar anggaran yang telah dikeluarkan untuk membiayai program pemerataan tenaga kesehatan di daerah terpencil tidak sia-sia.
Disadari atau tidak Kementerian Kesehatan bukanlah kementerian “super power” yang dapat dengan leluasa bergerak di daerah. Oleh sebab itu tidak bisa berjalan sendiri dengan hanya mengandalkan peraturan menteri atau keputusan menteri semata. Dalam hal ini Kementerian Kesehatan perlu menggandeng Kementerian Dalam Negeri dalam mensosialisakan untuk suksesnya suatu kebijakan yang akan diterapkan di daerah. Perlunya pendampingan ke berbagai daerah terhadap kebijakan yang telah digulirkan untuk mendapatkan prioritas dalam pembangunan daerah. Kaitannya dengan peran otonomi daerah perlu juga ditinjau kembali PP nomor 38 Tahun 2007 Bidang Kesehatan, karena dalam peraturan tersebut belum secara tegas dan terperinci mengatur peran pemerintah provinsi/kabupaten/kota khususnya dalam manajemen sdm kesehatan. Dengan demikian diharapkan pemerintah daerah dapat dengan “leluasa” mengatur dan berinovasi menentukan arah dan nasib tenaga kesehatan di wilayahnya.
Upaya melibatkan stake holder setempat sudah semestinya dilakukan mulai dari proses perencanaan sampai dengan evaluasi . Perlunya kemitraan (partnership) untuk melakukan analisis situasi daerah setempat untuk mendapatkan keadaan daerah secara akurat dan sesuai dengan kondisi realita yang ada. Diiharapkan dapat menampung seluruh masukkan yang menggambarkan kebutuhan tiap-tiap daerah serta dapat mengakomodasi permasalahan yang ada sesuai dengan latar belakang sosial ekonomi dan kondisi geografis. Nantinya intervensi kebijakannya pun disesuaikan dengan permasalahan tiap-tiap daerah, tidak digeneralisir antar satu daerah dengan daerah yang lain. Sebagai contoh pembiayaan yang ada di daerah Timur Indonesia akan sangat berbeda dibandingkan di Sumatera. Juga di Kalimantan akan berbeda dengan daerah Sulawesi.
Peran daerah dalam peraturan menteri kesehatan tentang perencanaan tenaga kesehatan hanya sebatas penghitungan kebutuhan jumlah tenaga kesehatan. Penghitungan jumlah kebutuhan tenaga yang digunakan tersebut berdasarkan ratio tenaga kesehan terhadap jumlah penduduk di satu wilayah. Penghitungan berdasarkan ratio akan sangat cocok apabila digunakan pada daerah dengan penduduk dengan penyebaran yang ideal. Artinya antara jumlah penduduk dengan luas wilayah tidak terlalu jarang. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah penghitungan berdasarkan ratio dapat diterapkan di semua wilayah Indonesia? Apakah penghitungan berdasarkan ratio yang ideal di suatu wilayah dapat dipastikan bahwa coverage pelayanan kesehatan masyarakat terpencil sudah terjangkau?

Peran daerah tidak cukup diberi kebebasan dalam menentukan cara dan metode sesuai dengan situasi dan masalah yang dihadapi masing-masing daerah. Daerah tidak mempunyai cukup pedoman dalam melakukan inovasi-inovasi tersebut karena dikondisikan untuk tidak dapat melakukan inovasi-inovasi untuk mengatasi permasalahan tenaga kesehatan dengan cara mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat di sebagian besar daerah masih mengandalkan pemerintah pusat dalam hal pendanaan maupun ide – ide untuk kemajuan di bidang kesehatan. Dinas kesehatan idealnya membuat petunjuk teknis tentang pengaturan tenaga kesehatan sesuai dengan kondisi daerahnya berupa petunjuk teknis atau standar operasional prosedur (SOP), namun kenyataannya peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat tidak ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya petunjuk teknis atau peraturan kepala dinas setempat akibatnya timbul penafsiran yang beragam dalam pelaksanaannya di lapangan.
Penambahanan peran daerah dalam membuat SOP atau juknis yang ada harus lebih ditingkatkan mulai proses perencanaan sampai dengan evaluasi dan monitoring tingkat daerah. Penguatan peran monitoring dan evaluasi di tingkat daerah sangat berdampak pada keberhasilan program secara nasional. Monitoring yang selama ini dilakukan sangat mengandalkan laporan yang bersifat kuantitatif. Sehingga mempunyai kesan bahwa monitoring berjalan merupakan pekerjaan rutinitas.
Kesulitan dalam hal monitoring maupun koordinasi dapat dikurangi apabila penugasan khusus tenaga kesehatan di daerah terpencil dilakukan secara ‘team work’. Apabila penugasan khusus dilakukan secara tim memudahkan dalam koordinasi dan keberlangsungan tenaga kesehatan yang bertugas melayani masyarakat di fasilitas kesehatan. Seorang koordinasi tim yang akan mengatur jadwal tiap-tiap anggota tim yang lain. Sebuah tim penugasan khusus mempunyai kewenangan penuh dalam melakukan pelayanan terhadap masyarakat karena sudah dibekali dan berdasarkan standar pelayanan yang jelas dan baik. Permen/Kepmen yang ada masih didominasi struktur organisasi birokrasi, dengan prosedur yang panjang dan rumit. Dengan situasi dan kondisi di lapangan yang sangat dinamis perlu pertimbangkan sebuah sistem dengan struktur organisasi adhocracy, artinya bahwa sebuah pelayanan kesehatan di suatu daerah terpencil dijalankan melalui penugasan secara tim (bukan individu) untuk mengakomodasi kebutuhan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dan rotasi tenaga kesehatan yang bertugas dalam rangka refreshing dan mengurangi kejenuhan.
Leading sector dalam hal ini adalah Badan Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan perlu merangkul lebih stake holder dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan juga universitas-universitas yang mencetak tenaga kesehatan/kedokteran untuk menyiapkan kurikulum yang berbasis kompetensi di daerah terpencil untuk memperkenalkan bidang kerja yang mungkin dihadapi oleh peserta didik nantinya. Kebijakan rekrutmen tenaga kesehatan dapat dimulai sejak seleksi masuk perguruan tinggi terhadap calon peserta didik yang harus memperhatikan daerah asal terutama dari daerah-daerah yang masih membutuhkan tenaga kesehatan khususnya dokter selanjutnya diarahkan bisa mengabdi di daerahnya berasal.
Dalam rangka mempromosikan agar daerah terpencil lebih diminati dan mendapat sambutan yang baik dari masyarkat perlu sekiranya pemerintah pusat ataupun daerah memberikan penghargaan kepada “tenaga kesehatan daerah terpencil teladan” pada even-even tingkat daerah maupun nasional, sehingga dapat memacu tenaga kesehatan yang lain untuk bekerja dengan baik.

Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan (RPTK) 2011-2025
• Pengembangan tenaga kesehatan meliputi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan, pengadaan/ produksi, pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan.
• Prioritas pada 13 (tiga-belas) jenis tenaga, yaitu dokter spesialis, dokter, dokter gigi, perawat, bidan, perawat gigi, apoteker, asisten apoteker, sanitarian,gizi, kesehatan masyarakat, keterapian fisik, dan ketehnisian medis.

Strategi Perencanaan SDM Kesehatan

• Penyusunan rencana kebutuhan,memperhatikan kebutuhan SDMK yang diutamakan untuk upaya kesehatan
• Penguatan para Perencana SDM
• Perencanaan melalui peningkatan dan pemantapan keterkaitannya dengan pengadaan, pendayagunaan, serta pembinaan dan pengawasan
• Peningkatan sistem informasi

Strategi Pendayagunaan SDM Kesehatan

• Kerjasama dgn Pemerintah Daerah dalam penempatan
• Pengaturan dan pemberian imbalan untuk kepentingan pelayanan publik di DTPK
• Swasta dapat merekrut dan menempatkan SDMK sesuai kebutuhannya
• Pendayagunaan tenaga masyarakat untuk UKBM (Pemda,UPTD dan masyarakat)
• Penerapan pola karir di pemerintah & swasta.
• CPD
• Pendayagunaan tenaga kesehatan untuk luar negeri & tenaga kesehatan asing membutuhkan Per-UU yang jelas dan tetap agar terhindar dari hal-hal yang tidak diingikan khususnya bila terjadi tindakan hukum.
• Pendayagunaan tenaga kesehatan WNI lulusan luar negeri untuk menambah khasanah kerja dan peningkatan profesionalisme
• Diklat untuk pengembangan dan profesionalitas.

Iklan

Komunikasi Efektif

Posted on Updated on

Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Kesehatan

Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan media dan cara penyampaian pesan yang dipahami oleh kedua pihak, serta saling memiliki kesamaan arti lewat transmisi pesan secara timbal balik.
Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Oleh karena itu, dalam bahasa asing orang menyebutnya “the communication is in tune” ,yaitu kedua belah pihak yang berkomunikasi sama-sama mengerti apa pesan yang disampaikan.

Menurut Jalaluddin dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyebutkan, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan.

Syarat-syarat untuk berkomunikasi secara efektif adalah antara lain :

1. Menciptakan suasana yang menguntungkan.
2. menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti.
3. pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan.
4. Pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya.
5. Pesan dapat menumbuhkan sesuatu penghargaan atau reward di pihak komunikan.

Stephen Covey menekankan konsep kesalingtergantungan (interdependency) untuk menjelaskan hubungan antarmanusia. Unsur yang paling penting dalam komunikasi bukan sekadar pada apa yang kita tulis atau kita katakan, tetapi lebih pada karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Jika kata-kata atau pun tulisan kita dibangun dari teknik hubungan manusia yang dangkal (etika kepribadian), bukan dari diri kita yang paling dalam (etika karakter), maka orang lain akan melihat atau membaca sikap kita. Jadi syarat utama dalam komunikasi efektif adalah karakter yang kokoh yang dibangun dari pondasi integritas pribadi yang kuat. Menurut Stephen Covey, justru komunikasi merupakan ketrampilan yang paling penting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar jam di saat kita sadar dan bangun untuk berkomunikasi. Sama halnya dengan pernafasan, komunikasi kita anggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja,sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Kita tidak pernah dengan secara khusus mempelajari bagaimana menulis dengan efektif, bagaimana membaca dengan cepat dan efektif, bagaimana berbicara secara efektif, apalagi bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bahkan untuk yang
terakhir, yaitu ketrampilan untuk mendengar tidak pernah diajarkan atau kita pelajari dalam proses pembelajaran yang
kita lakukan baik di sekolah formal maupun pendidikan informal lainnya. Bahkan menurut Covey, hanya sedikit orang yang pernah mengikuti pelatihan mendengar. Dan sebagian besar pelatihan tersebut adalah teknik Etika Kepribadian, yang terpotong dari dasar karakter dan dasar hubungan yang mutlak vital bagi pemahaman kita terhadap keberadaan orang lain.
Syarat utama agar komunikasi itu efektif adalah kredibilitas
Keterampilan komunikasi antar perorangan adalah kemampuan untuk terus menerus membangun kredibilitas dan dapat
dipercayanya segala apa yang kita komunikasikan. Untuk membangun kredibilitas harus ada isi pesan yang jelas, suara/intonasi dalam menyampaikan pesan dan wahana bagaimana orang itu menyampaikan pesan. Jadi semakin seseorang tidak konsekuen dengan ketiga hal tersebut, maka akan menentukan kredibilitas sesorang, semakin tidak konsekuen akan menjadi semakin “tidak dipercaya”.
Johnson, Sutton dan Harris (2001: 81)menunjukkan cara-cara agar komunikasi efektif dapat dicapai. Menurut mereka, komunikasi efektif dapat terjadi melalui atau dengan didukung oleh aktivitas role-playing, diskusi, aktivitas kelompok kecil dan materi-materi pengajaran yang relevan. Meskipun penelitian mereka terfokus pada komunikasi efektif untuk proses belajar-mengajar, hal yang dapat dimengerti di sini adalah bahwa suatu proses komunikasi membutuhkan aktivitas, cara dan sarana lain agar bisa berlangsung dan mencapai hasil yang efektif.
Menurut Thomas Leech dalam bukunya “Say it like Shakespeare”. Ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu:
(1) Pengirim pesan (sender),
(2) Pesan yang dikirimkan (message),
(3) Bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media),
(4) Penerima pesan (receiver),
(5) Umpan balik (feedback).
Leech menambahkan, bahwa untuk membangun komunikasi yang efektif, setidaknya kita harus menguasai empat keterampilan dasar dalam komunikasi, yaitu membaca-menulis (bahasa tulisan) dan mendengar-berbicara (bahasa lisan). Begitu pentingmya, banyak orang menghabiskan waktunya untuk melakukan,paling tidak,salah satu keempat keterampilan itu.
Komunikasi efektif tejadi apabila sesuatu (pesan) yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi. Komunikasi adalah sebuah kegiatan mentransfer sebuah informasi baik secara lisan maupun tulisan. Namun, tidak semua orang mampu melakukan komunikasi dengan baik. Terkadang ada orang yang mampu menyampaikan semua informasi secara lisan tetapi tidak secara tulisan ataupun sebaliknya.
Bagaimanakah caranya agar kita mampu melakukan komunikasi yang baik, komunikasi yang dua arah, komunikasi yang efektif, sehingga target informasi yang harus disampaikan ataupun diserap sesuai dengan harapan ?

SIKAP POSITIF DALAM BERKOMUNIKASI
Kemampuan berkomunikasi secara efektif penting dikuasai karena peranannya yang sangat vital dalam hubungan antar manusia. Dalam pergaulan sehari-hari sering diketemukan bahwa kemampuan berkomunikasi dapat memperlancar atau sebaliknya dapat pula menghambat hubungan interpersonal tersebut. Demikian pula dalam menjalankan tugas sebagai petugas kesehatan, kemampuan petugas dalam berkomunikasi akan sangat menunjang keberhasilan tugasnya mengelola pelayanan kesehatn baik di rumah sakit, klinik maupun di puskesmas

Walaupun kita menghabiskan sebagian besar waktu sejak bangun di pagi hari untuk berkomunikasi hingga kita merasa bahwa berkomunikasi sama mudahnya seperti kita menghela napas, namun ternyata tidak semua komunikasi yang kita kerjakan membuahkan hasil yang kita inginkan. Komunikasi dianggap sebagai hal yang otomatis terjadi begitu saja, sehingga kita tidak memiliki kesadaran untuk melakukannya dengan efektif. Misalnya, kita jarang secara khusus belajar bagaimana cara menulis, membaca dengan cepat, berbicara secara efektif, atau kita bahkan tidak merasa perlu menjadi pendengar yang baik. Padahal, semua kemampuan itu penting artinya dalam interaksi kita sebagai mahluk sosial. Demikian pula dengan persiapan-persiapan khusus agar komunikasi yang kita lakukan pada orang lain dapat berjalan dengan efektif, tentunya sering tidak kita hiraukan.
Seseorang sering mengkomunikasikan perasaan mereka dengan isyarat non-verbal. Kita cenderung menyampaikan isyarat tentang perasaan kita dengan hal-hal yang kita lakukan bukan dengan kata-kata. Ini disebut sebagai komunikasi nonverbal. Kita akan lebih efektif berkomunikasi jika memahami komunikasi nonverbal yang sering diungkapkan melalui bahasa simbol seperti tanda petunjuk, tanda larangan, suara bel atau lonceng, dan simbol status. Atau yang disampaikan melalui bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, gerak-gerik, dan berbagai isyarat lainnya. Demikian pula sebaliknya, sikap, perangai, dan hal-hal non verbal lainnya dari diri kita terkadang mempengaruhi orang lain dalam memahami isi pesan yang kita sampaikan.
Menjaga sikap positif dari diri kita selama melakukan komunikasi dengan orang lain tentunya harus kita lakukan seoptimal mungkin agar terjadi komunikasi yang baik dan efektif antara kita dengan orang lain. Beberapa hal dalam membangun sikap positif kita dengan orang lain akan diulas, mulai dari dalam diri (inner sight) berupa pengenalan diri, sampai pada pengenalan apa yang kita kerjakan sehingga kita siap dengan sikap dan pikiran positif menghadapi orang lain.
Menurut pendekatan dari Dr. Patricia Paton yang mengemukakan 3 paradigma agar interaksi dengan orang lain bisa berjalan secara efektif. Paradigma yang akan kita kupas adalah:
1. Bagaimana kita memandang diri sendiri
2. Bagaimana kita memandang orang lain
3. Bagaimana kita memandang tugas/ pekerjaan

1.1 MENGENAL DIRI SENDIRI
Dr. Patricia Paton mengemukakan bahwa sebelum kita dapat menghargai orang lain, dalam hal ini adalah pelanggan, kita perlu memberikan perhatian dan penghargaan pada diri sendiri (pada kemampuan kita, pada pengetahuan kita, pada keterampilan kita, dan pada penampilan kita).
Ternyata hal ini sesuai juga dengan ungkapan “Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busono” dalam Bahasa Jawa (lokal/ nasional) tersebut memiliki arti bahwa berharganya diri kita, berasal dari ucapan (lidah) kita, sedangkan berharganya badan (raga) kita dari cara berpakaian kita. Ungkapan tersebut mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita pakai, penampilan kita, tutur kata kita, serta ucapan-ucapan kita akan menimbulkan reaksi timbal balik penghargaan/ sikap hormat orang lain kepada kita.
Untuk dapat mengenali siapa diri kita kita dapat melakukan simulasi berikut ini:

Coba tuliskan 5 hal yang baik dan 5 hal yang buruk tentang diri anda pada kolom di bawah ini:

Nama : ………………………………………………….

NO. HAL-HAL YANG BAIK DARI ANDA HAL-HAL BURUK DARI ANDA
1. ……………………….. ……………………….
2. ……………………….. ……………………….
3. ……………………….. ……………………….
4. ………………………. ……………………….
5. ………………………. ……………………….

Coba berikan lembar di bawah ini pada masing-masing teman anda (2 orang atau lebih), minta tuliskan 5 hal yang baik dan 5 hal yang buruk tentang diri anda seperti pada kolom di bawah ini:
NO. HAL-HAL YANG BAIK DARI ANDA HAL-HAL BURUK DARI ANDA
1. ……………………….. ……………………….
2. ……………………….. ……………………….
3. ……………………….. ……………………….
4. ………………………. ……………………….
5. ………………………. ……………………….

Kemudian kumpulkan hasil yang anda buat dengan yang teman-teman anda buat dan tuangkan pada sebuah tabel.

Khusus untuk jumlah yang sama, coba kenali dan tandai hal yang anda tulis, dan ternyata sama dengan yang teman anda tuliskan. Jumlahkan dan tuliskan pada kolom ”jumlah yang sama”. Sedangkan ”jumlah tambahan” adalah jumlah semua hal yang ditulis teman anda dikurangi jumlah yang sama. Misalkan anda menuliskan 10 hal tentang diri anda, ternyata teman anda juga menuliskan 4 hal yang sama dengan yang anda tuliskan, maka jumlah yang sama adalah 4. Artinya teman anda mengetahui 4 hal tentang diri anda. Sedangkan jumlah tambahan adalah 20 – 4 = 16, itu adalah hal-hal tambahan tentang diri anda yang dikenali teman-teman anda.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pendekatan Johari Window yang dipergunakan pada simulasi ini.
Johari Window adalah teknik yang ditemukan oleh dua psikolog Amerika, Joseph Luft (1916 – 2014) dan Harrington Ingham (1914 – 1995), berguna membantu orang dalam memahami hubungan dirinya dengan orang lain. Charles Handy menyebut konsep ini sebagai ”Johari house” dengan 4 ruang (Jo diambil dari Joseph, sedangkan Hari diambil dari Harrington). Ruang pertama disebut open (arena/ terbuka) adalah bagian diri dimana baik diri sendiri ataupun orang lain mengetahuinya. Ruang kedua disebut blind spot (buta) adalah bagian diri yang dikenali orang lain walaupun diri sendiri tidak menghiraukannya. Sedangkan ruang ketiga disebut hidden (facade/ tertutup) diisi beberapa hal dari diri yang kita sembunyikan dari orang lain. Dan ruang keempat disebut unknown (tidak dikenali/ gelap), berisi bagian diri yang baik secara sadar atau tidak sadar tidak diketahui oleh diri sendiri ataupun orang lain. Untuk lebih mudahnya Johari Window dapat digambarkan sebagai berikut:
Enter Post Title Here

Penerapan Johari Window pada komunikasi menempatkan seseorang agar perlu memperluas daerah terbuka pada dirinya, sehingga baik diri sendiri atau orang lain memahami semua hal dari dirinya baik positif atau negatif. Orang lain akan lebih mengenal kita dan tidak segan atau salah tingkah menghadapi kita, mereka akan dengan mudah memahami siapa diri kita dan tidak canggung berkomunikasi dengan kita. Sebaliknya kita pun lebih mengenal lebih banyak tentang diri kita dari orang lain, terutama hal-hal yang tidak kita hiraukan selama ini. Kita lebih cermat mengelola diri kita agar tidak menyinggung orang lain atau menghambat komunikasi kita dengan orang lain.
Beberapa teknik dapat dilakukan dalam rangka memperluas daerah terbuka kita, atau dengan kata lain membuka diri pada orang lain. Salah satunya adalah dengan mengenali tanggapan (feed back) orang lain, baik yang berupa kata-kata, sindiran, cara bertutur, ataupun perilaku non verbal lainnya (isyarat, raut muka, perilaku tertentu) terhadap kita. Dari sini kita dapat menilai adanya hal-hal yang perlu diperbaiki dari diri kita. Kemudian kita perlu melakukan pembuktian (self discovery) dengan cara menanyakan pada orang lain, ataupun melakukan hal-hal lain untuk memperjelas dugaan kita atas tanggapan orang lain. Atas dasar inilah kita melakukan perbaikan diri, atau mungkin penjelasan lebih lanjut mengenai siapa diri kita yang sebenarnya pada orang lain.
Hal lain yang dapat kita lakukan adalah curhat (curahan hati/ self disclosure), yaitu kita menyampaikan isi hati kita pada orang yang kita percaya. Tentunya kita curhat mengenai beberapa hal yang patut kita kemukakan pada orang lain, dan kita perlu memilih secara cermat pada siapa kita melakukan curhat itu, agar tidak disalahgunakan orang lain ataupun merugikan kita sendiri kelak di kemudian hari. Secara singkat, beberapa teknik membuka diri dapat dilihat pada bagan berikut ini.
Enter Post Title Her1

Dari bagan di atas, maka kita menemukan kata kunci membuka diri adalah dengan berani bertanya (ask) dan mengemukakan (tell) pada orang lain. Namun bagaimana sikap kita bila hal-hal yang orang lain kemukakan tentang kita ternyata tidak benar? Tidak perlu marah, kecewa, dan dendam. Itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Kita perlu membuktikan melalui pikiran, perkataan, sikap, dan perilaku kita bahwa apa yang mereka kemukakan adalah salah.
Bagaimana? Sudah pahamkah mengenai Johari Window? Sekarang mari kita kembali pada tabel terakhir yang sudah kita isi, tentunya cermati isi dari kolom ”jumlah yang sama” dan ”jumlah tambahan”. Kemudian isi tabel berikut ini.

Enter Post Title Her2

Perihal Diri Mengenal diri Tidak mengenal diri
Diketahui orang lain Daerah Terbuka
Jumlah yang sama: … Daerah Buta
Jumlah tambahan dari teman: …..
Tidak diketahui orang lain Daerah Tertutup
Jumlah yang anda tulis dikurangi jumlah yang sama: …. Daerah Gelap
Hasil lain dari psikotest/ uji potensi diri lain: …..

Nah, sekarang coba bandingkan berapa banyak nilai dari masing-masing ruang. Kecuali ruang keempat/ daerah gelap, karena diisi berdasarkan hasil uji potensi diri yang sudah anda lakukan sebelumnya. Tentunya kita bandingkan antara jumlah di daerah terbuka dengan gabungan jumlah daerah yang lain. Kita menemukan betapa kecilnya pengetahuan akan diri kita sendiri, baik potensi yang positif ataupun hal-hal yang negatif dari diri kita.
Beberapa hal yang perlu kita renungkan mengenai diri kita diantaranya adalah:
– Terkadang walaupun sudah lama kita menjalani hidup ini, namun masih ada bahkan banyak hal mengenai diri kita yang tidak kita ketahui.
– Apalagi orang lain, mereka terhalang berbagai alasan untuk mengenal kita jauh lebih baik.
– Beberapa hal membutuhkan orang lain untuk mengungkap siapa sebenarnya diri kita. Hal ini membutuhkan kesadaran diri kita akan kebutuhan berinteraksi dengan orang lain.
– Demikian sebaliknya orang lain membutuhkan keterbukaan kita mengenai siapa diri kita yang sebenarnya, dan tentunya hal-hal yang patut saja.
– Berbagai potensi diri tentunya perlu dicari dan dikembangkan demi membangun citra positif kita.
– Hambatan dalam membuka daerah terbuka kita seluas-luasnya pada orang lain membuat kita tidak percaya diri dalam berinteraksi atau bahkan berprasangka negatif pada orang lain

– Demikian pula orang lain akan menjadi canggung, dan serba salah ketika berinteraksi dengan kita karena tidak mengenal kita sepatutnya.

Bagaimana? Sudah terbayang apa yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki kualitas diri kita? Silakan rencanakan perubahan diri dan tentukan jangka waktu yang dibutuhkan, karena perubahan butuh waktu.
Simulasi ini dapat dikembangkan dengan menambah jumlah isian, ataupun diganti dengan metode lain dengan titik tangkap pada perubahan diri demi memperbaiki interaksi dengan orang lain. Selamat mencoba.

1.2 MENGENAL KLIEN

Setelah kita mengenal diri sendiri, maka untuk meningkatkan efektifitas komunikasi kita pada orang lain, terutama dalam hal ini adalah pelanggan, maka sangat perlu kita mengenal apa, siapa dan bagaimana pelanggan yang akan kita layani.
Tentunya tidak sembarang kita mengenal orang lain, namun ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan selama mengenali orang lain. Lakukan hubungan yang emosional secara positif dengan orang lain (pelanggan) dan dengan apapun yang kita kerjakan. Kita perlu menghargai keberadaan mereka. Hubungan emosional yang positif dapat dikatakan sebagai hubungan emosional yang hangat, akrab dan menyenangkan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membangun hubungan emosional yang positif, diantaranya dengan memperkenalkan diri (menunjukkan bahwa kita terbuka pada orang lain), tersenyum (tentunya berasal dari hati kita yang senang bergaul dengan orang yang baru), mengobrol ringan atau sesuai dengan minat lawan bicara kita (menunjukkan bahwa kita sependapat dan tidak asing bagi mereka), dan lain sebagainya.
Saat mengenal orang lain, kita jangan lupa memperhatikan beberapa tanda dan gejala yang sifatnya non verbal dari lawan bicara kita, diantaranya:
1. Tutur Kata
Tutur kata dapat mewakili karakter seseorang. Dengan memperhatikan tutur kata seseorang saat dia berbicara, maka
kita dapat memperkirakan bagaimana karakternya. Tentunya bukan rangkaian kata-kata yang diucapkannya semata, namun bagaimana dia bertutur. Dengan kata lain bagaimana dia mengucapkan kata demi kata dalam rangkaian kalimat. Dari sini kita dapat memperkirakan apakah dia seorang yang penyabar, pendendam, pemarah, atau lainnya.
2. Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh ini diartikan sebagai gerak-gerik tubuh atau bagian tubuh baik disengaja ataupun bukan yang terjadi pada saat seseorang terdiam atau saat berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa tubuh erat kaitannya dengan kondisi seseorang dan juga dapat menunjukkan suasana hati seseorang. Kita dapat dengan mudah mengenali apakah seseorang itu sedang bahagia, kecewa, atau susah, hanya dengan memperhatikan bahasa tubuhnya.
3. Perbuatan
Perbuatan adalah buah dari tutur kata dan bahasa tubuh. Walaupun perbuatan dapat dengan mudah kita kenali, namun terkadang tidak menunjukkan secara sebenarnya bagaimana karakter dan suasana hati seseorang. Pada kasus tertentu terdapat keterpaksaan untuk berbuat sesuatu (contoh: agar terlihat baik di depan orang lain) sehingga tidak menunjukkan karakter yang sebenarnya dari seseorang.
4. Kebiasaan
Kebiasaan dapat dijadikan sebagai patokan utama menentukan kerakter seseorang karena sebagian besar kebiasaan terbentuk dari aktivitas alam bawah sadar seseorang. Hal ini terkait dengan karakter dan kepribadian seseorang yang lazimnya tersembunyi.
5. Penyelesaian terhadap masalah
Ketika seseorang menyelesaikan masalah, maka dia dipaksa untuk mengambil sebuah keputusan. Pada saat inilah, terlihat dengan jelas karakter seseorang, baik dari tutur kata, bahasa tubuh, ataupun perbuatannya.
6. Penampilan
Ada ungkapan yang menyatakan “penampilan seseorang bisa menipu”. Namun kita dapat juga menilai karakter seseorang dari penampilannya walaupun sifatnya tidak mutlak. Minimal dengan melihat penampilan seseorang kita dapat mengatur sikap dan perilaku kita selama mengenal orang tersebut lebih dalam.

Bagaimana? Sudah terbayang apa yang akan anda lakukan agar bisa mengenal orang lain dengan lebih baik?
Kali ini saya mencontohkan pelangan kita yang berasal dari orang lansia
Cara berkomunikasi adalah salah satu poin terpenting yang dapat menjembatani hubungan yang positif antara lansia dengan keluarganya, anak, menantu, cucu, dan lingkungan. Tips dibawah ini diharapkan dapat membantu dalam berinteraksi dan memahami orangtua kita yang sudah lansia.
1. Antusiasme. Beri mereka kesan bahwa anda suka berbicara dengan mereka, dan bahwa anda peduli kepada mereka. Ketika anda memberi mereka kesan bahwa anda sangat antusias berbicara dengan mereka, anda membuat mereka lebih percaya diri. Mereka akan lebih terbuka kepada anda.
2. Senyuman yang tulus. Ketika anda tersenyum pada orang, anda menyampaikan pesan bahwa anda menyukai mereka dan kehadiran mereka membuat anda bahagia. Senyuman anda akan menyebabkan mereka ingin tersenyum kembali pada anda yang secara langsung akan membangun hubungan positif antara anda berdua.
3. Kontak mata. Kontak mata yang kuat mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa anda tidak hanya tertarik pada mereka dan apa yang mereka katakan, tetapi juga menunjukkan bahwa anda dapat dipercaya, tulus untuk bertemu dengan mereka secara langsung. Akibatnya, orang secara alami akan lebih memperhatikan anda dan memperhatikan apa yang anda katakan.
4. Menjadi pendengar yang baik. Dengarkan setiap kata yang mereka katakan dan beresponlah serelevan mungkin. Anda dapat bertanya setiap kali anda tidak mengerti pada hal-hal yang mereka katakan. Namun bila anda tetap tidak mengerti, berpura pura saja mengerti. Berusaha menerima alur berpikir mereka meskipun tidak sesuai dengan alur berpikir dan nalar anda. Tidak memotong pembicaraan, tidak mencela, tidak cenderung memberi nasehat, tidak menyalahkan, tidak membanding2kan dengan orang lain, dsb.
5. Panggilan sopan yang menyenangkan. Nama adalah salah satu kata yang memiliki nilai emosional yang sangat kuat bagi seseorang. Cara memanggil, intonasi dalam memanggil, sangat menentukan respon dari lawan bicara kita, khususnya lansia.
6. Menggunakan bahasa yang sederhana, pengucapan yang jelas, dan intonasi yang ramah. Bahasa yang anda gunakan, dan cara bicara yang jelas dan ramah membuat orang yang lebih tua dari anda merasa dihargai, dan ingin menghargai anda pula. Hal ini dapat menumbuhkan minat mereka untuk ingin mendengar lebih lanjut.
7. Menemukan dan mengangkat kelebihan mereka serta memuji usaha mereka: Mengatakan dengan jujur dan memberitahu mereka mengapa anda menyukai atau mengagumi mereka, membuat mereka merasa lebih berharga, lebih berguna, serta dapat meningkatkan motivasi mereka untuk lebih berkarya dan beraktivitas. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat, cobalah dengan pernyataan tidak langsung (dapat dengan menggunakan komunikasi non-verbal)
8. Menanyakan keinginan mereka. Ajukan pertanyaan terbuka yang akan membuat mereka berbicara tentang apa yang sedang mereka pikirkan. Tangkap cerita mereka, karena cerita itu biasanya penting untuk mendorong mereka dalam menumpahkan kegelisahan mereka.
9. Beradaptasi dengan bahasa tubuh dan perasaan mereka. Rasakan bagaimana perasaan mereka pada saat ini dengan mengamati bahasa tubuh dan nada suara. Dari sudut pandang ini, anda dapat menyesuaikan kata-kata, bahasa tubuh, dan nada suara anda sehingga mereka akan merespon lebih positif.
10. Bina kedekatan emosional. Misalnya dapat dengan menggunakan kata-kata seperti “kami, kita”, untuk segera membangun sebuah ikatan. Bila anda menggunakan kata kata tersebut, anda seperti menciptakan suasana bahwa anda dan mereka berada pada posisi dan tingkat yang sama. Kesamaan akan menyebabkan kedekatan emosional.

Tidak jauh berbeda dengan lansia, orang yang sedang sakit tentunya membutuhkan perhatian lebih dan kepekaan kita saat mengenali dan menindaklanjuti bentuk komunikasi yang akan kita berikan pada mereka.

ada beberapa hal yang dapat dicatat sebagai renungan, antara lain:
– Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengenali lawan bicara kita, tentunya diawali dengan pikiran positif dari kita.
– Sebagian besar komunikasi menggunakan aktivitas non verbal, coba kita mengenal lawan bicara tanpa harus
berbicara/ berbincang terlebih dahulu.
– Bangun suasana yang simpatik dengan menyapa, senyum, dan menciptakan suasana saling percaya dan hangat.

1.3 MENGENAL PEKERJAAN SEBAGAI PETUGAS KESEHATAN

Selain menghargai diri sendiri, dan orang lain, kita harus bisa menghargai pekerjaan yang kita lakukan. Jadi, kita perlu memilih pekerjaan yang kita anggap penting dan khusus sehingga kita melakukan pekerjaan tersebut dengan sepenuh hati dan penuh perhatian. Tentunya hal ini akan berimbas pada cara komunikasi kita terhadap masyarakat
Baiklah, untuk mempersingkat bahasan, coba kita renungkan dan tuliskan hasil pada kotak berikut ini.
Apa motivasi anda menjadi seorang petugas kesehatan
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Apakah motivasi tersebut sesuai dengan harapan sebenarnya menjadi seorang petugas kesehatan ………………………………………………………………
Mengapa? …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh petugas kesehatan Secara umum, petugas kesehatn bertugas memeriksa kesehatan pasien, membina kesehatan pasien, melayani keluhan kesehatan, mengamati penyakit dan menyehatkan lingkungan disekitar pasien. Namun pada hakekatnya, tugas petugas kesehatan adalah memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kesehatan terhadap pasien dan masyarakat serta tugas-tugas administrasi tempat bertugas. Jadi tugasnya tidak hanya masalah medis dan keperawatan, namun juga administrasi dan perbantuan kegiatan kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan jejaring kerja dengan pihak terkait penyelenggaraan pemerintahan
Oleh karena itu, sebagai petugas kesehatn dalam menjalankan tugasnya tidak hanya berkomunikasi dengan para pasien yang sangat bervariasi, namun juga dengan para petugas kesehatn lainnya yang berbagai jenis dan profesi. Kesiapan mental kita sebagai petugas tentunya perlu dilengkapi dengan kesiapan pengetahuan hubungan sosial di masyarakat, sehingga kita dapat membina sikap positif kita, yang berimbas pada efektivitas komunikasi kita pada orang lain.

KESIMPULAN
Bersikap yang positif dalam berkomunikasi sebagai petugas kesehatan dengan acuan sebagai berikut:
– Bersikap Netral
– Mampu mengendalikan diri maupun situasi
– Kreatif berfikir dan berencana
– Mampu menangani dan mengelola perubahan
– Optimis
– Mampu mengkomunikasikan sifat-sifat positif secara efektif

PENERAPAN SURVAILANS EPIDEMIOLOGI

Posted on

PENERAPAN SURVAILANS EPIDEMIOLOGI DALAM PENYELENGGARAAN UPAYA KESEHATAN DI INDONESIA
Oleh:
Elvi Zuliani, SKM

DASAR PEMIKIRAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya penyeleng-garaan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduknya. Salah satu upaya penting dalam Penyel-enggaraan upaya kesehatan adalah survailans epidemiologi.
Pada beberapa dekade terakhir banyak negara di dunia mengalami kepanikan disebabkan munculnya penyakit infeksi yang tidak mengenal batas geografis. Belum lagi situasi dunia di eraglobalisasi ini memiliki begitu kompleks permasalahan kesehatan meliputi pendistribusian hasil produksi yang tak terbatas dapat menyebar diseluruh belahan dunia dengan segala dampak akibat dari hasil produk makanan, produk industri, produk pertanian dan sebagainya. Persoalan lingkungan dan bencana alam yang melanda dunia dan segala permasalahan yang terus berkembangan bersamaan dengan subsidi silang disetiap negara di dunia yang saling berhubungan.
Indonesia sebagai negara yang ikut aktib dalam percaturan dunia tidak lepas dari dampak apapun terhadap kondisi dan situasi tersebut baik yang positif atau negatif. Keadaan ini seharusnya dapat dikendalikan manakala provider kesehatan beserta masyarakat terlatih, terampil dan disiplin untuk memanfaatkan survailans epidemiologi yang pedoman manajemen maupun pedoman peraktisnya telah disusun pemerintah melalui Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dapat dilaksanakan secara efektif dan terpadu di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota.
Untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2015, manajemen kesehatan membutuhkan informasi kesehatan yang tersusun dalam sistem informasi kesehatan nasional (SIKNAS). Untuk menjamin ketersediaan data dan informasi masalah kesehatan dan jumlah serta pendistribusian penduduk dalam memenuhi kebutuhan JPKN (jaring pelayanan kesehatan nasional)maka perlu difungsikan sistem survailans epidemiologi kesehatan sebagai substansi dari SIKNAS.
Survailans epidemiologi adalah upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis data dan informasi dari berbagai kejadian kesehatan untuk disebarluaskan dan kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, survailans epidemiologi sangat diperlukan dalam manajemen program kesehatan dan harus dilaksanakan dalam menyelenggarakan berbagai tugas dan fungsi khususnya disektor kesehatan.
Dasar Hukum Penyelenggaraan Survailans
Dalam penyelenggaraan survailans epidemiologi kesehatan , Menteri Kesehatan RI telah menerbitkan 2 (dua) keputusan penting yakni:
1.Kepmenkes RI No. 116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang pedoman penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi kesehatan di dalam pedoman ini yang termasuk lingkup sistem survailans epidemiologi kesehatan adalah: Survailans epidemiologi penyakit menular, survailans epidemiologi penyakit tidak menular, survailans epidemiologi kesehatan lingkungan dan prilaku, survailans epidemiologi masalah kesehatan, survailans epidemiologi kesehatan matra.
2.Dan Kepmenkes RI No. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang pedoman penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi penyakit menular dan penyakit tidak menular terpadu (Survailans Terpadu Penyakit) didalam pedoman ini yang termasuk lingkup survailans terpadu penyakit adalah: STP bersumber data puskesmas (25 penyakit menular), STP bersumber data rumah sakit (25 penyakit menular & 4 penyakit tidak menular), STP bersumber data laboratorium ( 8 penyakit menular), STP bersumber data KLB penyakit & keracunan, STP bersumber data puskesmas sentinel (25 penyakit menular amp; 2 penyakit tidak menular), STP bersumber data rumah sakit sentinel ( 25 penyakit menular & 24 penyakit tidak menular). Dan Kepmenkes diatas diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No 25 tahun 2000 pasal 3 ayat 5 yang menyebutkan kewenangan pemerintah (pusat) antara lain adalah pencegahan penyakit menular.
Dalam pedoman penyelenggaraan survailans tersebut secara jelas dituliskan bahwa lingkup penyelenggaraan survailans epidemiologi tidak hanya terbatas pada penyakit menular dan tidak menular, namun juga termasuk survailans faktor risiko lingkungan dan prilaku, survailans masalah kesehatan serta masalah matra. Lingkup penyelenggaraan survailans epidemiologi ini sejalan dengan kebijakan Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan yang dikenal dengan model “ Manajemen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Terpadu Berbasis Wilayah”

Tujuan Penerapan Survailans Epidemiologi
Tersedianya data dan informasi epidemiologi yang faktual, cepat, tepat/akurat dan terpercaya untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program kesehatan serta meningkatkan kewaspadaan (sistem kewaspadaan dini) dan respons yang tinggi terhadap kejadian luar biasa (KLB) ditingkat Kecamatan/Puskesmas, Kabupaten/Kota dan propinsi yang didukung Tim Epidemiologi Propinsi (TEP) dan Tim Epidemiologi Kab/Kota (TEK) yang handal
Tujuan akhir (goals) dari survailans epidemioligi ini adalah tersedianya sejumlah Health Output berupa data dan informasi yang digunakan sebagai alasan dan bukti dalam membuat tindakan atau program atau kebijakan (Evidance Based Health Management).
Sistem Survailans Nasional
Indonesia sebagai warga dunia dan anggota PBB, memiliki komitmen kerjasama global dalam memerangi atau menghadapi berbagai penyakit secara global. Banyak komitmen global yang berkaitan dengan survailans. Komitmen global juga merupakan komitmen kabupaten/ kota dengan demikian pelaksana komitmen terhadap survailans dunia khususnya WHO adalah kabupeten /Kota.
Survailans sebagai suatu kondisi pengumpul, analisis dan interpretasi data dan disseminasi informasi terhadap pihak terkait dalam upaya mengambil tindakan yang diperlukan (WHO), harus mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk pengembangan strategi kesehatan masyarakat, pengenalan kondisi ancaman dan mengontrol penyebaran penyakit ditengah masyarakat. Survailans epidemiologi yang ditetapkan Pemerintah dengan strtegi terpadu berbasis wilayah ternyata belum mampu diterapkan di daerah. Banyak yang menjadi kendala, seperti kurangnya tenaga mahir dan berdedikasi tinggi, masih rendahnya perhatian terhadap makna dan manfaat data dan fakta sebagai basis perencanaan dan tindakan (evidence based health management), disamping pengorganisasian yang lemah dan minimnya anggaran serta terbatasnya sarana dan prasarana pendukung. Kendala-kendala ini menjadi penyebab rendahnya kualitas survailans, sehingga kejadian luar biasa penyakit menular maupun tidak menular selalu terjadi dan terlambat penanganannya.
Sistem survailas nasional secara built in merupakan fungsi atau berada dalam sistem P2PL Indonesia (CDC Indonesia). Sebagai pelaksana survailans tetap wilayah otonomi kabupaten/kota (Kern and Reichepfader, 2004). Pelaksanaan survailans tetap ada di Kabupaten/kota atau wilayah otonomi, untuk itu diperlukan kerjasama antara kabupaten dan kota dengan sistem nasional. Meski kabupaten/kota memiliki otonomi untuk mengurus rumah tangganya sendiri tidak berarti bahwa kabupaten/kota tidak memiliki komitmen sama sekali terhadap survailans nasional bahkan global. Kantor P2PL bekerjasama dengan propinsi melakukan fungsi koordinasi pelaksanaan survailans nasional tersebut.
Survailans pada tingkat wilayah kabupaten/kota adalah kegiatan yang dilakukan secara terintegrasi berkesinambungan dan terpadu, antara kegiatan survailans kejadian penyakit dengan kegiatan survailans berbagai faktor resiko penyakit berkenaan, dalam satu wilayah. Pengertian terpadu disini adalah, baik faktor resiko maupun penyakitnya diukur secara bersamaan, dianalisi, mengambil sumber daya yang sama serta pengambilan keputusannya pun harus dilakukan secara simultan atau terintegrasi.

Pendekatan Program
Survailans epidemiologi merupakan suatu alat manajemen dalam mengelola suatu program yang dalam operasionalnya merupakan suatu pendekatan pola pikir dan pola prilaku yang selalu berorientasi pada bukti baik individu maupun organisasi. Dengan demikian selalu berorientasi problem solving bukan berorientasi pada proyek dan target. Oleh karena itu kepedulian terhadap pentingnya manajemen data menjadi prasarat utama bagi setiap orang, terutama para pemimpin institusi.
Manajemen kesehatan harus berbasis fakta yang cermat, cepat, tepat dan akurat. Untuk itu, legal dan formal sudah cukup peraturan Perundang-undangan memayungi, melindungi dan menjadi dasar bagi para pembuat kebijakan dibidang kesehatan untuk mengelola penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi kesehatan pada semua tingkat administrasi pemerintahan.
Surveilans epidemiologi memungkinkan pengambil keputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif. Surveilans epidemiologi memberikan informasi kewaspadaan dini bagi pengambil keputusan dan manajer tentang masalah-masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada suatu populasi. Surveilans epidemiologi merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreakpenyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. Informasi dari surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan, kementerian keuangan, dan donor, untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik (DCP2, 2008). Gambar 5.1 menyajikan skema sistem surveilans.
image002

Masalah kesehatan adalah multi kausa dan tidak kenal batas wilayah. Oleh karena itu penyelesaiannya harus pendekatan system dan melibatkan lintas sektor yang berperan secara aktif. Untuk itu diperlukan adanya Tim Survailans Epidemiologi diberbagai jenjang institusi kesehatan serta jejaring kerja survailans epidemiologi baik secara horizontal maupun vertikal dengan melibatkan Pemerintah Daerah, DPRD, Bappeda, Dinas terkait, Universitas serta UPT Pusat Seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan maupun UPT Daerah seperti Balai Laboratorium, dan lain-lain.
Untuk menyelenggarakan survailans epidemiologi dalam era otonomi dan sentralisasi ini, maka pengembangan jejaring dan kemitraan dengan instansi pemerintah dan swasta di semua tingkat administrasi, baik pusat, propinsi dan kabupaten/kota serta regional antara negara sangat penting. Jejaring dan kemitraan ini akan meningkatkan kerjasama dan komunikasi antara semua tingkat administrasi pemerintah agar berbagai data dan informasi penting dapat segera disebarluaskan, supaya masing-masing tingkat administrasi pemerintahan dapat mengambil langkah segera sesuai dengan tanggung –jawab dan kewenangannya masing-masing.
Oleh karena itu, di jajaran kesehatan jejaring yang merupakan jejaring kerjasama (networking) antar tingkatan ini perlu digalakkan dalam upaya memperkuat (strengthening) dan untuk mangkin memantapkan pelaksana survailans epidemiologi untuk menjamin pelayanan yang lebih baik kepada seluruh lapisan masyarakat, baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan kedaruratan (emergency).

Contoh Penerapan Survailans Epidemiologi
Dalam tiga dasa warsa terakhir ini berbagai penyakit infeksi baru yang disebut New Emerging Infectious Diseases telah muncul di dunia. Dalam pada itu dalam delapan tahun terakhir ini telah muncul pula issue tentang bioterorisme. Sejak Desember 2003 kita telah mendengar laporan munculnya penyakit sapi gila pada ternak di Amerika Utara yang dapat menyerang manusia dalam bentuk Crutzfeld Jacob Disease . Kita juga telah mendengar laporan tentang meningkatnya kejadian influenza di Amerika dan Eropa serta wabah flu burung atau avian flu pada ternak unggas di beberapa negara Asia bahkan sudah menyerang sebagian besar wilayah Indonesia dimana penyakit ini juga menyerang manusia yang ternyata serotype nya H5N1. Penerapan survailans epidemiologi dalam komitmen untuk mengumpulkan data gejala influenza yang dikenal sebagai Influenza Like Illnes (ILI) Survailans untuk memantau kemunculan berbagai penyakit saluran nafas seperti flu burung dan SARS meliputi pola penyebarannya, kelompok resikonya, resiko yang ditimbulkannya, pencegahannya dan sistem monitoring dan penanggulangan wabah. Penerapan Accute Flaccid Paralyses Survailans untuk pelaksanaan program eradikasi polio dimana informasinya diperlukan secara nasional.
Kasus wabah nipah virus sekitar tahun 2003 yang melanda dan menyebar di 32 negara termasuk Malaysia dan Bangladesh. Dengan survailans epidemiologi maka dapat diketahui pola penularan nipah vurus di Malaysia adalah melalui mekanisme sbb: kalelawar makan jambu, kemudian jambu jatuh dan kemudian dimakan babi yang selanjutnya daging babi tersebut dimakan manusia sehingga menusia tersebut sakit. Sedangkan di Bangladesh mekanismenya sbb: kalelawar memakan jambu, jambu jatuh dan selanjutnya dimakan manusia (anak-anak) kemudian anak tersebut sakit.
Surveilans cakupan imunisasi dan KIA setiap bulan dan tahun dalam hal ini peranan surveilans adalah dalam pengumpulan data setelah pelaksanaan program imunisasi meliputi : cakupan, jumlah sasaran, kelopok umur, dll. Kemudian data diolah, dianalisis sehingga menjadi informasi untuk perencanaan program imunisasi dan KIA, penanggulangan & pencegahan penyakit yang ditemui apalagi menyangkut penyakit anak yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Survailans sebagai monitoring berperan dalam : monitor pelaksanaan program imunisasi dan pengawasan KIA untuk mengurangi angka morbiditas anak dan ibu.
Penggunaan surveilans untuk mendeteksi outbreak disentri pada suatu wilayah kerja puskesmas dan untuk memonitor performa dan efektivitas program
pengendalian TB menunjukkan grafik sebagai berikut:
image006image004

Dari grafik ini kita dapat menganalisa, dan mengambil kebijakan tindakan apa yang dapat dilakukan dari hasil pendataan dan interpretasi data dengan begitu tindakan yang akan diputuskan akan lebih tepat sasaran.

image008
Grafik 3 merupakan data ABJ (Angka Bebas Jentik) dari pemantauan warga melalui perkumpulan Dasawisma.
image010
Dari grafik hasil survailans tentang kasus DBD & ABJ tersebut dapat dibuat interpretasi terhadap data berupa:
1. Bagaimana Grafik_2 dibaca..?
2. Bagaimana hubungan curah hujan dan kejadian kasus DBD..?
3. Bagaimana pendapat kita, masalah potensial apa yang terjadi berdasarkan Grafik‐2 dan grafik‐3 diatas..? .
Walaupun dalam makalah ini tidak saya tampilkan bagaimana cara membacanya dan hasil interpretasinya tetapi ini adalah contoh penerapan survailans epidemiologi semoga Pembaca dapat mengetahui gambaran penggunaan survailans epidemiologi tersebut dapat dalam banyak tampilan dan untuk lebih jelasnya dapat belajar lebih lanjut melalui pelatihan Survailans Epidemiologi dan saya berharap pemerintah dan pengambil kebijakan dapat memfasilitasi pelatihan tersebut kepada petugas yang ditunjuk untuk menjadi Tim Survailan Epidemiologi.
Belajar dari berbagai kejadian dan contoh diatas tampak bahwa peranan survailans epidemiologi sangat menentukan dalam upaya memutuskan rantai penularan suatu penyakit, Survailans juga tidak harus memonitoring terhadap penyakit tertentu. Survailans faktor resiko tertentu, misalnya kualitas air atau kualitas udara, juga dapat dilakukan secara nasional. Hanya saja, dalam skala global survailans faktor risiko, kecuali air, tidak banyak upaya-upaya global untuk mengetahui kualitas lingkungan. Upaya kerjasama dalam hal kualitas udara, atau paremeter iklim seringkali di program melalui kerjasama di luar sektor kesehatan. Situasi ini menunjukkan bahwa peranan survailans epidemiologi serta jejaring, kemitraan dan kerjasama di antara kita semua sangat diperlukan, bukan hanya untuk melayani masyarakat tetapi juga untuk melindungi keluarga kita dan bahkan diri kita sendiri.

Strategi Aplikasi Survailans Epidemiologi
Kemampuan menyediakan data yang cepat,akurat, lengakap dan mudah merupakan harapan yang harus segera diwujudkan untuk menurunkan secara bermakna morbiditas dan mortalitas akibat endemic/epidemik penyakit menular maupun penyakit tidak menular sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya penyelenggaraan upaya kesehatan dalam mewujudkan tujuan mencapai Indonesia sehat 2015.
Dengan pendekatan program yang membutuhkan penguatan sistem survailan epidemiologi tersebut dalam rangka membangun sistem kesehatan yang berbasis desentralisasi dan pelayanan kesehatan yang berkualitas, antisipatif, responsif, proaktif, efisien dan efektif dengan perhatian pada kelompok masyarakat dan secara teknis menyentuh semua aspek dan unsur yang terlibat dalam survailans epidemiologi, maka dipastikan sistem pengamatan penyakit akan berjalan dengan baik dan berhasil guna.
Strategi yang perlu diambil dalam upaya penguatan system dalam menerapkan survailans epidemiologi ini adalah sebagai berikut:
1.Penemuan sebab ( cause fiding) kegagalan, risk factor dan kendala tehnis survailans epidemiologi secara analitis dan komprehensif
2.Menyediakan dan memfasilitasi forum komunikasi kajian epidemiologi melalui diskusi, seminar, lokakarya dan kegiatan lainnya yang bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional.
3.Memberikan konsultasi teknis dan pelatihan secara sitematis dan praktis dalam bidang penelitian, pelatihan, advokasi dan pembelajaran.
4.Membentuk jejaring komunikasi ( net working) dan pemantapan sistem informasi kesehatan dari dan ke seluruh tingkata administrasi manajemen pelayanan kesehatan.
5.Pemantapan fungsi Tim Epidemiologi Kabupaten/kota dan propinsi
6.Penerbitan media berkala bulletin epidemiologi
7.Menciptakan survailans yang memiliki harmonisasi dalam metodelogi dan defenisi kasus dengan standar operating procedures baku dengan sistem evaluasi dalam kendali mutu pelaksanannya
8.Survailans epidemiologi yang dilakukan harus berorientasi program bukan project oriented dan bersipat berkesinambungan serta pengambilan keputusannya harus dilakukan secara simultan atau terintegrasi
9.Pelaksanaan desseminasi dan publikasi data survailans dan informasi kesehatan harus berjalan semestinya agar tujuan desseminasi tercapai untuk menciptakan sistem desseminasi yang efektif
10.Advokacy kepada para pembuat keputusan pemerintah dan stekeholder terkait lainnya
11.Pemantapan manajemen kegiatan survailans.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pentingnya penyeleng-garaan pusat data penyakit dan informasi kesehatan:
a.Akses terhadap informasi cepat, dipercaya menyangkut penyakit dan kesehatan adalah hak rakyat (access to timely and reliable information on health and diseases is a citizen’s right) ini merupakan kunci dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan
b.Pengambilan keputusan yang rasional, penetapan prioritas menyangkut kesehatan masyarakat sangat membutuhkan informasi tepat waktu dan akurat
c.Penyediaan bahan obat/farmasi dilakukan berdasrkan data epidemiologi tidak dilakukan berupa kebutuhan pokok kontinyu.
Teknologi internet yang sekarang ini semamgkin baik, dan sistem teknologi yang semangkin lengkap dikemas dengan kemampuan manajemen yang teratur akan mampu menyediakan informasi pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan dokter, pasien dan masyarakat serta institusi pelayanan kesehatan lainnya sehingga dapat digunakan sebagai sarana survailans.
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam penyelenggaraan sistem pelayanan kesehatan yang baik dan berguna bagi pencapaian Indonesia sehat 2015.
Kepuatakaan:
Seksi Ilmiah, 2004 : Strategi Pemantapan Aplikasi Survailns Epidemiologi Dalam Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesi Sehat 2010 pada Simposium Survailans Kesehatan Epi-Treat Unit Program Pascasarjana USU
Achmadi Fahmi Umar, 2008: Horison Baru Kesehatan Masyarakat Di Indonesia , Penerbit Rineka Cipta, Jakarta
Achmadi Fahmi Umar. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis, Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Intisari Epidemiologi. Jakarta; Mitra Cendikia press.
Bhisma Mukti, 2008: Survailans Kesehatan Masyarakat ,. Pdf

KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN PENDEKATAN GENETIKA

Posted on

Kesehatan Masyarakat Dengan Pendekatan Genetika ~~~ Oleh Elvi Zuliani

Latar Belakang

Menurut berbagai penulis (mis, Baum,2002, Mc Michael,2002, Last, 2002) bahwa Masa depan kesehatan masyarakat sulit untuk diprediksi. Adanya perkembangan beberapa faktor diterminan kesehatan yang amat pesat perkembangannya , dikemukakan ada tiga determinan utama yang bisa menentukan arus utama kesehatan masyarakat yaitu: pertama globalisasi, kedua adalah perubahan lingkungan globaltermasuk didalamnya perubahan iklimyang menentukan ekosistemdan yang ketiga teknologi genomic yang bisa menjungkirbalikkan teori-teori ilmu sosial dan kesehatn termasuk kesehatan masyarakat.
Pada kesempatan ini saya akan coba mengungkapkan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat timbul maupun berkembang sejalan dengan teknologi genomic atau berpandangan genetika.

Bagi ahli kesehatan masyarakat pencapaian teknologi genetika bisa digunakan untuk mencegah penyakit dan upaya kesehatan masyarakat secara lebih terarah dan terfokus.
Segala hal yang menyangkut informasi biologi manusia semua tersimpan di bagian inti dari sel-sel kehidupan yakni substansi yang dikenal dengan nama gen. Gen menyimpanberbagai informasi tentang keturunan, potensi penyakit yang akan diderita, variasi antar manusia dan kesehatan secara umum.

Penerapan ilmu Genetika bagi Kesehatan Masyarakat
Dengan teknologi baru, kini gen manusia tela dipetakan. Tidak hanya dipetakan, namun bisa diutak atik, dimodifikasi sehingga penyakit bisa sembuh. Diperkirakan pada tahun 2015 atau 2025, pendekatan konvensional dalam bidang kesehatan akan menjadi masa lalu dan tergantikan dengan teknologi baru yang disebut pendekatan genetic.
Sebagai contoh misalnya kegiatan kesehatan masyarakat atau Public Health dalam pelaksanaannya selalu berorientasi pencegahan melalui promosi, prevensi. Namun untuk melakukan pencegahan fokus perhatiannya adalah:
a.Untuk penyakit menular, fokus perhatiannya adalah disease management
b.Program pencegahan juga seringkali diarahkan kepada pengendalian faktor resiko seperti kegemukan (obesitas), darah tinggi, resiko lingkungan dan lain-lain
c. Pencegahan yang ditujukan kepada penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi
d. Screening seperti Pap’s smear, Check up dalam kesehatn kerja dll.
Dimasa yang akan datang upaya pencegahan hal-hal tersebut akan dilakukan dengan pendekatan teknologi genetika.
Dalam perspektif sel, seluruh tubuh manusia terbangun oleh milyaran sel-sel. Sel-sel ini hidup, membelah diri, untuk meremajakan diri dan melaksanakan tugas dan fungsinya dikendalikan oleh sistem hormonal serta perintah mekanisme tubuh lainnya sesuai cetak biru (blu print) DNA yang menggambarkan jati diri seseorang seutuhnya.
Seseorang itu bersifat pemarah, tinggi atau pendek, berambut ikal, kalau tua pada umur 60 tahun akan mendapat penyakit jantung mengalami kelainnan seperti Alzaimer dal nain sebagainya, informasi ini sudah terdapat dalam genome atau DNA tersebut. Kalau tidak ada intervensi atau upaya mengubah konsep ini hampir dipastikan semua orang akan mengikuti cetak biru ini.Kecuali dalam perjalanan hidupnya bisa dilakukan upaya-upaya pencegahan baik pada lingkungannya, maupun pada genomenya. Sebagai contoh bila dalam DNA (blue print) seseorang memiliki potensi hiper-reaktif terhadap debu tertentu, maka untuk pencegahan, modifikasi genomenya atau usaha tidak kontak dengan debu tersebut. Seperti kita ketahui Public Health menitik beratkan pada pencegahan primer.
Informasi genetika tiap manusia disimpan dalam DNA yang terletak di dalam sel-sel yang membentuk tubuh manusi. DNA berfungsi sebagai instruksi kehidupan, mirip sebuah cetak biru dan merupakan dasr kehidupan manusia. DNA diteruskan dari orang tua ke anaknya, ke cucunya dan seterusnya kesegenap keturunannya. Genetika manusia juga memberikan informasi bagaiman DNA tersebut berinteraksi terhadap lingkungan, dan menyebabkan beberapa organ tidak berfungsi sebagaimana harusnya, serta dapat menimbulkan penyakit.
Telah teridentifikasi sekitar 5.000 penyakit yang dikenal telah diketahui penyebabnya yang dikaitkan dengan perubahan single-gendan hal ini sudah bisa diketahui ketika anak lahir. Seorang ahli epidemiologi kemudian bisa memetakan berdasarkan distribusi variasi.Ahli kedokteran yakin bahwa nyaris semua penyakit memiliki dasar informasi genetika. Bagaimana bereaksi terhadap bahan kimia, racun, obat-obatan dll masing-masing berbeda satu sama lain dan sebagainya meski perbedaan itu kecil sekali. Semua penyakit maupun berbagai variabel sifat yang diturunkan secara genetika diakibatkan oleh adanya hubungan antar manusia dengan lingkungan.
Penyakit yang sudah diketahui berkenaan dengan berbagai masalah genetika antara lain penyakit cystic fibrosis, hemophilia, cara bereaksi terhadap allergen, kanken payudara, penyakit kardiovaskuler, penyakit sklerotik dan kegemukan dan diduga masih banyak penyakit-penyakit lain seiring dengan teknologi genetika dan kedokteran itu sendiri akan ditemukan.Pencegahan dapat dilakukan dan dikomfirmasi dengan peta struktur genetika tersebut, bagi keturunan orang yang menderita penyakit-penyakit tersebutdapat melakukan antisipasi sejak awal sehingga merupakan tidakan pencegahan dan hal ini memungkinkan orang akan hidup lebih optimal.

Kesehatan Masyarakat Berbasis Genetika
Suatu kegiatan dapat dikatakan kegiatan kesehatan masyarakt bila memenuhi kriteria 4 hal , yaitu:
a. Pertama berorientasi kepada penduduk secara keseluruhan dalam sebuah wilayah yang menjadi area garapannya
b. Ilmu Kesehatan Masyarakat senantiasa berorientasi pada pencegahan
c. Pendekatan Kesehatan Masyarakat selalu multidisiplin dan dalam prakteknya senantiasa bersifat lintas sektor,
d. Kesehatan Masyarakat senantiasa mengikut-sertakan masyarakat dalam mencapai tujuannya (Ahmadi, 2005)

Penggunaan teknologi genomic oleh ahli kesehatan masyarakt menjadi suatu tantangan. Salah satu ciri kesehatan masyarakat adalah berorientasi pencegahan. Selain itu didalam pelaksanaannya berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan dalam sebuah wilayah, bersifat lintas disiplin dan mengikutsertakan komponen masyarakat. Para ahli kesehatan masyarakat harus mampu mengembangkan, menganalisa dan membantu menyebarluaskan ilmu ini sehingga akan membantu penerapan ilmu genetika ke dalam kegiatan pelaksanaan kesehatan masyarakat berbasis genetika, untuk tujuan-tujuan pencegahan.

Semoga segala hal yang dapat diterapkan demi kemajuan dan kemaslahatan penduduk khususnya masyarakat akan dapat dikembang gunakan dan Indonesia dapat mengikuti jejak negara-negara yang sudah berorientasi dengan kemaslahatan rakyatnya

Sumber Bacaan
Achmadi Umar Fahmi, 2007. Horison Baru Kesehatan Masyarakat Di Indonesia , Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Kesehatan Masyarakat

Posted on Updated on

Kesehatan merupakan aset berharga untuk dapat memiliki kesehatan kita harus berupaya dan dapat memiliki kebiasaan hidup yang teratur sesuai dengan sistem keseimbangan. Bila hidup tidak memiliki keseimbangan maka akan terjadi keadaan yang menyimpang dan menimbulkan penyakit
Sesuai dengan konsep Gordon penyebab penyakit adalah ketidak seimbangan antara Host, Agent dan Envirotment

Pengertian tentang Kesehatan Masyarakat adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang dari sekumpulan orang-orang yang merasa bersama karena di ikat oleh kesamaan-kesamaan dalam hidup sehari-hari untuk dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sebagai aset negara kesehatan masyarakat akan mendukung kemajuan dan produktifitas suatu bangsa. Bangsa yang maju dan terpandang bila memiliki SDM yang handal dan dapat dibanggakan. SDM itu bersumber dari kekuatan dan kemandirian rakyat. Rakyat mandiri berasal dari masyarakat yang sehat. Masyarakat sehat, negara kuat dan maju. mari kita ciptakan masyarakat sehat sejahtera.
Status Kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor utama yaitu:
1. Lingkungan
2. Prilaku Masyarakat
3. Pelayanan kesehatan Masyarakat
4. Herediter