Bulan: Maret 2011

MEMAHAMI BUTA WARNA

Posted on Updated on

Memahami Buta Warna

isi laman

Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor genetis.

Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki-laki dan wanita. Seorang wanita terdapat istilah ‘pembawa sifat’ hal ini menujukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tsb menderita buta warna.

Saraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut.
Beberapa lapis dibelakang permukaan retina terdapat kombinasi sel-sel batang dan sel krucut yang sangat berperan dalam fungsi penglihatan mata. Sel kerucut (kone) bersifat fotopik dan berperan disiang hari dan peka terhadap warna, sedangkan sel batang (Rod) adalah skopik, dan peka terhadap cahara dan menjadi parameter kepekaan retina terhadap adaptasi gelap-terang.

Pembuktian

Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran – lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna.

A. Klasifikasi buta warna :

Trikromasi
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:

* Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah
* Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita
* Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.

Dikromasi
Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang

* Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau
* Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.

Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

B. Penyebab Buta Warna
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.

C. Fakta-fakta tentang Buta Warna

* Buta warna lebih sering terjadi pada seseorang berjenis kelamin lelaki dibandingkan perempuan.
* Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu.
* Belum dapat dipastikan berkaitan jumlah penderita, akan tetapi sebuah penelitian menyebutkan sebesar 8 -12% lelaki Eropa adalah pengidap buta warna. Sementara persentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5 -1%. Tingkat buta warna di benua lain tentu bervariasi.
* Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan cacat mata. Bisa jadi seorang buta warna akan merasa tersiksa dengan keadaan ini. Sebagian perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerjanya harus tidak buta warna.
* Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna, dilakukan tes dengan menggunakan plat bernama Ishihara.
* Sering kali orang awam menganggap penyandang buta warna hanya mampu melihat warna hitam dan putih, seperti menonton film bisu hitam putih. Anggapan ini sebenarnya salah besar.
* Banteng ternyata buta warna. Kesan yang ditimbulkan warna merah mengakibatkan binatang tersebut melonjak emosinya, bukan akibat warna merah itu sendiri.
* Pada Perang Dunia II, serdadu yang buta warna dikirim untuk melakukan misi tertentu. Ketidakmampuan mereka untuk melihat warna hijau dialihfungsikan untuk mendeteksi adanya kamuflase yang dilakukan pihak lawan.
* Artis terkenal yang buta warna diantaranya adalah Mark Twain, Paul Newman, Meat Loaf, Bing Cosby, Bob Dole.
* Setiap orang terlahir buta warna saat pertama kali lahir.
* Emerson Moser, pembuat krayon senior, mengaku bahwa dirinya buta warna hijau-biru dan tidak mampu melihat warna secara keseluruhan.
* Penyandang buta warna selalu dihantui oleh pertanyaan “Warna apakah ini?”

Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran – lingkaran berwarna yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna.
Tes online… Dalam waktu 3 detik Gambar di bawah ada angka berapa?

wp-image-143″ />

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Jika kalian bisa membaca keseluruhan dari gambar diatas selamat anda tidak buta warna, tapi jika anda tidak dapat membaca salah satu atau semuanya, selamat bergabung dengan dunia Buta Warna

untuk mencoba dirumah dan mengetes keberadaan mata anda dari buta warna maka klik aja disini anda akan mendapatkan fasilitasuntuk test buta warna gatis ..okey selamat mencoba

KUTIPAN TENTANG FENOMENA HIV/AIDS

Posted on Updated on

Di seluruh dunia, para Odha (Orang dengan HIVAIDS) yang sembuh dari AIDS sudah sangat banyak jumlahnya. Kesembuhan mereka adalah bukti nyata bahwa AIDS bukanlah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Bahkan, mereka mendapatkan kesembuhan bukan karena obat-obatan kimia, tapi karena perbaikan nutrisi dan obat alami.

Namun, bertolak belakang dengan realita kesembuhan yang makin banyak di seluruh dunia, komunitas medis konvensional dan media massa umum, tetap saja memberitakan informasi bahwa AIDS merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan Odha berkewajiban untuk mengonsumsi ARV seumur hidup mereka.

Kali ini saya akan menguak sedikit rahasia tentang adanya mafia kesehatan kasus HIV/AIDS, dimana para mafia terus “mencuci otak” masyarakat dan praktisi medis untuk percaya bahwa AIDS tidak bisa disembuhkan dan satu-satunya obat yang bisa diandalkan HANYALAH ARV. Dengan kepercayaan seperti ini, mereka mendapatkan uang yang sangat banyak dari repeat order SEUMUR HIDUP para Odha, terlebih repeat order tersebut adalah dari seluruh dunia.

Jika banyak masyarakat dan praktisi medis tahu bahwa AIDS bisa disembuhkan dan obat alamilah satu-satunya pengobatan yang dapat diandalkan (bahkan tanpa efek samping), maka para mafia ini akan kehilangan pendapatan terbesarnya, karena masyarakat dunia stop menjadi “langganan setia mereka”.

KESAKSIAN PARA ODHA TANPA ARV

Pertama-tama saya akan bagikan sebagian kecil kesaksian para Odha tanpa ARV, yang menunjukkan bahwa mereka tidak perlu ARV dan hidup mereka bisa normal berkat perbaikan nutrisi serta obat alami. Kita simak dulu kesaksian dari para Odha luar negeri, kemudian para Odha Indonesia.

Norman Sartor, Kanada

Nama saya Norman Sartor. Saya dulu didiagnosa dengan gejala AIDS di bulan Desember 1995 dimana CD4 saya adalah 51. Pada saat itu tidak ada test viral load dan di bulan Februari 1996, saya mulai memakai AZT, satu-satunya perawatan resmi dari Health Canada. Kemudian selama Lebih dari 10 tahun, saya mendapat ARV yang meliputi AZT, 3TC, Saquinavir, Zerit, Norvir, Viracept, Sustiva, Fuzeon, Viread and Kaletra.
Celexa, Septra, Marinol, Bactrum, Losec, Teveten, Pariet, Crestor, Lipitor, Welbutrin, Prozac, Hydrochlorothiazide dan Lorazepam, diresepkan ke saya untuk mengatasi efek samping yang ada yaitu berat badan turun, sariawan, keringat dingin di malam hari, jamur kuku, lipoatrophy, ruam saraf, dan anemia. Gejala fisik dan psikologis lainnya juga muncul.

Dengan Fuzeon, saya selalu mendapat suntikan 2 kali sehari, dan sesudah 10 tahun memakai ARV dan obat untuk lipoatrophy, lemak tubuh saya bertambah. Berulang-ulang muncul gejala ISR seperti kulit merah, pembengkakan, dan kulit mengeras. Saya berpartisipasi dalam uji klinis di bulan May 2005 yang disponsori oleh Canadian Immunodeficiency Research Collaborative untuk mengevaluasi penggunaan alat suntik Biojector CO2 dibandingkan penggunaan jarum hypodermic standar. Lagi-lagi gejala ISR tetap muncul. Obat yang dipakai bersamaan dengan Fuzeon adalah Kaletra, Viread dan 3TC.

Setelah bertahun-tahun meneliti HIV/AIDS, nutrisi, dan satu dekade memakai ARV, pil-pil, serum, jarum suntik dan tembakan CO2, dan di atas semua itu, yaitu mengalami berbagai efek samping obat-obatan, kecuali kematian, saya pun akhirnya berhenti dari obat-obatan pada tanggal 16 Mei 2006. Mulai dari Agustus 2006 sampai dengan Januari 2007, terdapat penurunan 49% untuk viral load dan peningkatan 38% untuk sel CD4. Saat ini saya sudah lebih dari 1 tahun tanpa obat-obatan dan selama 1 tahun tersebut bisa menghemat $50.000 untuk biaya pengobatan karena hanya untuk Fuzeon saja bisa menghabiskan $2.650/bulan.

Saya pun beralih ke suplemen bulanan yaitu Selenium, NAC, Tryptophan dan L-Glutamine dengan biaya $100-$120. Hasil positif yang saya capai bukanlah suatu hal yang unik karena banyak Odha berhasil hidup normal tanpa obat-obatan.

Pengukuran viral load dan CD4, penandaan test darah yang digunakan untuk akses kesehatan dan penentuan terapi, tidak dirancang untuk orang yang sehat. Dalam 1 dekade memakai terapi ARV dan obat-obatan kimia lainnya, saya tidak dalam keadaan sehat. Saya mengalami tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi, fungsi hati yang tidak normal, serangan osteoarthritis, duodenitis, peripheral neuropathy, nocturia, lipoatrophy, serta hepatitis B yang berkembang ke grade 2. Sekarang kebanyakan efek samping telah mereda dan baru pertama kali ini selama 10 tahun, hati saya berfungsi dengan normal. (Setelah berhenti dari ARV dan obat-obatan kimia) hepatitis B saya sekarang jadi kondisi pre-existing dan tetap terkontrol dengan pola makan yang benar.

Ada banyak pendekatan yang lebih manusiawi dalam mengatasi HIV/AIDS dengan cara merawat kita dibandingkan merawat penyakitnya.

Terry, Florida

Ada dua tanggal penting dalam hidup saya yang pernah terjadi berhubungan HIV dan AIDS.

Musim semi (Mei), 2000 saya terdiagnosis positif HIV oleh Dept. Kesehatan di Florida. Segera saya mengatur janji temu dengan seorang Spesialis Penyakit Menular. Saya telah menjalani hidup selibat (tanpa seks) selama 5 tahun sesudah terdiagnosa positif HIV tapi ini saya lakukan atas rekomendasi dokter keluarga karena saya juga menderita Shingles (Herpes Zoster) yang sangat parah.

Dokter mengatakan bahwa saya akan meninggal dalam waktu 6 bulan jika saya tidak segera memulai pengobatan HAART. Jadi, tanpa tahu apa-apa dan karena percaya dengan ketetapan medis, saya pun menyetujui untuk memulai HAART.

Selama lebih dari tujuh setengah tahun kemudian, dengan penuh kepercayaan saya memakai HAART, setiap pagi dan sore, terus bervariasi dari satu kombinasi obat ke kombinasi obat lainnya. Beberapa dari mereka menyebabkan naiknya kadar kolesterol sehingga saya mengganti ke obat lainnya. Beberapa pengobatan yang sudah saya pakai lama adalah Combivir, Epiver, Sustiva, Viread, Trizivir, dan lain-lain.

Efek samping paling buruk yang pernah saya alami adalah kadar kolesterol tinggi, berkurangnya otot (otot saya sekarang sangat sedikit), masalah pencernaan dan perut kembung terus menerus, sembelit berkepanjangan, dan pipi yang “melorot” ke bawah. Saya mulai terlihat seperti hampir mati. Tapi dokter saya tidak akan mengakuinya. Saya juga kehilangan sebagian besar gigi saya selama tahun pertama perawatan medis… namun demikian viral load secara konsisten tak terdeteksi dan sel T saya naik dari biasanya <200 menjadi sekitar 500 dan terus tetap ke jumlah itu.

Singkat cerita, saya tidak menderita efek samping obat seburuk yang pernah dialami orang lain. Setidaknya saya tidak menderita diare. Saya terus melanjutkan kerja full time saya dan tidak pernah ijin kerja karena sakit selain mungkin karena flu sekali dalam setahun. Bagi orang lain, saya lebih terlihat sehat dibandingkan terlihat seperti orang yang sedang sekarat.

Di tahun 2007, saya menemukan buku Christine Maggiore, “Bagaimana Jika Apa yang Anda Tahu tentang HIV adalah Salah? (What if everything you knew about AIDS is wrong),” dan buku tersebut telah mengubah hidup saya. Saya segera membaca buku Peter Duesberg setebal 800 halaman lebih, “Penemuan HIV/AIDS (The Invention of HIV/AIDS)” dan di titik itu, tantangan terbesar saya adalah mengendalikan rasa jijik dan amarah saya (terhadap penipuan hoax AIDS). Saya tetap bergumul dengan semua itu setahun kemudian.

Selesai membaca buku Peter dan mencari-cari informasi lain yang ada, saya bicara dengan dokter saya, yang sudah diganti di akhir tahun 2006 berhubung dokter sebelumnya berhenti praktek. Dokter baru benar-benar sangat yakin dengan pandangan bahwa HIV menyebabkan AIDS dan obat HAART adalah obat luar biasa yang bisa menyelamatkan hidup kita. Well…, saya tahu bahwa saya tidak bisa terus membayar dokter dengan pikiran tertutup seperti itu, jadi saya “memecatnya”. Tanpa saya sendiri sadari saat itu, keputusan tersebut sangat memerdekakan… salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat seumur hidup saya.

Saat itu adalah akhir Juli 2007. Saya berhenti dari semua pengobatan HAART di hari pertama Agustus 2007. Saya juga berhenti mengecek viral load dan sel T saya, sama sekali berhenti bertemu dengan dokter saya di tahun ini, kecuali bertemu dokter gigi untuk check-up dan pembersihan, dll. Toh saya tidak merasa perlu. Jumat ini akan menjadi ulang tahun ke 57 saya… dan saya bermaksud untuk merayakannya dengan cara berbeda.

Saya harus mengatakan bahwa saya tidak percaya dengan teori HIV=AIDS… dan itulah dia… hanya sebuah teori…dan memiliki banyak “lubang” di dalamnya. Saya tidak takut dengan status HIV saya, walaupun saya masih diberi label positif HIV dan harus menyingkapkan fakta tersebut ke semua pasangan seksual saya supaya terlepas dari tuduhan “pembunuhan” karena tidak memberitahukan yang sebenarnya. Jadi, demikianlah status HIV saya akan “menghantui” seumur hidup saya kecuali atau sampai industri HIV/AIDS hancur. Kita hanya bisa berharap!

Saya belum pernah merasa begitu baik sebelumnya sejak melakukan pembersihan tubuh dari racun kimia di musim gugur tahun lalu. Saya jadi vegetarian sejak 1972, jadi saya mencoba untuk memiliki pola makan sehat dan mengonsumsi suplemen vitamin. Saya melanjutkan bekerja penuh waktu, memiliki usaha sendiri dan sangat sehat, bahagia serta sejahtera.

Saya mendukung siapapun yang terdiagnosa HIV untuk melakukan penelitian sendiri. Rasanya “dag dig dug” saat pertama melakukannya (penelitian sendiri)… dan memang demikian. Bagaimanapun juga, ada banyak website dengan informasi dan pengetahuan dasar yang akan membantu Anda membuat keputusan apakah akan melanjutkan pengobatan (HAART) atau tidak. Setiap orang harus membuat keputusan tersebut untuk dirinya sendiri… bukan karena saya, bukan karena dokter Anda atau bahkan keluarga Anda. Ini adalah tubuh Anda, hidup Anda. Bukan milik orang lain.

Dengan melakukan penelitian sendiri akan membantu Anda keluar dari rasa takut yang telah “melekat” dalam jiwa Anda dan akan membantu Anda untuk berpikir. Kami semua di sini akan mengatakan kepada Anda bahwa bukti-bukti begitu banyak dan kita telah ditipu untuk percaya paradigm “genocidal” mengerikan ini. Berpikirlah untuk diri sendiri.

Doa saya yang terbaik untuk Anda yang membaca kesaksian ini dan yang berada di situasi serupa (sebagai Odha).

Made, Bali

Dibulan September 2010, setelah mendapat informasi penyembuhan AIDS dari Healindonesia, saya mencoba terapi herbal dengan memakai jamu tetes. Tiga bulan sebelumnya dinyatakan positif HIV dengan gejala TBC dan mulai memakai ARV lewat 2 bulan sesudah pengobatan TBC. Mempertimbangkan dampak efek samping ARV, saya lebih memilih terapi herbal saja. Walaupun dengan diagnosa positif HIV dan TBC, kondisi fisik saya sendiri sebenarnya normal dan nafsu makan juga bagus. Saya sama sekali tidak memperlihatkan gejala-gejala seperti orang sakit pada umumnya.

Sampai sekarang, saya hanya rutin memakai herbal untuk menjaga kesehatan saya dan telah terbukti bahwa tanpa ARV saya baik-baik saja layaknya orang normal.

Dani, Tangerang

Pada saat saya datang ke Yasar Nurma di bulan Juni 2009, kondisi saya ada pembengkakan di leher, ketiak dan punggung belakang. Saya menderita cacar, tumbuh jerawat di wajah dan punggung, jamur di selangkangan, indikasi IMS. Hasil lab menunjukkan adanya Hepatitis C dan bronchitis. Badan saya sering lemas, merasakan nyeri sendi, sakit di dada, vertigo, diare dan gatal-gatal.

Saya harus akui dari awal terapi saya terlihat main-main sehingga terapi saya dihentikan oleh Praktisi Yasar Nurma. Saya mohon maaf atas sikap saya, herbal powder 2x sehari untuk 15 hari tidak pernah habis tepat waktu, apalagi saya menutupi hasil rongent paru yang saya beritahukan setelah 8 bulan terapi, dimana kondisi saya adalah stadium 2 dan berpikir masa bodoh dengan hasil lab.

Saya tidak mau terlihat berbeda atau membedakan diri diantara teman-teman saya jadi apapun yang mereka tawarkan selalu saya terima baik ajakan untuk nongkrong, narkoba, miras, nongkrong, begadang. Walaupun tidak selalu sering, tapi menghabiskan waktu sampai larut malam adalah kebiasaan saya.

Praktisi Yasar Nurma fokus terhadap Hepatitis C yang saya derita dimana angka reaktifnya adalah 38,82 dengan LED 52. Setelah 4 bulan terapi, di bulan Oktober 2009 saya test lab kembali dan ternyata hasil lab hepatitis C turun menjadi 2,095 dengan LED 9.

Lalu di bulan Pebruari 2010 setelah berhenti terapi dari Yasar Nurma, sesuai anjuran, sampai sekarang saya menggantian ARV dengan mengonsumsi antibiotik alami, suplemen garlic dan air ionisasi. Saya tidak lagi tergantung dengan hasil tes HIV dan CD4 dan berusaha melupakan karena Yang Maka Kuasa berkenan atas umur saya. Saya hanya ingin melepas ARV sebagai tempat bergantung seumur hidup.

Bobby, Maumere

Saya mulai terapi di Yasar Nurma Foundation bulan Maret 2010. Pada saat itu saya menderita jamur di mulut, nyeri ulu hati, sinusitis, pnuemonia, dan sakit kuning.

Karena gejala yang terjadi pada saya mirip dengan HIV dan dibantu dengan rekan farmasi, memulai terapi di Yasar Nurma dengan kondisi apa adanya. Saya di diagnosa lewat telpon dan sms, saya informasikan keluhan dan gejala yang terjadi, lalu pesan herbal kapsul isi 180 kapsul 3x sehari 2 kapsul untuk 1 bulan pemakaian.

Saya cukup beruntung karena walaupun di daerah terpencil, saat merasa sakit, saya dibantu dan dipantau oleh rekan farmasi disini. Yasar Nurma memberikan terapi food combaining sesuai dengan kondisi penyakit saya saat ini, mengajarkan saya apa yang harus dihindari dan apa yang boleh dikonsumsi.

Saya berpikir untuk mencoba dulu apa yang disarankan Yasar Nurma. Kalaupun misalnya penyakit saya tidak ada perubahan, toh otomatis saya tinggal hentikan pemesanan herbalnya. Namun untunglah, sampai sekarang saya pun masih terus mengonsumsi herbal tersebut karena ada proses pemulihan dan penyembuhan, dimana hal tersebut dipantau oleh rekan farmasi saya. Lagi pula saya ingin menghindari kemotrapi yang mahal dan tidak ada semacam itu di kampung kami.

Dengan mengenal pengobatan secara holistik, saya jadi tahu banyak macam tentang herbal terutama di daerah kami di pesisir, ada banyak jenis tanaman dan buah, yang awalnya kami tidak tahu khasiatnya, akhirnya dapat kami jadikan menu sehat kami disini. Kini saya terbebas dari kewajiban minum ARV karena semua kondisi sakit bisa diatasi dengan nutrisi dan herbal.

Ririn, Pontianak

Di bulan April 2009, saya mengikuti terapi di Yasar Nurma dengan kondisi ada pembengkakan di leher, ketiak dan punggung belakang, gastritis, dan difteri. Saya sering mengalami mual dan kram perut, serta vertigo.

Saya langsung ditangani oleh Praktisi akupresur untuk pemulihan dari pembengkakan simful limfa. Di hari ketiga pembengkakan tersebut sudah berangsur hilang, lalu saya bergegas kembali ke daerah dengan membawa obat herbal dalam bentuk powder yang harus habis dalam waktu 1 bulan.

Di bulan Agustus 2009 saya melakukan tes CD4 dan puji syukur hasilnya naik menjadi 258, sampai akhir terapi hingga sekarang saya tidak mengalami hal memberatkan atau mengkhawatirkan kesehatan saya. Saya terus beraktivitas dan berusaha untuk tidak mengingat masa lalu. Saya yakin dengan kondisi saya saat ini. Saya lupakan HIV, CD4 dan ARV yang selalu ditawari oleh teman kelompok. Dengan berpikir positif semua terasa tentram, tetap menjalankan aktivitas, mengelola usaha sendiri dan berdoa. Tak lupa berbagai enzim mineral, air ionisasi, suplemen kesehatan dan menu food combining jadi santapan sehari-hari dan orangtua pun senang dengan melihat bertambahnya berat badan saya. Amin.

JANGAN LAGI MEMAKAI “TIMBANGAN RUSAK” TEST HIV, CD4, DAN VIRAL LOAD

Ya betul, saya sebut ketiganya sebagai timbangan rusak karena test HIV, CD4, dan viral load tidak bisa mengukur dengan benar dan akurat akan kesehatan seseorang. Ketiganya tidak bisa dijadikan alat diagnosis maupun prognosis yang tepat karena memiliki banyak “kecacatan”.

Test HIV yang Tidak Akurat

Test ELISA dan Western Blot yang pada umumnya dipakai untuk mendiagnosa infeksi HIV hanya bisa mendeteksi interaksi antara protein dan antibodi yang DIPERKIRAKAN berhubungan dengan HIV. Keduanya TIDAK BISA mendeteksi HIV itu sendiri, begitu juga dengan jenis test HIV lainnya.

Semua test antibodi HIV sangat tidak akurat. Satu alasan bagi ketidakakuratan tersebut adalah berbagai jenis virus, bakteri, dan antigen lainnya dapat menyebabkan sistem imun untuk membuat antibodi yang juga bereaksi sama dengan HIV. Misal: ketika Anda sedang menderita atau baru saja sembuh dari flu, cacar, hepatitis, TBC, pneumonia, herpes, kanker, diare, dan lupus, hasil test HIV bisa keluar positif!

Banyak antibodi yang ditemukan di dalam tubuh orang-orang sehat dan normal dapat menyebabkan hasil yang positif pada test antibodi HIV. Produksi antibodi dalam tubuh manusia yang terjadi karena infeksi virus bisa tetap ada dalam tubuh selama bertahun-tahun walaupun sistem imun telah mengalahkan virus tersebut, dan bahkan bisa untuk seumur hidup antibodi tersebut tetap ada. Dengan demikian, orang-orang sehat yang tidak pernah terjangkit HIV bisa memiliki hasil test HIV yang positif secara konsisten selama bertahun-tahun atau bahkan untuk seumur hidup mereka.

Kehamilan juga bisa menimbulkan respon yang positif. Antibodi yang diproduksi tubuh sebagai reaksi perlawanan terhadap infeksi mycobacterium dan ragi yang terdapat pada 90% pasien AIDS, menimbulkan hasil test HIV positif yang salah . Di satu studi, 13% orang Indian Amazon yang tidak memiliki AIDS dan juga tidak pernah ada kontak dengan orang luar selain suku mereka sendiri ternyata juga bisa mendapatkan hasil test HIV positif. Di laporan lainnya, 50% sampel darah dari anjing-anjing yang sehat juga bereaksi positif pada test antibodi HIV.

Nah, jika Anda punya akses atau fasilitas test HIV, kenapa tidak “iseng” mencoba mengadakan test HIV ke 100 pasien di suatu rumahsakit atau tempat bersalin? Bisa jadi lebih dari 80% hasilnya positif HIV!

Informasi lebih lengkap tentang ketidakakuratan test HIV bisa Anda baca di artikel saya yang berjudul “Apakah Test HIV/AIDS Sekarang Ini Akurat?” di link:

http://aidsalternative.wordpress.com/2010/06/19/apakah-test-hivaids-sekarang-ini-akurat/

Orang Sehat juga Punya CD4 Rendah

Para Odha (Orang dengan HIV/AIDS) dan praktisi medis sering memakai hasil test CD4 untuk mengukur tingkat kesehatan penderita HIV/AIDS. Standar batas normal CD4 yang diakui adalah 400-1400. Jika di bawah 400, seorang Odha dinyatakan tidak sehat karena virus HIV mulai aktif menyerang. Terlebih lagi jika ada yang kadar CD4-nya di bawah 40, secara teori sudah sangat sakit dan dalam keadaan “bed rest”.

CD4 sebenarnya penanda bagi adanya kolesterol dan plak arteri, bukan penanda system imun. CD4 dan CD8 akan naik ketika kadar kolesterol naik. Pemberian nicotinamide (vitamin B3) bisa menurunkan CD4 karena nicotinamide bisa menetralkan kolesterol. Sel CD4 biasanya berkumpul di area yang ada plak arteri dan memberikan signal ke sel darah putih untuk datang dan melahap kolesterol.

Boleh dibilang, kadar kolesterol dalam darah Anda akan mempengaruhi jumlah sel T Anda. Sel T CD4 terlibat dalam hal perbaikan arteri. Jadi orang yang sehat CD4nya malah bisa rendah, sedangkan orang yang sakit CD4-nya bisa tinggi.

Jika Anda masih belum percaya dengan hal ini, kenapa tidak mencoba mengadakan test CD4 ke sekelompok orang sehat seperti misalnya para dokter, para pemuka agama, dan para olahragawan? Kenapa tidak menguji kebenaran tentang test CD4 ini ke 10 dokter yang secara fisik terlihat sehat, dengan berat badan ideal, tidak merokok, tidak minum alkohol dan juga sehat secara emosional? Kita lihat apakah CD4 mereka tinggi atau rendah?

Untuk informasi lebih lengkap tentang kesalahpahaman dalam test CD4, silahkan Anda baca artikel saya yang berjudul “Awas, Jangan Tertipu dengan Test CD4!” di link:

http://healindonesia.wordpress.com/2011/03/20/awas-jangan-tertipu-dengan-test-cd4/

Test Viral Load juga Tak Kalah Menyesatkan

PCR adalah suatu teknik inovatif yang membuat para ilmuwan bisa mengambil sampel darah yang mengandung sejumlah molekul DNA atau RNA yang tak terdeteksi dan mendeteksi kuantitas fragmen dari molekul aslinya. Majalah Forbes menjabarkan PCR sebagai “versi bioteknologi dari mesin photo copy Xerox.” Dr. Kary Mullis, yang memenangkan Penghargaan Nobel untuk penemuan yang revolusioner ini menjelaskan bahwa, “PCR memungkinkan kita untuk mengidentifikasi sebuah jarum dalam tumpukan jerami dengan cara mengubah jarum menjadi tumpukan jerami.” Sementara PCR telah menyediakan suatu alat baru yang efektif bagi dunia ilmu pengetahuan dan industri, penerapannya kepada penelitian AIDS malah justru menyesatkan ketimbang bermanfaat.

Ho dan para peneliti lainnya menerapkan PCR untuk mencari, bukan HIV, tapi fragmen RNA, yaitu materi genetik pada inti virus. Menggunakan logika bahwa tiap partikel virus HIV mengandung dua RNA HIV, mereka MENGASUMSIKAN bahwa tiap dua potongan RNA yang terindikasi oleh PCR pasti berhubungan dengan satu partikel virus HIV, dan mereka menyebut penghitungan dari hasil test tersebut sebagai “viral load”.

Masalah dengan viral load adalah bahwa PCR mendeteksi dan menggandakan gen tunggal, dan seringkali hanya fragmen dari suatu gen. Ketika ia mendeteksi 2 atau 3 fragmen genetika dari kemungkinan lusinan gen lengkap, ini bukanlah bukti adanya keberadaan semua gen atau genome lengkap (adanya partikel virus HIV lengkap). Lebih jauh lagi, seseorang dapat membawa segenap genome retroviral dalam sel-sel tubuh seumur hidup mereka tanpa menghasilkan satu virus sedikitpun.

CDC mengakui bahwa spesifitas dan sensitifitas dari PCR masih “belum diketahui” dan bahwa “PCR tidak direkomendasikan dan tidak terlisensi untuk tujuan diagnosis rutin.” Para pembuat test viral load memperingatkan bahwa “test ini tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai test penyaring untuk HIV atau sebagai test diagnosis untuk mengkonfirmasi keberadaan HIV…”

Walaupun tidak ada penelitian yang secara spesifik mempelajari test PCR pada orang-orang yang HIV negatif, literatur medis mencatat banyak insiden mendeteksi adanya level viral load pada orang-orang yang HIV negatif!

Satu group para peneliti AIDS dari Johns Hopkins School of Public Health menyayangkan atas ketidakakuratan viral load PCR dan mendeskripsikannya sebagai test yang tidak masuk akal dan mahal ketika beberapa peneliti memverifikasi PCR telah memberikan hasil yang berlawanan. Suatu laporan data dari penguji AIDS, Dr. David Rasnick, yang dipublikasikan dalam Journal of Biological Chemistry, mendemonstrasikan bahwa setidaknya 99.8% dari hasil pengukuran test viral menunjukkan partikel virus tidak berbahaya, dan menekankan bahwa PCR seharusnya diganti oleh suatu test yang bisa mengukur adanya HIV aktual dalam plasma darah.

Jadi boleh dikata, orang yang menderita penyakit UMUM (HIV negatif) bisa menunjukkan hasil nilai viral load yang tinggi, seperti misalnya flu, cacar, hepatitis, herpes, TBC, dan lain-lain. Bahkan virus umum yang TIDAK AKTIF pun bisa menghasilkan nilai viral load yang tinggi pula!

Cobalah menguji orang 10 atau 100 sakit akibat virus tapi HIV negatif dan lihat bagaimana hasil viral load mereka?!

Detail informasi tentang “penyesatan” test viral load ini bisa Anda baca dalam artikel saya berjudul “Mitos AIDS Sekitar Viral Load dan Sel T” di link:
http://aidsalternative.wordpress.com/2010/06/19/mitos-aids-sekitar-viral-load-dan-sel-t/

MALAPETAKA YANG DITIMBULKAN DARI 3 TIMBANGAN RUSAK

Setelah mengetahui kesalahan-kesalahan dari 3 timbangan rusak di atas, bisa dilihat apa saja malapetaka yang ditimbulkan ke praktisi medis, pasien dan masyarakat:

1. Orang yang sehat akan divonis positif HIV padahal ia hanya baru saja sembuh dari suatu penyakit UMUM atau bahkan sedang hamil.
2. Orang yang sakit UMUM akan divonis positif HIV.
3. Positif HIV yang salah menjadikan mereka korban obat-obatan kimia yang tidak dibutuhkan, terlebih lagi menderita kerugian non-materi berupa dikucilkan dari komunitas, perasaan bersalah berlebih, hancurnya kepercayaan diri, dan emosi negatif lainnya yang bisa dialami seumur hidup mereka.
4. Kewajiban mengonsumsi ARV seumur hidup menimbulkan berbagai efek samping yang membawa mereka jadi korban obat-obatan kimia lainnya untuk menutupi efek samping obat tersebut.
5. Praktisi medis konvensional yang tidak tahu tentang hal ini menjadi “boneka” untuk menarik banyak keuntungan bagi para mafia kesehatan. Mereka tanpa disadari, akhirnya melakukan tindakan malpraktek (tanpa sadar) dan membunuh banyak nyawa dengan “salah diagnosa” mereka.

Coba Anda bayangkan, berapa banyak uang yang didapat oleh para mafia kesehatan dari kasus HIV/AIDS ini? Bisnis yang didapat dari penjualan obat karena salah diagnosa dan menutupi efek samping, jika dikalikan dengan orderan SEUMUR HIDUP oleh SELURUH DUNIA, merupakan “uang segunung yang tidak bakal habis untuk 14 keturunan”!

Semoga artikel ini bisa menyelamatkan banyak nyawa, terutama para Odha. Bagi Anda yang beruntung mendapatkan informasi berharga ini, jangan lupa untuk menyebarkannya ke orang-orang yang Anda kenal. Siapa tahu, tindakan sederhana menyebarkan informasi ini bisa menyelamatkan seseorang yang sedang membutuhkannya.

dikutip dari: Healindonesia, Dt Awan (Andreas Hermawan)

Bakteri Enterobacter Sakazakii

Posted on Updated on

Apakah sebenarnya bakteri Enterobacter Sakazakii?

Enterobacter sakazakii adalah bakteri yang termasuk ke dalam keluarga Enterobacteriaceae. Keluarga enterobacter merupakan bakteri yang sering ditemukan pada usus hewan, manusia dan lingkungan. Bakteri sakazakii dapat menyebabkan wabah radang otak/meningitis dan diare/enteritis khususnya pada bayi.

Pada beberapa kejadian wabah dilaporkan, sebanyak 20 – 50% bayi yang terinfeksi sakazakii meninggal dunia sedangkan sisanya mengalami gangguan saraf menetap. Pada orang dewasa, infeksi sakazakii hanya menimbulkan gekala yang sifatnya ringan dan mudah disembuhkan.

Habitat alami Enterobacter sakazakii masih belum bisa dipastikan. Bakteri ini sering ditemukan pada usus manusia yang sehat, hewan dan lingkungan.

Pada dasarnya, bakteri sakazakii mengkontaminasi susu formula melalui tiga cara, yaitu :

1. Bahan baku yang digunakan untuk membuat susu formula.

2. Kontaminasi oleh bahan bahan yang ditambahkan ke susu formula setelah dilakukan pasteurisasi.

3. Kontaminasi pada saat susu formula disajikan ke bayi oleh ibunya dan proses penyimpanan sisa susu formula yang tidak bagus.

Bakteri sakazakii juga ditemukan pada jenis makanan lain namun hanya pada susu formula yang dilaporkan dapat menimbulkan wabah.

Enterobacter sakazakii dapat menimbulkan penyakit pada semua kelompok umur. Pada beberapa kasus yang dilaporkan, bayi usia dibawah setahun adalah yang paling berisiko terutama yang berumur dibawah 28 hari. Bayi prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah dan bayi yang mengalami gangguan sistem pertahanan tubuh juga memiliki risiko yang sama.

Para ahli mengharapkan ibu ibu yang memberikan bayinya susu formula untuk memahami fakta bahwa tidak ada satupun susu formula yang benar benar steril. Mereka diharapkan mampu menyajikan susu formula untuk bayinya dengan cara cara yang sesehat dan sebersih mungkin.

FAO/WHO Codex Alimentarius Commission telah memberikan standarisasi Internasional untuk produk makanan termasuk susu formula bayi. Mereka juga memberikan standar maksimal kandungan bakteri yang terdapat dalam susu formula termasuk untuk bakteri sakazakii. Jadi, secara internasional, adanya bakteri sakazakii pada susu formula masih diperbolehkan namun tidak boleh melebihi dari standar yang diberikan oleh WHO/FAO.

Sampai saat ini data mengenai kandungan bakteri sakazakii pada masing masing produk susu formula masih menjadi tanda tanya akibat tertutupnya industri susu dalam memberikan informasi.

Hal ini bisa dipahami mengapa pemerintah tidak berani mengumumkan susu yang ber-sakazakii sebab tidak menutup kemungkinan semua produk susu mengandung bakteri ini namun masih dalam batas yang diperbolehkan.

Tidak semua bakteri boleh ada pada susu formula. Bakteri salmonela yang pathogen misalnya. Bakteri salmonela tidak boleh ada satu pun dalam produk susu formula untuk bayi.

Fakta terkini menunjukan, tidak ada satupun bayi yang diberikan ASI ekslusif mengalami infeksi bakteri sakazakii. Jadi, agar bayi terhindari dari infeksi bakteri sakazakii, bayi harus diberikan ASI ekslusif selama enam bulan dan dilanjutkan sampai 2 tahun seperti rekomendasi WHO.

Oleh: ElviZ @Sehati

Kesehatan Masyarakat

Posted on Updated on

Kesehatan merupakan aset berharga untuk dapat memiliki kesehatan kita harus berupaya dan dapat memiliki kebiasaan hidup yang teratur sesuai dengan sistem keseimbangan. Bila hidup tidak memiliki keseimbangan maka akan terjadi keadaan yang menyimpang dan menimbulkan penyakit
Sesuai dengan konsep Gordon penyebab penyakit adalah ketidak seimbangan antara Host, Agent dan Envirotment

Pengertian tentang Kesehatan Masyarakat adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang dari sekumpulan orang-orang yang merasa bersama karena di ikat oleh kesamaan-kesamaan dalam hidup sehari-hari untuk dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sebagai aset negara kesehatan masyarakat akan mendukung kemajuan dan produktifitas suatu bangsa. Bangsa yang maju dan terpandang bila memiliki SDM yang handal dan dapat dibanggakan. SDM itu bersumber dari kekuatan dan kemandirian rakyat. Rakyat mandiri berasal dari masyarakat yang sehat. Masyarakat sehat, negara kuat dan maju. mari kita ciptakan masyarakat sehat sejahtera.
Status Kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor utama yaitu:
1. Lingkungan
2. Prilaku Masyarakat
3. Pelayanan kesehatan Masyarakat
4. Herediter

Karakteristik Manusia/Orang (Who)

Posted on Updated on

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan suatu masalah kesehatan tertentu yang ternyata banyak dialami dan diderita oleh kelompok umur tertentu, jenis kelamin tertentu saja, suku bangsa dengan etnik tertentu bahkan pekerjaan tertentu.

Hal ini menunjukkan dan memperjelas bahwa penyebaran suatu masalah kesehatan atau penyakit ternyata dipengaruhi oleh ciri-ciri yang dimiliki oleh manusia yang terkena serangan penyakit atau mengalami masalah kesehatan tersebut

Dengan diketahuinya penyebaran masalah kesehatan menurut ciri-ciri manusia ini, akan dapat dengan mudah kita mengetahui permasalahan lebih jelas, besarnya masalah yang kesemuanya akan diatasi sesuai dengan keterangan atau fakta akan data-data yang ditemukan sehubungan dengan karekteristik tersebut dan keterangan yang diperoleh tersebut akan dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi masalah kesehatan yang dimaksed.

Dalam bahasan epidemiologi, ciri-ciri manusia yang mempunyai penyebaran masalah kesehatan ini dapat dibedakan atas beberapa karakteristik yang diantaranya adalah:

  • Umur – Jenis Kelamin – Golongan Etnik – Status Gizi – Kehamilan – Paritas
  • Status Sosial Ekonomi Keluarga – Status Perkawinan – Pekerjaan – Pendidikan
  • Besarnya keluarga – Struktur Keluarga
  • Agama – Sosial Budaya dll

Oleh: ElviZ@Sehati

Tulisan terkait dapat anda cari di klik disini….

epid-infokes.blogspot.com/…/epidemiologideskriptif.html

Epidemiologi Deskriptif Pdf klik disini …..-Epidemiologi deskriptif

https://sites.google.com/site/kesbidmasy

Check out my Slide Show!

Posted on

MDGs Indonesia Menuju Masyarakat Sehat Sejahtera

Posted on Updated on

Masyarakat merupakan aset bagi suatu negara. Sebuah negara akan kuat dan maju bila dihuni dan didukung oleh masyarakat yang sehat dan produktif. Status kesehatan masyarakat sangat menentukan kemajuan dan perkembangan bangsa dan negara apapun itu tanpa ada tawar menawar. Kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan dalam membangun unsur manusia agar memiliki kualitas seperti yang diharapkan, mampu bersaing diera globalisasi ini yang penuh dengan tantangan saat ini maupun masa yang akan datang.
Menurut Menteri Kesehatan dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH Kesehatan merupakan unsur dominan dalam Millenium Development Goals(MDGs) dan Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani persetujuan tersebut harus konsisten tetap mencapai tujuan dari MDGs tersebut. Adapun Kesehatan menjadi dominan disebabkan karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan. Adapun kelima agenda tersebut adalah:
1. Agenda ke – 1 memberantas kemiskinan dan kelaparan.
2. Agenda ke – 4 menurunkan angka kematian anak.
3. Agenda ke – 5 meningkatkan kesehatan ibu
4. Agenda ke – 6 memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lainnya.
5. Agenda ke – 7 melestarikan lingkungan hidup
Sejalan dengan bergulirnya gerakan pencapaian tujuan MDGs tersebut ada berbagai strategi yang dijalankan oleh kementrian kesehatan dan sehubungan dengan pelaksanaan Agenda ke – 4 dan ke – 5 maka pada tahun 2011 mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) yaitu pemberian jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapatkan jaminan kesehatn untuk persalianan. Jaminan pelayanan yang diberikan mencakup: pemeriksaan kehamilan, pelayanan persalinan, pelayanan nifas, pelayanan KB, pelayanan neonatus dan promosi ASI.

LIMA STRATEGI OPERASIONAL TURUNKAN AKI
Kebijakan dan strategi pembangunan kesehatn dalam rangka penurunan AKI yang saat ini sedang dijalankan oleh kementrian kesehatan adalah: strategi untuk ” penguatan puskesmas dan jaringannya, penguatan manajemen program dan sistem rujukannya, meningkatkan peran serta masyarakat, kerjasama dan kemitraan, kegiatan akselerasi dan inovasi tahun 2011 dan penelitian dan pengenbangan inovasi yang terkoordinir.

Untuk mendukung pelaksanaan lima strategi yang telah dicanangkan oleh kementrian kesehatan ini maka kita sebagai institusi yang terkait langsung dalam hal ini Bidan maupun institusi pendidikan yang akan melahirkan para Bidan yang di harapkan berperan langsung tersebut harus dengan sungguh sungguh menjunjung tinggi tugas dan tanggung jawab tersebut dengan meletakkan landasan yang ikhlas dalam setiap tindakan.
Bagi para mahasiswa Kesehatan, perawat, bidan, dan dokter yang sedang menuntut ilmu dan sedang berjuang untuk menjadi profesional maka langkah sebaik-baiknya adalah dengan selalu berpegang teguh terhadap Niatan Hati yang baik dan positif agar dapat menjadi tenaga profesional pelaksana pelayanan kesehatan .
Bagi institusi pendidikan yang terkait dengan tenaga profesional pelaksana pelayanan kesehatan untuk mendukung pelaksanaan MDGs tersebut maka sudah menjadi tugas dan selayaknya dalam mengelola pendidikan hendaknya dapat memberikan pengalaman nyata dan sebaik-baiknya dengan pendekatan edukasi yang menerapkan praktek langsung…khususnya dibidang kemasyarakatan karena ujung dari pelayanan kesehatan tersebut muaranya adalah masyarakat itu sendiri.

Penatalaksanaan Hemodialisa

Gambar Posted on Updated on

Penatalaksanaan Hemodilisa
Fungsi utama dari ginjal adalah sebagai organ pembersih hemodialisadarah. Darah yang mengalir ke ginjal mengangkut bahan-bahan buangan/limbah hasil dari pembakaran dalam tubuh. Bahan ini dikeluarkan dari ginjal melalui proses filtrasi/penyaringan. Ginjal yang sehat akan mempunyai daya filtrasi 120 cc/menit.

Beberapa jenis penyakit dapat menurunkan fungsi ginjal, baik yang bersifat sementara maupun tetap. Penurunan fungsi ginjal hanya dapat ditolerir oleh tubuh sampai batas tertentu. Bila mana fungsi ginjal telah menurun sedemikian buruknya, maka disebut Gagal Ginjal Terminal (GGT).Gambaran proses bayi kuning

Apa yang akan terjadi jika fungsi ginjal telah mengalami gangguan? Kegagalan fungsi pembersihan akan mengakibatkan menumpuknya bahan-bahan buangan di dalam tubuh. Bahan ini sebagian besar berupa sampah nitrogen yang disebut toksin uremik. Menumpuknya toksin uremik mengakibatkan gejala keracunan yang disebut uremia. Gejala uremia ditandai dengan dengan mual, muntah, nafsu makan menurun, cegukan, gatal, lemas, gerakan tanpa disadari pada tungkai dan lengan serta bau nafas yang khas. Pada kasus-kasus yang berat dapat terjadi koma/penurunan kesadaran.

Menumpuknya air dalam tubuh akibat kegagalan dalam mengeluarkan cairan dari badan akan menyebabkan bengkak (edema) di seluruh badan, sesak nafas, tekanan darah tinggi dan gangguan fungsi jantung. Kondisi ini tidak bisa lagi diatasi dengan obat-obatan melainkan harus sudah menjalani cuci darah (hemodialisa) secara teratur atau menjalani tranplantasi ginjal/cangkok ginjal.

Cuci darah adalah proses pemisahan darah dari unsur-unsur yang tidak normal (racun) di dalam darah akibat terganggunya fungsi ginjal. Prinsip daripada cuci darah adalah penyeimbangan komposisi darah sehingga menjadi normal.

Hemodialisa mulai dilakukan bila kondisi yang disebabkan oleh tidak berfungsinya ginjal telah berada pada tingkat yang mengancam jiwa. Ancaman tersebut dapat berupa kelebihan air (edema) yang tidak bisa dikeluarkan tubuh oleh karena fungsi ginjal rusak. Sebagai akibatnya fungsi jantung dan paru akan menjadi terganggu. Tertimbunnya toksin/racun akan dapat mengganggu fungsi semua organ tubuh terutama otak. Sebagai akibatnya penderita mengalami mual-mual, muntah, koma dan kejang-kejang.
Beberapa parameter laboratorik yang sering digunakan sebagai patokan untuk dilakukan hemodialisa adalah kadar ureum >= 20 mg/dl atau kadar kreatinin >= 8 mg/dl atau kalium >7 meq/l yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Pada penderita gagal ginjal akibat penyakit kencing manis sebaiknya hemodialisa dilakukan lebih dini.

Pertanyaan yang seringkali muncul adalah berapa kali dan berapa lama saya sebaiknya menjalani hemodialisa? Pada prinsipnya, ginjal adalah bekerja terus menerus selama 24 jam sehingga semakin sering hemodialisa dilakukan pada dasarnya semakin baik. Namun, teknik hemodialisa membatasi orang untuk menjalani hemodialisa sepanjang hari. Pada GGT umumnya menjalani hemodialisa sebanyak 2-3 kali seminggu.

Diet
Diet pada gagal ginjal berguna untuk mengurangi gejala uremia, mencegah kurang gizi, dan menghambat pemburukan fungsi ginjal. Konsumsi protein harus dikurangi sekitar 2/3 dari normal, yakni 0,55 – 0,69 g/kgbb/hari, oleh karena pemecahan protein akan membebani ginjal. Protein lebih diutamakan adalah yang bersumbaer dari protein hewani.
Kebutuhan cairan (minum) disesuaikan dengan banyaknya air badan yang keluar. Secara praktis, jumlah cairan yang diminum (selama 24 jam) = jumlah air kencing (selama 24 jam) + 500 cc.

Penderita yang menjalani hemodialisa, umumnya dapat makan dengan bebas. Bila hemodialisa dilakukan dengan adekuat, akan menjamin nafsu makan yang optimal dari penderita, dan bebas dari rasa mual. Bila penderita tidak bisa buang air kencing atau buang air kencing sedikit sekali, minum penderita harus dibatasi. Penderita dianjurkan untuk tidak minum lebih dari 1 liter sehari.

Bila hemodialisa dilakukan dengan tidak adekuat (frekuensi hemodialisa kurang dari yang dianjurkan), penderita hendaknya mengatur makanannya dengan mengurangi protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe. Hendakya lebih mengutamakan protein hewani seperti daging, telur, susu. Makanan yang banyak mengandung kalium seperti pisang ambon atau air kelapa muda sedapat mungkin dihindari. Kadar Kalium yang tinggi dalam darah akan membahayakan jantung.

Keluhan menjalani hemodialisa
Seringkali penderita yang menjalani hemodialisa mengeluhkan rasa gatal. Sekitar 85% penderita mengeluh rasa gatal ringan sampai berat. Rasa gatal tersebut bisa disebabkan oleh penyakit ginjal itu sendiri, dapat pula oleh karena proses hemodialisa. Menumpuknya bahan buangan seperti nitrogen/mineral tertentu di kulit diyakini sebagai penyebab rasa gatal. Reaksi alergi terhadap benda asing selama proses hemodialisa dapat pula mengakibatkan rasa gatal.

Dengan cara berjemur di bawah sinar matahari pagi yang kaya akan sinar ultra violet dapat menurunkan keluhan rasa gatal. Untuk yang keluhan yang parah dapat dibantu dengan obat golongan anti histamin.

oleh :Sehat Cantik dan Bugar

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

Posted on Updated on

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

PENDAHULUAN
Istilah epidemiologi pada penyakit tidak menular(PTM) mempunyai kesamaan arti dengan:
1. Penyakit Kronik
Penyakit kronik dapat dipakai untuk PTM karena kelangsungan PTM biasanya bersifat kronik/menahun/lama namun ada juga yang sifatnya berlangsung mendandak/akut misalnya keracunan masyarakat jadi disebutkan Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :
* Akut
* Kronis
2. Penyaki Non Infeksi
Sebutan penyakit non infeksi dipakai karena penyebabnya PTM biasanya bukan mikro-organisme, namun bukan berarti tidak ada peranan mikro-organisme dalam terjadinya PTM, untuk itu dapat dilihat. Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
* Menular
* Tidak Menular
3. New Communicable Disease
Hal ini disebabkan PTM dianggap dapat menularka, yaitu melalui gaya hidup (life style). Gaya hidup dalam dunia moderen dapat menular dengan caranya sendiri, Gaya hidup di dalamnya dapat menyangkut pola makan, kehidupan sosial, kehidupan seksual dan komunikasi global
4. Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya.
* Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
* Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
5. Penyakit Degeneratif
Disebut juga sebagai penyakit degeneratif karena kejadiannya berkaitan dengan proses degenerasi/ketuaan sehingga PTM banyak ditemukan pada usia lanjut
6. Kepentingan :
* Penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat kronis sebagai penyebab kematian mulai menggeser kedudukan dari penyakit-penyakit infeksi
* Penyakit tidak menular mulai meningkat bersama dengan life-span (pola hidup) pada masyarakat.
* Life – span meningkat karena adanya perubahan-perubahan didalam : kondisi sosial ekonomi, kondisi hygiene sanitasi, meningkatnya ilmu pengetahuan, perubahan perilaku

PENYAKIT – PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
1. Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
* Ischaemic Heart Disease
* Cancer
* Cerebrovasculer Disease
* Chronic Obstructive Pulmonary
Disease
* Cirrhosis Hepatis
* Diabetes Melitus
2. Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah kesehatan tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu :
* Osteoporosis
* Penyakit Ginjal kronis
* Mental retardasi
* Epilepsi
* Lupus Erithematosus
* Collitis ulcerative
3. Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
* Defisiensi nutrisi
* Akloholisme
* Ketagihan obat
* Penyakit-penyakit mental
* Penyakit yang berhubungan
dengan lingkungan pekerjaan.

FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis belum ditemukan secara keseluruhan,
* Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
* Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
* Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti belum diketahui

2. Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan penyakit tidak menular yang bersifat kronis antara lain :
* Tembakau
* Alkohol
* Kolesterol
* Hipertensi
* Diet
* Obesitas
* Aktivitas
* Stress
* Pekerjaan
* Lingkungan masyarakat sekitar
* life style
* Sexual Behavior
* Obat-obatan

KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR
Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
1. Agent
a. Agent dapat berupa (non living agent) :
1) Kimiawi
2) Fisik
3) Mekanik
4) Psikis
b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui spesifikasi dari agent tersebut
d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda (dinyatakan dalam skala pathogenitas)
Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host
e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
1) Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
2) Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
3) Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif

2. Reservoir
a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.

3. Relasi Agent – Host
a. Fase Kontak
Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
1) Lamanya kontak
2) Dosis
3) Patogenitas
b. Fase Akumulasi pada jaringan
Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus
c. Fase Subklinis
Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
1) Jaringan yang terkena
2) Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
3) Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)
d. Fase Klinis
Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala dan tanda).

4. Karakteristik penyakit tidak menular :
a. Tidak ditularkan
b. Etiologi sering tidak jelas
c. Agent penyebab : non living agent
d. Durasi penyakit panjang (kronis)
e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.

5. Rute dari keterpaparan
Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

KEGUNAAN IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO
Dengan mengetahui faktor resiko dalam terjadinya penyakit maka dapat digunakan untuk:
1. Prediksi
untuk meramalkan kejadian penyakit misalnya perokok berat mempunyai resiko 10 kali lebih besar untuk terserang Ca Paru dari pada bukan perokok
2. Penyebab
Kejelasan dan beratnya suatu faktor resiko dapat ditetapkan sebagai penyebab suatu penyakit dengan syarat telah menghapuskan faktor-faktor pengganggu (Confounding Factors)
3. Diagnosos
Dapat membantu dalam menegagkan diagnosa
4. Prevensi
Jika suatu faktor resiko merupakan penyebab suatu penyakit tertentu, maka dapat diambil tindakan untuk pencegahan terjadinya penyakit tersebut.

USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
1. Usaha Preventif Primer
2. Usaha Preventif Sekunder
3. Usaha Preventif Tertier

PENDEKATAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)
Epidemiologi berusaha untuk mempelajari distribusi dan faktor-fotor yang mempengaruhi terjadinya PTM dalam masyarakat. Untuk itu diperlukan pendekatan metodologik, yaitu dengan melakukan berbagai penelitian.
Sebagaimana umumnya penelitian epidemiologi untuk PTM dikenal juga adanya penelitian observasional dan eksperimental. Hanya saja karena berlangsung lama, maka umumnya penelitian PTM merupakan penelitian observasional dengan jenis :
A. Penelitian Cross-Sectional
B. Penelitian Kasus Kontrol
C. Penelitian Kohort

PERHITUNGAN FREKUENSI PTM

Secara umum, dikenal 3 macam perhitungan frekuensi penyakit , yaitu:
1. Ratio
rumus jumlah orang sakit
—————–
jumlah orang sehat
2. Rate
rumus jlh org sakit ttt pd waktu ttt
—————————-
jlh pndd beresiko pd waktu tt
3. Proporsi
rumus jlh penderita penyakit ttt (X)
—————————
jlh pend peny tsb(X) + jlh
semua penderita (y)

Oleh: ElviZ@Sehati

lihat sehubungan dengan Artikel pada

Bayi Yang Me-Kuning (Ikterus Pada Bayi)

Posted on Updated on

Kondisi kuning pada bayi baru lahir, bisa mengenai mata, wajah atau bahkan sekujur tubuh. Hal ini dikenal dengan istilah bayi kuning atau ikterus neunatorum

Ikterus: (jaundice) adalah warna kekuningan pada kulit dan selaput mata.
Neonatorum: adalah bayi baru lahir.

Pada hari-hari pertama kerhidupannya , tidak sedikit bayi mengalami kuning (ikterus). Menurut penelitian , sekitar 70% bayi lahir mengalami kuning.

Anda mungkin pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri seorang bayi baru lahir berwarna kuning di sekujur kulit dan selaput matanya. Warna kuning dapat terlihat beberapa jam hingga beberapa hari setelah lahir. Kemunculannya tak jarang mengundang tanya, mengapa kulit si bayi berwarna kekuningan sementara bayi yang lain tidak? Apa penyebabnya ? Adakah yang salah ? Dan mungkin berbagai pertanyaan mengiringi kemunculan warna kuning pada kulit bayi baru lahir.

PENGERTIAN
Ikterus neonatorum (bayi baru lahir berwarna kuning) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karena adanya bilirubin (pigmen empedu) pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia).

ANGKA KEJADIAN
Warna kekuningan pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis).
Bayi berwarna kekuningan yang alamiah (fisiologis) atau bukan karena penyakit tertentu dapat terjadi pada 25% hingga 50% bayi baru lahir cukup bulan (masa kehamilan yang cukup), dan persentasenya lebih tinggi pada bayi prematur.Gambaran proses bayi kuning

Disebut alamiah (fisiologis) jika warna kekuningan muncul pada hari kedua atau keempat setelah kelahiran, dan berangsur menghilang (paling lama) setelah 10 hingga 14 hari.Ini terjadi karena fungsi hati belum sempurna (matang) dalam memproses sel darah merah.
Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah tidak melebihi batas yang membahayakan (ditetapkan).

PARAMATER
Ada beberapa batasan warna kekuningan pada bayi baru lahir untuk menilai proses alamiah (fisiologis), maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit (patologis), agar kita lebih mudah mengenalinya.

Secara garis besar, batasan kekuningan bayi baru kahir karena proses alamiah (fisiologis) adalah sebagai berikut:

Warna kekuningan nampak pada hari kedua sampai hari keempat.
Secara kasat mata, bayi nampak sehat
Warna kuning berangsur hilang setelah 10-14 hari.
Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah kurang dari 12 mg%.

Adapun warna kekuningan pada bayi baru lahir yang menggambarkan suatu penyakit (patologis), antara lain:

Warna kekuningan nampak pada bayi sebelum umur 36 jam.
Warna kekuningan cepat menyebar kesekujur tubuh bayi.
Warna kekuningan lebih lama menghilang, biasanya lebih dari 2 minggu.
Adakalanya disertai dengan kulit memucat (anemia).
Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah lebih dari 12 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada bayi prematur.

Jika ada tanda-tanda seperti di atas (patologis), bayi kurang aktif, misalnya kurang menyusu, maka sebaiknya segera periksa ke dokter terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Disamping itu, beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi, antara lain:

Infeksi yang berat.
Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase(G 6 PD).
Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin
Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan).

APA PENYEBAB BAYI KUNING?
Pada saat di dalam rahim, bayi membutuhkan ekstra sel darah merah yang diproses oleh hati. Tetapi hati bayi baru lahir biasanya belum mencapai maturasi, sehingga kapasitas pengolahannya belum efisien. karena, terjadinya peningkatan kadar bilirubin, sehingga bayi tampak kuning

Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana warna kekuningan dapat terjadi, baik pada proses alamiah (fisiologis) maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit?
Pada dasarnya warna kekuningan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:
Proses pemecahan sel darah merah (eritrosit) yang berlebihan.
Gangguan proses transportasi pigmen empedu (bilirubin).
Gangguan proses penggabungan (konjugasi) pigmen empedu (bilirubin) dengan protein.
Gangguan proses pengeluaran pigmen empedu (bilirubin) bersama air.

Gangguan pada proses di atas (dan proses lain yang lebih rumit) menyebabkan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah meningkat, akibatnya kulit bayi nampak kekuningan.

PENGOBATAN
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan karena proses alami (fisiologis), tidak berbahaya dan tidak diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.
Cara lain adalah upaya mencegah peningkatan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah. Hal ini dapat dilakukan dengan:

Meningkatkan kemampuan kinerja enzim yang terlibat dalam pengolahan pigmen empedu (bilirubin).
Mengupayakan perubahan pigmen empedu (bilirubin) tidak larut dalam air menjadi larut dalam air, agar memudahkan proses pengeluaran (ekskresi), dengan cara pengobatan sinar (foto terapi).
Membuang pigmen empedu (bilirubin) dengan cara transfusi tukar.
Perlu diketahui, Jika anda memberikan ASI ekslusif, maka kuning pada bayi akan berlangsung lebih lama. Meski demikian ibu tidak perlu cemas dan tetap meneruskan pemberian ASI pada bayi:

Ada beberapa Tip yang harus menjadi pusat perhatian ibu yang baru memeiliki bayi dalam menghindari bayi kuning yaitu:
1. Patuhi jadwal untuk berkunjung ke dokter atau bidan. Bila kadar bilirubin tidk terlalu tinggi (<10mg%), umumnya bayi diperkenankan untuk pulang kerumah. Bila 3 hari setelah kepulangan kerumah, bayi diminta kembali ke dokter atau rumah bersalin untuk kontrol kadar bilirubin. Maksudnya bila terjadi peningkatan bilirubin yang tinggi dapat segera dilakukan tindakan.
2. Cermati kondisi bayi. Jika ada tanda-tanda bayi tidak aktif seperti tidur terus dan malas menyusu segeralah kerumah sakit. Hal ini dapat dijadikan indikator bahwa telah terjadi peningkatan kadar bilirubin yang beresiko memicu kejang pada bayi. Cara lainnya yang termudah untuk mengamati peningkatan bilirubin adalah melalui bola mata dan kulit bayi yang terlihat kuning
3. Berikan ASI sebanyak mungkin. Banyak minum ASI dapat membantu menurunkan kadar bilirubin, karena bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine dan kotoran bayi
4. Jemur bayi di matahari pagi. Menjemur bayi tanpa busana dibawah sinar matahari pagi antara pukul 07.30 – 08.30 dapat membantu memecahkan bilirubin dalam darah. Lindungi mata bayi dari sorotan sinar matahari secara langsung.

ANJURAN
Apapun jenisya, jika pembaca mendapati bayi kuning, sebaiknya konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak.
Meski disebutkan bahwa bayi kuning sebagian besar diantaranya karena proses alami (fisiologis) dan tidak perlu pengobatan, seyogyanya para orang tua tetap waspada, mengingat bayi masih dalam proses tumbuh kembang. Karenanya, konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak adalah langkah bijaksana.