Bulan: Februari 2011

DETEKSI DINI KANKER PAYU DARA

Sampingan Posted on Updated on

Kanker payudara saat ini menduduki peringkat kedua terbanyak pada wanita setelah kanker leher rahim. Namun, diproyeksikan bahwa kanker payudara ini akan menempati tempat teratas di masa mendatang jika tidak segera dilakukan langkah-langkah antisipasi.
Penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor diduga sebagai penyebabnya seperti mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak hewani, virus, serta pemakaian hormon estrogen dosis tinggi. Namun yang jelas, setiap wanita memiliki gen yang bisa mempengaruhi atau membawa penyakit ini (genetic susceptibility). Kalau gen ini terangsang, maka bisa bermutasi dan menyimpang, kemudian jadilah kanker.
Siapa yang beresiko terkena kanker payudara?
Bila dulu kanker payudara hanya dialami ibu-ibu usia diatas 40 tahun, maka kini telah terjadi pergeseran. Dari hasil penelitian, wanita berusia dibawah 40 tahun pun dikatakan mulai beresiko terkena. Selain itu yang mempunyai resiko tinggi adalah yang mempunyai riwayat keluarga penderita kanker payudara. Wanita yang tidak mempunyai anak atau yang mepunyai anak pertama setelah berusia diatas 40 tahun potensial untuk menderita kanker payudara. Ibu-ibu yang tidak menyusui anaknya atau yang masa menyusuinya sangat singkat rentan terhadap kanker ini.

Bagaimana tanda-tanda kanker payudara?
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti benjolan yang tidak terasa sakit di payudara. Puting susu yang berdarah atau pengeluaran cairan yang tidak wajar. Kulit payudara berubah menjadi bengkak, berkerut seperti kulit jeruk.

Deteksi dini
Termografi payudara, adalah metode deteksi kanker payudara yang sudah ada sejak sekitar 1960-an, menggunakan scanner pemantau panas untuk mendeteksi variasi panas badan dijaringan payudara. Namun, scanner infra merah di tahun-tahun tersebut kurang begitu sensitif. Hari ini, termografi payudara yang lebih modern telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dibandingkan sebelumnya.

Kanker payudara merupakan kanker paling ganas kedua bagi kaum wanita di Amerika Serikat. Berdasarkan laporan terbaru Cancer.org , Data Kanker Payudara 2007-2008, di tahun 2007 telah ada 178.000 kasus kanker payudara baru dan lebih dari 40.000 wanita meninggal oleh karenanya.

Tapi yang perlu diwaspadai adalah pria tidaklah kebal terhadap kanker payudara. Telah didapati lebih dari 2.000 pria terdiagnosa kanker payudara di tahun 2007 dan kira-kira 450 pria meninggal dunia karenanya. Oleh karena deteksi kanker payudara bagi pria hampir tidak pernah dilakukan, sepertinya ini membuat pria terdiagnosa dengan stadium yang lebih berat dan dengan demikian tingkat selamatnya kecil.

Sungguh disayangkan, dalam hal ini medis konvensional tetap saja memakai metode lama dalam mendeteksi dan merawat kanker, tidak peduli betapa kurang efektifnya metode tersebut.
Skrining termografi sangatlah sederhana. Ia mengukur panas radiasi infra merah dari tubuh Anda dan menerjemahkan informasi ini ke dalam bentuk gambar. Sirkulasi darah Anda yang normal berada dalam kendali sistem syaraf autonomik yang mengatur fungsi tubuh Anda.

Termografi tidak memakai peralatan mekanik yang menekan atau radiasi ionisasi, dan dapat mendeteksi tanda-tanda kanker payudara sebelum ia berkembang 10 tahun lebih awal dibandingkan mammografi atau pemeriksaan fisik!
Ia bahkan bisa mendeteksi potensi adanya kanker sebelum satu pun tumor terbentuk karena ia dapat menggambarkan tahapan awal angiogenesis, yaitu formasi suatu penyaluran langsung darah ke sel kanker, yang merupakan langkah penting sebelum formasi tersebut berkembang tumbuh menjadi seukuran tumor.

Banyak pria akan diselamatkan nyawanya dengan metode ini karena mamografi tidak secara teratur diterapkan atas pria.

Faktor Resiko Lainnya yang Biasanya Diabaikan dan Bagaimana Anda Menghindarinya

Kepadatan payudara dan tingkat sirkulasi hormon seks yang tinggi adalah dua faktor resiko kanker payudara yang umum ditemukan pada wanita dalam tahap pasca menopause. Suatu penelitian di tahun 2007 yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute mengkonfirmasikan bahwa walaupun kedua faktor tersebut biasanya muncul bersamaan, mereka juga faktor resiko yang independen.

Para peneliti menemukan bahwa (sesudah mengendalikan faktor lainnya) ketika kepadatan payudara tidak diperhitungkan, para wanita dengan jumlah sirkulasi hormon seks yang tinggi, memiliki resiko berkembangnya kanker payudara dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang sirkulasi hormon seksnya rendah. Dan para wanita yang memiliki kepadatan payudara seperempat lebih tinggi, memiliki resiko empat kali lebih besar dibandingkan yang rendah, tanpa memperhitungkan tingkat hormon seks.

Para wanita dengan kedua faktor yaitu hormon seks yang tinggi dan payudara yang paling padat memiliki resiko enam kali lebih besar terkena kanker payudara.

Para pengemuka dalam penelitian ini menekankan akan pentingnya skrining dan mungkin, yang terpenting adalah mempertahankan berat badan seimbang untuk menjaga tingkat hormon tetap baik. American Cancer Society mengakui bahwa obesitas sangat berpengaruh terhadap beberapa kematian akibat kanker.

Untuk saat ini deteksi dini kanker payudara yang banyak digunakan adalah dengan mammografi. Mammografi adalah pemeriksaan radiodiagnostik khusus dengan mempergunakan tehnik foto jaringan lunak pada payudara karena memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi yaitu sekitar 80-90%.
Rekomendasi dari American Cancer Society bahwa wanita umur 20 tahun keatas harus sudah melakukan


SADARI (pemeriksaan payudara oleh wanita itu sendiri) secara teratur dan benar. Meski penggunaan SADARI dalam program deteksi dini masih belum efektif, namun cara ini murah, aman, sederhana, tidak menimbulkan rasa sakit serta dapat diulang. Dari pemeriksaan tersebut harus diwaspadai bila ditemukan benjolan di payudara. Sebaiknya SADARI dilakukan secara rutin sebulan sekali seminggu setelah menstruasi. Toh pemeriksaan ini paling banyak menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Dengan SADARI yang rutin diharapkan kelainan segera ditemukan oleh bersangkutan. Segera periksakan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut jika ditemukan kelainan.

SADARI
Berikut langkah-langkah untuk melakukan Sadari.

Langkah 1.
Berdiri bertelanjang dada di depan cermin. Mula-mula berdiri tegak dengan kedua lengan santai disamping badan. Perhatikan perubahan bentuk dan besarnya payudara, puting susu serta kulit payudara. Kulit payudara yang berubah bentuk menjadi bengkak, berkerut serta ada lekukan seperti kulit jeruk ataupun puting susu yang tertarik ke dalam payudara merupakan tanda dari kanker. Setelah itu ganti posisi berturut-turut posisi bertolak pinggang dengan kedua tangan ditekan kuat diatas pinggul, posisi dengan mengangkat tangan lurus ke atas kepala dan posisi membungkukkan badan. Lakukan hal yang sama seperti diatas.

Langkah 2.
Dengan posisi berbaring terlentang, letakkan bantal kecil dibawah bahu kanan. Letakkan lengan kanan atas disamping kepala. Gunakan tangan kiri untuk melakukan perabaan payudara sebelah kanan. Dengan meratakan jari-jari, mula-mula periksa lipatan lengan. Kemudian mulai dari batas luar payudara rasakan seluruh payudara dengan lingkaran-lingkaran kecil. Diibaratkan payudara sebagai permukaan jam dinding, lakukan perabaan secara melingkar jam demi jam searah dengan jarum jam sampai berakhir pada puting susu. Kurang lebih diperlukan 8-10 putaran untuk mendapatkan perabaan yang lengkap. Saat perabaan perhatikan benjolan atau penebalan. Umumnya benjolan kanker payudara tidak terasa sakit.

Langkah 3.
Setelah melakukan perabaan perlahan-lahan puting susu diperas dan perhatikan apakah ada darah atau cairan yang keluar. Puting susu yang berdarah atau mengeluarkan cairan yang tidak wajar kemungkinan karena kanker. Ulangi hal yang sama untuk payudara sebelah kiri.
Bila terdapat satu tanda seperti diterangkan diatas, segera periksa ke dokter. Jangan panik, sebagian besar benjolan di payudara adalah bukan kanker. Umumnya benjolan bersifat jinak seperti lipoma, fibro adenoma mamma. Tetapi bila ternyata kanker, temukan sedini mungkin dan dengan mengobati seawal mungkin maka kemungkinan besar bisa sembuh totaL
Dikutif dari Info Kesehatan http://infosehatbugar.blogspot.com

PENATALAKSANAAN PENYAKIT DBD

Posted on Updated on

1. Penatalaksanaan Demam Berdarah (DBD) Pada Beberapa Derajat
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan yang terjadi. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi diperlukan perawatan intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD dengan baik, diperlukan dokter dan perawat yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, cairan kristaloid dan koloid, serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Diagnosis dini dan memberikan nasehat untuk segera dirawat bila terdapat tanda syok, merupakan hal yang penting untuk mengurangi angka kematian. Di pihak lain, perjalanan penyakit DBD sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong. Kunci keberhasilan tatalaksana DBD/SSD terletak pada ketrampilan para dokter untuk dapat mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase kritis, fase syok) dengan baik.

A. Demam Dengue (DD)

Pasien DD dapat berobat jalan dan tidak perlu dirawat. Pada fase demam pasien dianjurkan :
1. Tirah baring, selama masih demam.
2. Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan. Untuk menurunkan suhu menjadi 38,5oC.
3. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-manarus, sebaiknya berikan infus NaCl 0,9 % : Dekstrosa 5 % (1:3). Pasang tetesan rumatan sesuai dengan berat badan.
4. Periksa Hb, Ht dan trombosit tiap 6-12 jam. Apabila telah terjadi perbaikan klinis dan laboratoris, pasien dapat dipulangkan, namun bila kadar Ht meningkat dan trombosit cendrung menurun maka infus cairan ditukar dengan Ringer Laktat (RL) dan lanjutkan dengan penetalaksanaan DBD Derajat II dengan peningkatan hemokonsentrasi > 20%.
makalah demam berdarah

b. DBD Derajat II dengan Peningkatan Hemokonsentrasi > 20% :
1. Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid Ringer Laktat/Ringer Asetat/NaCl 0,9% atau Dekstrosa 5% dalam RL/NaCl 0,9% 6-7ml/KgBB/jam. Monitor tanda vital, kadar Ht dan trombosit tiap 6 jam.
2. Apabila selama observasi keadaan umum membaik, tekanan darah dan nadi stabil, diuresis cukup, Ht cendrung menurun minimal dalam 2X pemeriksaan berturut-turut maka tetesan dukurangi mejadi 5ml/KgBB/jam. Bila dalam observasi selanjutnya tetap stabil kurangi tetesan menjadi 3ml/KgBB/jam, kemudian evaluasi 12-24 jam bila stabil dalam 24-48 jam cairan dihentikan.
3. Sepertiga kasus jatuh dalam keadaan syok, bila keadaan klinis tidak ada perbaikan, gelisah, nafas dan nadi cepat, diuresis kurang dan Ht meningkat maka naikkan tetes menjadi 10ml/kgBB/jam. Bila dalam 12 jam belum ada perbaikan klinis naikkan menjadi 15ml/KgBB/jam dan evaluasi 12jam lagi. Apabila nafas lebih cepat, Ht naik dan tekanan nadi 20mmHg, nadi kuat, kurangi tetesan jadi 10ml/KgBB/jam. Pertahankan sampai 24 jam atau klinis membaik dan Ht turun 1ml/KgBB/jam dan pemeriksaan Ht dan trombosit 4-6 jam sampai keadaan membaik.

* Bila syok belum teratasi dan Ht belum turun (Ht>40%), berikan darah dalam volume kecil 10ml/KgBB. Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah segar 20ml/KgBB dan lanjutkan cairan kristaloid 10ml/KgBB/jam.

Kreteria Memulangkan Pasien Pasien, dapat dipulang apabila memenuhi semua keadaan dibawah ini :

* Tampak perbaikan secara klinis
* Tidak demam selaina 24 jam tanpa antipiretik
* Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis)
* Hematokrit stabil
* Jumlah trombosit cenderung naik > 50.000/pl
* Tiga hari setelah syok teratasi
* Nafsu makan membaik

2. PROGNOSIS DBD
Prognosis DBD berdasarkan kesuksesan dalam tetapi dan penetalaksanaan yang dilakukan. Terapi yang tepat dan cepat akan memberikan hasil yang optimal. Penatalaksanaan yang terlambat akan menyebabkan komplikasi dan penatalaksanaan yang tidak tapat dan adekuat akan memperburuk keadaan.

Kematian karena demam dengue hampir tidak ada. Pada DBD/SSD mortalitasnya cukup tinggi. Penelitian pada orang dewasa di Surabaya, Semarang, dan Jakarta menunjukkan bahwa prognosis dan perjalanan penyakit umumnya lebih ringan pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak.

DBD Derajat I dan II akan memberikan prognosis yang baik, penatalaksanaan yang cepat, tepat akan menentukan prognosis. Umumnya DBD Derajat I dan II tidak menyebabkan komplikasi sehingga dapat sembuh sempurna.

DBD derajat III dan IV merupakan derajat sindrom syok dengue dimana pasien jatuh kedalam keadaan syok dengan atau tanpa penurunan kesadaran. Prognosis sesuai penetalaksanaan yang diberikan Dubia at bonam.

3. RUJUKAN PENYAKIT DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
Peraturan dan Perundangan yang tercantum dalam buku “Good Medical Practice” yang diterbitkan oleh “Medical Practisioner Board of Victoria”

Perawatan Klinik yang Baik
Penatalaksanaan dalam kegawatdaruratan
Dalam keadaan gawat darurat, dimanapun terjadi, seorang dokter harus mencari orang yang dapat membantunya dalam memberikan pertolongan sesuai dengan prosedur.

Delegasi dan Rujukan
Delegasi meliputi permintaan kepada perawat, dokter, dokter muda atau praktisi kesehatan lainnya untuk memberikan penatalaksanaan atas perkenan dokter. Saat mendelegasikan penanganan/ penatalaksanaan, dokter harus memastikan bahwa orang yang menerima delegasi tersebut memiliki kompetensi untuk menjalankan prosedur/ memberikan terapi. Dokter harus selalu memantau informasi terbaru mengenai pasien dan penatalaksanaan yang diberikan. Apapun yang terjadi, dokter tersebut harus bertanggung jawab akan keseluruhan penatalaksanaan yang diberikan.

Rujukan meliputi transfer sebagian atau seluruh tanggung jawab penanganan pasien, biasanya bersifat sementara atau untuk tujuan tertentu misalnya pemeriksaan tambahan, penanganan atau penatalaksanaan yang berada diluar kompetensinya. Biasanya seorang dokter akan merujuk pada dokter lainnya yang lebih berkompetensi.

Kerjasama Dokter dengan Sejawat
Merujuk pasien. Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harus me¬rujuk pasien pada sejawat lain untuk mendapatkan saran, pemerik¬saan atau tindakan lanjutan. Bagi dokter yang menerima rujukan, sesuai dengan etika profesi, wajib menjawab/memberikan advis tindakan akan terapi dan mengembalikannya kepada dokter yang merujuk. Dalam keadaan tertentu dokter penerima rujukan dapat melakukan tindakan atau perawatan lanjutan dengan persetujuan dokter yang merujuk dan pasien. Setelah selesai perawatan dokter rujukan mengirim kembali kepada dokter yang merujuk.

Pada pasien rawat inap, sejak awal pengambilan kesimpulan sementara, dokter dapat menyampaikan kepada pasien kemungkinan untuk dirujuk kepada sejawat lain karena alasan kompetensi. Rujukan dimaksud dapat bersifat advis, rawat bersama atau alih rawat. Pada saat meminta persetujuan pasien untuk dirujuk, dokter harus memberi penjelasan tentang alasan, tujuan dan konsekuensi rujukan termasuk biaya, seluruh usaha ditujukan untuk kepentingan pasien. Pasien berhak memilih dokter rujukan, dan dalam rawat bersama harus ditetapkan dokter penanggung jawab utama. Dokter yang merujuk dan dokter penerima rujukan, harus mengungkapkan segala informasi tentang kondisi pasien yang relevan dan disampaikan secara tertulis serta bersifat rahasia.

Jika dokter memberi pengobatan dan nasihat kepada seorang pasien yang diketahui sedang dalam perawatan dokter lain, maka dokter yang memeriksa harus menginformasikan kepada dokter pasien tersebut tentang hasil pemeriksaan, pengobatan, dan tindakan penting lainnya demi kepentingan pasien.

Pengamanan pasien dengan kegawatdaruratan apapun penyebabnya prinsipnya tetap sama bahwa pasien harus emdapat pertolongan dengan tepat dan segera. Bicara soal penanganan yang tepat dan segera hal ini sangat berhubungan dengan tim medis yang terampil dan terlatih dan sarana-prasarana yang mendukung. Oleh karena itu upaya-upaya untuk meningkatkan tim medis yang terampil serta saran dan prasarna yang memadai harus didukung penuh.

4. KEGAWATDARURATAN DI BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

* Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
* Gangguan keseimbangan asam basa
* Koma
* Syok
* Renjatan anafilaktik
* Sindroma termal dan sengatan listrik
* Sengatan binatang berbisa.
* Intiksikasi obat-obatan, bahan kimia dan makanan
* Perdarahan varises esofagus
* Sindrom syok dengue
* Kegawatan pada gagal ginjal
* Krisis hipertensi
* Krisis hipertiroid.

Kejadian Luar Biasa

Posted on Updated on

Pengertian Kejadian Luar Biasa
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa merebaknya suatu wabah penyakit.

Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
* Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
* Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
* Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
* Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

Untuk membaca Artikel terkait dengan Kejadian Luar Biasa Lain yang saya tampilkan di Elvi Zuliani Sehati klik http:elvizulianisehati.blogspot.com