PENERAPAN SURVAILANS EPIDEMIOLOGI

Posted on

PENERAPAN SURVAILANS EPIDEMIOLOGI DALAM PENYELENGGARAAN UPAYA KESEHATAN DI INDONESIA
Oleh:
Elvi Zuliani, SKM

DASAR PEMIKIRAN
Pembangunan Kesehatan merupakan upaya penyeleng-garaan kesehatan untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduknya. Salah satu upaya penting dalam Penyel-enggaraan upaya kesehatan adalah survailans epidemiologi.
Pada beberapa dekade terakhir banyak negara di dunia mengalami kepanikan disebabkan munculnya penyakit infeksi yang tidak mengenal batas geografis. Belum lagi situasi dunia di eraglobalisasi ini memiliki begitu kompleks permasalahan kesehatan meliputi pendistribusian hasil produksi yang tak terbatas dapat menyebar diseluruh belahan dunia dengan segala dampak akibat dari hasil produk makanan, produk industri, produk pertanian dan sebagainya. Persoalan lingkungan dan bencana alam yang melanda dunia dan segala permasalahan yang terus berkembangan bersamaan dengan subsidi silang disetiap negara di dunia yang saling berhubungan.
Indonesia sebagai negara yang ikut aktib dalam percaturan dunia tidak lepas dari dampak apapun terhadap kondisi dan situasi tersebut baik yang positif atau negatif. Keadaan ini seharusnya dapat dikendalikan manakala provider kesehatan beserta masyarakat terlatih, terampil dan disiplin untuk memanfaatkan survailans epidemiologi yang pedoman manajemen maupun pedoman peraktisnya telah disusun pemerintah melalui Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dapat dilaksanakan secara efektif dan terpadu di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota.
Untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2015, manajemen kesehatan membutuhkan informasi kesehatan yang tersusun dalam sistem informasi kesehatan nasional (SIKNAS). Untuk menjamin ketersediaan data dan informasi masalah kesehatan dan jumlah serta pendistribusian penduduk dalam memenuhi kebutuhan JPKN (jaring pelayanan kesehatan nasional)maka perlu difungsikan sistem survailans epidemiologi kesehatan sebagai substansi dari SIKNAS.
Survailans epidemiologi adalah upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis data dan informasi dari berbagai kejadian kesehatan untuk disebarluaskan dan kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, survailans epidemiologi sangat diperlukan dalam manajemen program kesehatan dan harus dilaksanakan dalam menyelenggarakan berbagai tugas dan fungsi khususnya disektor kesehatan.
Dasar Hukum Penyelenggaraan Survailans
Dalam penyelenggaraan survailans epidemiologi kesehatan , Menteri Kesehatan RI telah menerbitkan 2 (dua) keputusan penting yakni:
1.Kepmenkes RI No. 116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang pedoman penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi kesehatan di dalam pedoman ini yang termasuk lingkup sistem survailans epidemiologi kesehatan adalah: Survailans epidemiologi penyakit menular, survailans epidemiologi penyakit tidak menular, survailans epidemiologi kesehatan lingkungan dan prilaku, survailans epidemiologi masalah kesehatan, survailans epidemiologi kesehatan matra.
2.Dan Kepmenkes RI No. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang pedoman penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi penyakit menular dan penyakit tidak menular terpadu (Survailans Terpadu Penyakit) didalam pedoman ini yang termasuk lingkup survailans terpadu penyakit adalah: STP bersumber data puskesmas (25 penyakit menular), STP bersumber data rumah sakit (25 penyakit menular & 4 penyakit tidak menular), STP bersumber data laboratorium ( 8 penyakit menular), STP bersumber data KLB penyakit & keracunan, STP bersumber data puskesmas sentinel (25 penyakit menular amp; 2 penyakit tidak menular), STP bersumber data rumah sakit sentinel ( 25 penyakit menular & 24 penyakit tidak menular). Dan Kepmenkes diatas diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No 25 tahun 2000 pasal 3 ayat 5 yang menyebutkan kewenangan pemerintah (pusat) antara lain adalah pencegahan penyakit menular.
Dalam pedoman penyelenggaraan survailans tersebut secara jelas dituliskan bahwa lingkup penyelenggaraan survailans epidemiologi tidak hanya terbatas pada penyakit menular dan tidak menular, namun juga termasuk survailans faktor risiko lingkungan dan prilaku, survailans masalah kesehatan serta masalah matra. Lingkup penyelenggaraan survailans epidemiologi ini sejalan dengan kebijakan Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan yang dikenal dengan model “ Manajemen Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Terpadu Berbasis Wilayah”

Tujuan Penerapan Survailans Epidemiologi
Tersedianya data dan informasi epidemiologi yang faktual, cepat, tepat/akurat dan terpercaya untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi program kesehatan serta meningkatkan kewaspadaan (sistem kewaspadaan dini) dan respons yang tinggi terhadap kejadian luar biasa (KLB) ditingkat Kecamatan/Puskesmas, Kabupaten/Kota dan propinsi yang didukung Tim Epidemiologi Propinsi (TEP) dan Tim Epidemiologi Kab/Kota (TEK) yang handal
Tujuan akhir (goals) dari survailans epidemioligi ini adalah tersedianya sejumlah Health Output berupa data dan informasi yang digunakan sebagai alasan dan bukti dalam membuat tindakan atau program atau kebijakan (Evidance Based Health Management).
Sistem Survailans Nasional
Indonesia sebagai warga dunia dan anggota PBB, memiliki komitmen kerjasama global dalam memerangi atau menghadapi berbagai penyakit secara global. Banyak komitmen global yang berkaitan dengan survailans. Komitmen global juga merupakan komitmen kabupaten/ kota dengan demikian pelaksana komitmen terhadap survailans dunia khususnya WHO adalah kabupeten /Kota.
Survailans sebagai suatu kondisi pengumpul, analisis dan interpretasi data dan disseminasi informasi terhadap pihak terkait dalam upaya mengambil tindakan yang diperlukan (WHO), harus mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk pengembangan strategi kesehatan masyarakat, pengenalan kondisi ancaman dan mengontrol penyebaran penyakit ditengah masyarakat. Survailans epidemiologi yang ditetapkan Pemerintah dengan strtegi terpadu berbasis wilayah ternyata belum mampu diterapkan di daerah. Banyak yang menjadi kendala, seperti kurangnya tenaga mahir dan berdedikasi tinggi, masih rendahnya perhatian terhadap makna dan manfaat data dan fakta sebagai basis perencanaan dan tindakan (evidence based health management), disamping pengorganisasian yang lemah dan minimnya anggaran serta terbatasnya sarana dan prasarana pendukung. Kendala-kendala ini menjadi penyebab rendahnya kualitas survailans, sehingga kejadian luar biasa penyakit menular maupun tidak menular selalu terjadi dan terlambat penanganannya.
Sistem survailas nasional secara built in merupakan fungsi atau berada dalam sistem P2PL Indonesia (CDC Indonesia). Sebagai pelaksana survailans tetap wilayah otonomi kabupaten/kota (Kern and Reichepfader, 2004). Pelaksanaan survailans tetap ada di Kabupaten/kota atau wilayah otonomi, untuk itu diperlukan kerjasama antara kabupaten dan kota dengan sistem nasional. Meski kabupaten/kota memiliki otonomi untuk mengurus rumah tangganya sendiri tidak berarti bahwa kabupaten/kota tidak memiliki komitmen sama sekali terhadap survailans nasional bahkan global. Kantor P2PL bekerjasama dengan propinsi melakukan fungsi koordinasi pelaksanaan survailans nasional tersebut.
Survailans pada tingkat wilayah kabupaten/kota adalah kegiatan yang dilakukan secara terintegrasi berkesinambungan dan terpadu, antara kegiatan survailans kejadian penyakit dengan kegiatan survailans berbagai faktor resiko penyakit berkenaan, dalam satu wilayah. Pengertian terpadu disini adalah, baik faktor resiko maupun penyakitnya diukur secara bersamaan, dianalisi, mengambil sumber daya yang sama serta pengambilan keputusannya pun harus dilakukan secara simultan atau terintegrasi.

Pendekatan Program
Survailans epidemiologi merupakan suatu alat manajemen dalam mengelola suatu program yang dalam operasionalnya merupakan suatu pendekatan pola pikir dan pola prilaku yang selalu berorientasi pada bukti baik individu maupun organisasi. Dengan demikian selalu berorientasi problem solving bukan berorientasi pada proyek dan target. Oleh karena itu kepedulian terhadap pentingnya manajemen data menjadi prasarat utama bagi setiap orang, terutama para pemimpin institusi.
Manajemen kesehatan harus berbasis fakta yang cermat, cepat, tepat dan akurat. Untuk itu, legal dan formal sudah cukup peraturan Perundang-undangan memayungi, melindungi dan menjadi dasar bagi para pembuat kebijakan dibidang kesehatan untuk mengelola penyelenggaraan sistem survailans epidemiologi kesehatan pada semua tingkat administrasi pemerintahan.
Surveilans epidemiologi memungkinkan pengambil keputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif. Surveilans epidemiologi memberikan informasi kewaspadaan dini bagi pengambil keputusan dan manajer tentang masalah-masalah kesehatan yang perlu diperhatikan pada suatu populasi. Surveilans epidemiologi merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreakpenyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. Informasi dari surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan, kementerian keuangan, dan donor, untuk memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik (DCP2, 2008). Gambar 5.1 menyajikan skema sistem surveilans.
image002

Masalah kesehatan adalah multi kausa dan tidak kenal batas wilayah. Oleh karena itu penyelesaiannya harus pendekatan system dan melibatkan lintas sektor yang berperan secara aktif. Untuk itu diperlukan adanya Tim Survailans Epidemiologi diberbagai jenjang institusi kesehatan serta jejaring kerja survailans epidemiologi baik secara horizontal maupun vertikal dengan melibatkan Pemerintah Daerah, DPRD, Bappeda, Dinas terkait, Universitas serta UPT Pusat Seperti Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan maupun UPT Daerah seperti Balai Laboratorium, dan lain-lain.
Untuk menyelenggarakan survailans epidemiologi dalam era otonomi dan sentralisasi ini, maka pengembangan jejaring dan kemitraan dengan instansi pemerintah dan swasta di semua tingkat administrasi, baik pusat, propinsi dan kabupaten/kota serta regional antara negara sangat penting. Jejaring dan kemitraan ini akan meningkatkan kerjasama dan komunikasi antara semua tingkat administrasi pemerintah agar berbagai data dan informasi penting dapat segera disebarluaskan, supaya masing-masing tingkat administrasi pemerintahan dapat mengambil langkah segera sesuai dengan tanggung –jawab dan kewenangannya masing-masing.
Oleh karena itu, di jajaran kesehatan jejaring yang merupakan jejaring kerjasama (networking) antar tingkatan ini perlu digalakkan dalam upaya memperkuat (strengthening) dan untuk mangkin memantapkan pelaksana survailans epidemiologi untuk menjamin pelayanan yang lebih baik kepada seluruh lapisan masyarakat, baik dalam keadaan biasa maupun dalam keadaan kedaruratan (emergency).

Contoh Penerapan Survailans Epidemiologi
Dalam tiga dasa warsa terakhir ini berbagai penyakit infeksi baru yang disebut New Emerging Infectious Diseases telah muncul di dunia. Dalam pada itu dalam delapan tahun terakhir ini telah muncul pula issue tentang bioterorisme. Sejak Desember 2003 kita telah mendengar laporan munculnya penyakit sapi gila pada ternak di Amerika Utara yang dapat menyerang manusia dalam bentuk Crutzfeld Jacob Disease . Kita juga telah mendengar laporan tentang meningkatnya kejadian influenza di Amerika dan Eropa serta wabah flu burung atau avian flu pada ternak unggas di beberapa negara Asia bahkan sudah menyerang sebagian besar wilayah Indonesia dimana penyakit ini juga menyerang manusia yang ternyata serotype nya H5N1. Penerapan survailans epidemiologi dalam komitmen untuk mengumpulkan data gejala influenza yang dikenal sebagai Influenza Like Illnes (ILI) Survailans untuk memantau kemunculan berbagai penyakit saluran nafas seperti flu burung dan SARS meliputi pola penyebarannya, kelompok resikonya, resiko yang ditimbulkannya, pencegahannya dan sistem monitoring dan penanggulangan wabah. Penerapan Accute Flaccid Paralyses Survailans untuk pelaksanaan program eradikasi polio dimana informasinya diperlukan secara nasional.
Kasus wabah nipah virus sekitar tahun 2003 yang melanda dan menyebar di 32 negara termasuk Malaysia dan Bangladesh. Dengan survailans epidemiologi maka dapat diketahui pola penularan nipah vurus di Malaysia adalah melalui mekanisme sbb: kalelawar makan jambu, kemudian jambu jatuh dan kemudian dimakan babi yang selanjutnya daging babi tersebut dimakan manusia sehingga menusia tersebut sakit. Sedangkan di Bangladesh mekanismenya sbb: kalelawar memakan jambu, jambu jatuh dan selanjutnya dimakan manusia (anak-anak) kemudian anak tersebut sakit.
Surveilans cakupan imunisasi dan KIA setiap bulan dan tahun dalam hal ini peranan surveilans adalah dalam pengumpulan data setelah pelaksanaan program imunisasi meliputi : cakupan, jumlah sasaran, kelopok umur, dll. Kemudian data diolah, dianalisis sehingga menjadi informasi untuk perencanaan program imunisasi dan KIA, penanggulangan & pencegahan penyakit yang ditemui apalagi menyangkut penyakit anak yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Survailans sebagai monitoring berperan dalam : monitor pelaksanaan program imunisasi dan pengawasan KIA untuk mengurangi angka morbiditas anak dan ibu.
Penggunaan surveilans untuk mendeteksi outbreak disentri pada suatu wilayah kerja puskesmas dan untuk memonitor performa dan efektivitas program
pengendalian TB menunjukkan grafik sebagai berikut:
image006image004

Dari grafik ini kita dapat menganalisa, dan mengambil kebijakan tindakan apa yang dapat dilakukan dari hasil pendataan dan interpretasi data dengan begitu tindakan yang akan diputuskan akan lebih tepat sasaran.

image008
Grafik 3 merupakan data ABJ (Angka Bebas Jentik) dari pemantauan warga melalui perkumpulan Dasawisma.
image010
Dari grafik hasil survailans tentang kasus DBD & ABJ tersebut dapat dibuat interpretasi terhadap data berupa:
1. Bagaimana Grafik_2 dibaca..?
2. Bagaimana hubungan curah hujan dan kejadian kasus DBD..?
3. Bagaimana pendapat kita, masalah potensial apa yang terjadi berdasarkan Grafik‐2 dan grafik‐3 diatas..? .
Walaupun dalam makalah ini tidak saya tampilkan bagaimana cara membacanya dan hasil interpretasinya tetapi ini adalah contoh penerapan survailans epidemiologi semoga Pembaca dapat mengetahui gambaran penggunaan survailans epidemiologi tersebut dapat dalam banyak tampilan dan untuk lebih jelasnya dapat belajar lebih lanjut melalui pelatihan Survailans Epidemiologi dan saya berharap pemerintah dan pengambil kebijakan dapat memfasilitasi pelatihan tersebut kepada petugas yang ditunjuk untuk menjadi Tim Survailan Epidemiologi.
Belajar dari berbagai kejadian dan contoh diatas tampak bahwa peranan survailans epidemiologi sangat menentukan dalam upaya memutuskan rantai penularan suatu penyakit, Survailans juga tidak harus memonitoring terhadap penyakit tertentu. Survailans faktor resiko tertentu, misalnya kualitas air atau kualitas udara, juga dapat dilakukan secara nasional. Hanya saja, dalam skala global survailans faktor risiko, kecuali air, tidak banyak upaya-upaya global untuk mengetahui kualitas lingkungan. Upaya kerjasama dalam hal kualitas udara, atau paremeter iklim seringkali di program melalui kerjasama di luar sektor kesehatan. Situasi ini menunjukkan bahwa peranan survailans epidemiologi serta jejaring, kemitraan dan kerjasama di antara kita semua sangat diperlukan, bukan hanya untuk melayani masyarakat tetapi juga untuk melindungi keluarga kita dan bahkan diri kita sendiri.

Strategi Aplikasi Survailans Epidemiologi
Kemampuan menyediakan data yang cepat,akurat, lengakap dan mudah merupakan harapan yang harus segera diwujudkan untuk menurunkan secara bermakna morbiditas dan mortalitas akibat endemic/epidemik penyakit menular maupun penyakit tidak menular sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya penyelenggaraan upaya kesehatan dalam mewujudkan tujuan mencapai Indonesia sehat 2015.
Dengan pendekatan program yang membutuhkan penguatan sistem survailan epidemiologi tersebut dalam rangka membangun sistem kesehatan yang berbasis desentralisasi dan pelayanan kesehatan yang berkualitas, antisipatif, responsif, proaktif, efisien dan efektif dengan perhatian pada kelompok masyarakat dan secara teknis menyentuh semua aspek dan unsur yang terlibat dalam survailans epidemiologi, maka dipastikan sistem pengamatan penyakit akan berjalan dengan baik dan berhasil guna.
Strategi yang perlu diambil dalam upaya penguatan system dalam menerapkan survailans epidemiologi ini adalah sebagai berikut:
1.Penemuan sebab ( cause fiding) kegagalan, risk factor dan kendala tehnis survailans epidemiologi secara analitis dan komprehensif
2.Menyediakan dan memfasilitasi forum komunikasi kajian epidemiologi melalui diskusi, seminar, lokakarya dan kegiatan lainnya yang bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional.
3.Memberikan konsultasi teknis dan pelatihan secara sitematis dan praktis dalam bidang penelitian, pelatihan, advokasi dan pembelajaran.
4.Membentuk jejaring komunikasi ( net working) dan pemantapan sistem informasi kesehatan dari dan ke seluruh tingkata administrasi manajemen pelayanan kesehatan.
5.Pemantapan fungsi Tim Epidemiologi Kabupaten/kota dan propinsi
6.Penerbitan media berkala bulletin epidemiologi
7.Menciptakan survailans yang memiliki harmonisasi dalam metodelogi dan defenisi kasus dengan standar operating procedures baku dengan sistem evaluasi dalam kendali mutu pelaksanannya
8.Survailans epidemiologi yang dilakukan harus berorientasi program bukan project oriented dan bersipat berkesinambungan serta pengambilan keputusannya harus dilakukan secara simultan atau terintegrasi
9.Pelaksanaan desseminasi dan publikasi data survailans dan informasi kesehatan harus berjalan semestinya agar tujuan desseminasi tercapai untuk menciptakan sistem desseminasi yang efektif
10.Advokacy kepada para pembuat keputusan pemerintah dan stekeholder terkait lainnya
11.Pemantapan manajemen kegiatan survailans.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan menyangkut pentingnya penyeleng-garaan pusat data penyakit dan informasi kesehatan:
a.Akses terhadap informasi cepat, dipercaya menyangkut penyakit dan kesehatan adalah hak rakyat (access to timely and reliable information on health and diseases is a citizen’s right) ini merupakan kunci dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan
b.Pengambilan keputusan yang rasional, penetapan prioritas menyangkut kesehatan masyarakat sangat membutuhkan informasi tepat waktu dan akurat
c.Penyediaan bahan obat/farmasi dilakukan berdasrkan data epidemiologi tidak dilakukan berupa kebutuhan pokok kontinyu.
Teknologi internet yang sekarang ini semamgkin baik, dan sistem teknologi yang semangkin lengkap dikemas dengan kemampuan manajemen yang teratur akan mampu menyediakan informasi pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan dokter, pasien dan masyarakat serta institusi pelayanan kesehatan lainnya sehingga dapat digunakan sebagai sarana survailans.
Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam penyelenggaraan sistem pelayanan kesehatan yang baik dan berguna bagi pencapaian Indonesia sehat 2015.
Kepuatakaan:
Seksi Ilmiah, 2004 : Strategi Pemantapan Aplikasi Survailns Epidemiologi Dalam Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesi Sehat 2010 pada Simposium Survailans Kesehatan Epi-Treat Unit Program Pascasarjana USU
Achmadi Fahmi Umar, 2008: Horison Baru Kesehatan Masyarakat Di Indonesia , Penerbit Rineka Cipta, Jakarta
Achmadi Fahmi Umar. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis, Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Intisari Epidemiologi. Jakarta; Mitra Cendikia press.
Bhisma Mukti, 2008: Survailans Kesehatan Masyarakat ,. Pdf

3 thoughts on “PENERAPAN SURVAILANS EPIDEMIOLOGI

    yusupesuy said:
    Januari 11, 2014 pukul 3:12 am

    gak ngerti apa yang dibaca. tapi tiba-tiba blog walking kesini.😀
    salam kenal saja deh ya mbak…. di tunggu kunjungan baliknya ya….
    kalo mbak salam sehati, …saya salam lestari,… !🙂

    http://mandalawangicibodas.wordpress.com/

      elviz06 responded:
      Januari 15, 2014 pukul 2:23 am

      Trims atas kunjungannya, apanya yang tidak dimengerti… salam kenal kembali saya dah berkunjung ke blognya kamu … bagus penuh dengan galeri dan kegiatan

        yusupesuy said:
        Januari 15, 2014 pukul 5:52 am

        iya bu terima kasih kembali,… di tunggu liburannya ya,…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s